Berita

Aksi mahasiswa Jabar-Banten di Senayan/Ist

Politik

25 Tahun Reformasi, Mahasiswa Jabar-Banten Tuntut Presiden dan DPR Tunduk Konstitusi

MINGGU, 21 MEI 2023 | 14:36 WIB | LAPORAN: JAMALUDIN AKMAL

Peringati 25 tahun reformasi, mahasiswa Jawa Barat-Banten menggelar unjuk rasa di depan Gedung DPR/MPR RI, Senayan, Jakarta, Minggu (21/5). Aksi tersebut dilakukan sebagai bentuk kekecewaan terhadap reformasi yang gagal membawa perubahan terhadap Indonesia yang menjadi lebih baik.

Mahasiswa Jabar-Banten menilai bahwa cita-cita reformasi untuk memberantas korupsi dan pengkonsolidasian demokrasi yang substansial tidak diwujudkan dengan sungguh-sungguh.

Hal itu menurut mahasiswa Jabar-Banten, terbukti dari kohabitasi antara konglomerasi dan politisi di era orde baru yang masih bertahan dalam kekuasaan hingga hari ini, pemilu yang sarat politik klientelisme, kegagalan partai politik menjalankan fungsinya di tengah masyarakat, hingga upaya-upaya pelemahan terhadap civil society.


"Permasalahan-permasalahan tersebut mengakibatkan banyaknya pejabat yang terlibat dalam kasus korupsi, mulai dari level daerah hingga tingkat pusat. Selain itu juga menghasilkan produk-produk kebijakan yang tidak berpihak pada kepentingan rakyat," ujar peserta aksi, Haris aufa, Minggu (21/5).

Selain itu, mahasiswa Jabar-Banten turut menyoroti disahkannya produk-produk kebijakan yang ditolak masyarakat, seperti UU KPK, UU Minerba, UU Ibukota Negara, UU Cipta Kerja, UU KUHP, hingga wacana penundaan pemilu, serta lainnya.

"Bagian paling penting, reformasi gagal melahirkan civil society yang mapan," sambung Haris.

Mahasiswa Jabar-Bantan melihat, berbagai upaya dilakukan oleh penguasa untuk melemahkan civil society, baik yang dilakukan secara langsung dengan kriminalisasi terhadap kaum kritis, hingga yang dilakukan secara tidak langsung dengan menghadirkan influencer yang menyesatkan publik, membelah masyarakat dengan membentuk buzzer, dan mengkooptasi kampus sehingga dengan mudah mendapatkan legitimasi dari kaum intelektual.

Permasalahan-permasalahan yang muncul karena kegagalan reformasi tersebut lantas mendorong mahasiswa Jawa Barat-Banten yang berasal dari berbagai kampus dari Jawa Barat dan Banten meliputi ITB, Politeknik Negeri Bandung, FISIP Universitas Pasundan Bandung Universitas Nurtanio Bandung, STHB Bandung, Poltekkes Bandung, Universitas Siliwangi, UGJ Cirebon, UI Depok, dan Yuppentek Tangerang, untuk berkonsolidasi dan bergerak bersama supaya cita-cita reformasi benar-benar dapat diwujudkan.

Tak hanya itu, mahasiswa Jabar-Banten juga menuntut penguasa seperti presiden, DPR hingga pemerintah daerah, untuk tunduk pada konstitusi. Sehingga, wacana-wacana yang bertentangan dengan semangat reformasi seperti penundaan pemilu, perpanjangan masa jabatan presiden hingga agenda tiga periode tidak terjadi.

"Kami mahasiswa Jawa Barat-Banten bersumpah demi Tuhan, bangsa dan almamater, akan melawan segala bentuk upaya penguasa yang tidak sejalan dengan konstitusi, cita-cita reformasi, dan nilai-nilai demokrasi. Jika protes kami tidak didengar, maka kami akan terus berkonsolidasi dan bergerak dalam jumlah dan skala wilayah yang lebih besar," demikian Haris Aufa.

Mahasiswa yang terlibat dalam perumusan siaran pers ini berasal dari Serikat Mahasiswa Revolusioner ITB, FAM UI, Yuppentek Tangerang, mahasiswa Universitas Siliwangi, mahasiswa UGJ Cirebon, mahasiswa Politeknik Negeri Bandung, mahasiswa Politeknik Kesehatan Negeri Bandung, mahasiswa FISIP Universitas Pasundan, mahasiswa Universitas Nurtanio, mahasiswa STHB, mahasiswa STKS Bandung, mahasiswa UCIC Cirebon, mahasiswa Institut Pendidikan dan Bahasa Cirebon, dan mahasiswa IAIN Cirebon.

Sementara itu, perwakilan tiap daerah yang terlibat dalam perumusan, yaitu Bisma Ridho Pambudi dari ITB Bandung, Agia Adha dari Yuppentek Tangerang, Rahmat Fadhilah dari Unsil Tasikmalaya, Andito MP dari UGJ Cirebon, dan Akbar Taufik Ramadhan Hasibuan dari UI Depok.

Populer

Permohonan Pengosongan Rumah Anak Zulhas Diajukan ke PN Jaktim

Rabu, 01 April 2026 | 18:05

Kehadiran Anies di Cikeas Jadi Masalah Serius

Jumat, 27 Maret 2026 | 02:08

Mengapa Kapal Pertamina Tidak Bisa Lewat Selat Hormuz?

Sabtu, 28 Maret 2026 | 02:59

SBY Menolak Silaturahmi Lebaran Anies?

Jumat, 27 Maret 2026 | 03:43

Nasib Hendrik, SPPG Ditutup, 150 Karyawan Diberhentikan

Jumat, 27 Maret 2026 | 06:07

Dubai Menuju Kota Hantu

Selasa, 31 Maret 2026 | 13:51

KPK Klaim Status Tahanan Rumah Yaqut Sesuai UU

Jumat, 27 Maret 2026 | 12:26

UPDATE

Menteri Ekraf: Kreativitas Tak Bisa Dihargai Nol atau Dipatok

Jumat, 03 April 2026 | 20:06

Pelaku Penembakan Rombongan Tito Karnavian Diringkus

Jumat, 03 April 2026 | 19:59

Harga Plastik Dalam Negeri Meroket, Ini Kronologinya

Jumat, 03 April 2026 | 19:42

Kapolda Riau Perketat Penanganan Karhutla Hadapi Ancaman Super El Nino

Jumat, 03 April 2026 | 19:18

Upacara Penghormatan UNIFIL untuk Tiga Prajurit TNI di Lebanon

Jumat, 03 April 2026 | 19:01

Labirin Informasi pada Perang Simbolik

Jumat, 03 April 2026 | 18:52

KPK Siapkan Pemeriksaan Ono Surono Usai Penggeledahan

Jumat, 03 April 2026 | 18:35

BNPB: Tidak Ada Tambahan Korban Gempa Magnitudo 7,6 Sulut dan Malut

Jumat, 03 April 2026 | 18:31

Resiliensi Bangsa: Dari Mosi Integral 1950 hingga Geopolitik Kontemporer 2026

Jumat, 03 April 2026 | 18:03

FWP Polda Metro Hibur Anak Yatim ke Wahana Bermain

Jumat, 03 April 2026 | 17:45

Selengkapnya