Berita

Pendiri Eksan Institute, Moch Eksan/RMOL

Publika

Suksesi Erdogan dan Jokowi, Potret Kekuasaan Yang Fana

OLEH: MOCH EKSAN*
MINGGU, 14 MEI 2023 | 14:09 WIB

MINGGU, 14 Mei 2023 merupakan hari bersejarah bagi masa depan demokrasi Republik Turki. Hari dimana rakyat dari bekas Daulah Utsmaniyah memilih presiden secara langsung untuk ketiga kalinya. Pilpres langsung ini pertama digelar pada 2014 dan kedua diselenggarakan pada 2018. Ini merupakan konsekuensi logis dari sistem presidensil hasil amandemen konstitusi 2017.

Sistem Pilpres Turki mirip dengan di Indonesia. Perbedaan pada pengajuan calon presiden dari partai atau gabungan partai yang memperoleh 5 persen suara nasional, dan juga bisa dari calon perseorangan yang didukung oleh minimal 100 ribu tanda tangan pemilih.

Mekanisme penetapan calon terpilih presiden berdasarkan pada 50 persen plus 1 atau lebih suara Pilpres. Bila tak ada satupun capres yang memperoleh  prosentase tersebut, maka digelar Pilpres putaran kedua. Masing-masing yang memperoleh suara terbanyak pertama dan kedua yang maju tahap selanjutnya. Mekanisme ini persis dengan Pilpres di Indonesia.


Masa jabatan presiden terpilih selama 5 tahun dan hanya dapat dipilih kembali pada periode masa jabatan kedua. Masa jabatan ini sama dengan masa jabatan presiden Indonesia.

Namun demikian, usia demokrasi langsung di Turki lebih muda daripada Indonesia. Pilpres langsung di Indonesia sudah kelima kalinya. Memang usia bernegara Recep Tayyip Erdogan lebih tua dari Indonesia. Namun, usia berdemokrasi Joko Widodo lebih tua dari Turki.

Dua negara mayoritas muslim di Timur Tengah dan Asia Tenggara ini, sedang menyelenggarakan pemilu. Turki besok. Dan Indonesia pada 14 Februari 2024. Dua negara ini potret negara muslim demokratis yang menjunjung tinggi hak sipil warga negara dalam menyelenggarakan pemerintahan.

Suksesi kepemimpinan kedua negara ini, seperti tak bisa dielakkan. Erdogan diprediksi akan mengalami kekalahan. Hasil survei elektabilitasnya kalah dengan penantangnya, Kemal Kilicdaroglu dari Partai Rakyat Republik.

Sedangkan, Jokowi sudah dua periode. Sehingga, mau tak mau, pergantian presiden tak bisa dihindari. Apakah nanti Ganjar Pranowo, Prabowo Subianto, atau Anies Rasyid Baswedan? Semua kembali pada rakyat pemegang kedaulatan tertinggi di Indonesia.

Suksesi kepemimpinan sesungguhnya adalah hukum alam. Tak seorang pun di dunia ini yang memiliki kekuasaan abadi. Sekuat dan sehebat apapun pemimpin itu pasti akan berakhir. Masa jabatan bisa berakhir karena kalah dalam pemilu atau digulingkan oleh aksi kudeta atau sebab tutup usia.

Semua kekuasaan dimana pun di dunia ini bersifat fana. Turki punya sejarah kepemimpinan yang jatuh bangun. Mulai dari Mustafa Kemal Ataturk, Mustafa Ismet Inonu, Mahmut Celal Bayar, Cemal Gursel, Cevdet Sunay, Fahri Koruturk, Kenan Evren, Turgut Ozal, Suleymen Demirel, Ahmed Necdet Sezer, Abdullah Gul sampai Erdogan sendiri.

Sejarah kepemimpinan Indonesia juga mengalami jatuh bangun semisal. Mulai dari Soekarno, Soeharto, BJ Habibie, Abdurrahman Wahid, Megawati Soekarnoputri, Susilo Bambang Yudhoyono sampai Jokowi sendiri.

Jadi, suksesi kepemimpinan dalam Pilpres secara langsung, sebenarnya untuk mengakhiri perpindahan kekuasaan dengan menggunakan kekerasan dan pertumpahan darah antar anak bangsa. Pemilu demokratis mengharuskan pergantian kekuasaan dengan aman dan damai.

Akhirnya, saya kutipkan pernyataan Bung Karno, "Politik bukanlah perebutan kekuasaan bagi partainya masing-masing, bukan persaingan untuk menonjolkan ideologinya sendiri-sendiri tetapi politik untuk menyelamatkan dan menyelesaikan revolusi Indonesia."

*Penulis adalah Pendiri Eksan Institute

Populer

Polisi Gunakan Senjata Baru OTT, 21 Kepsek Diamankan

Senin, 21 September 2026 | 03:25

Djaka Budhi Diuntungkan Berkat Menkeu Baru Suahasil Nazara

Minggu, 20 September 2026 | 14:18

Syukur Mandar Dicopot, Gerakan Oposisi Tegaskan Organisasi Bukan Milik Pribadi

Minggu, 20 September 2026 | 18:58

Serahkan Bukti Dugaan Politik Uang Muktamar ke-35 NU, KPK NU Desak KPK Usut Nusron Wahid

Jumat, 25 September 2026 | 14:51

TNI Tegaskan Lahan Teuku Umar No. 2 Aset Negara

Jumat, 25 September 2026 | 22:39

Ahmad Dedi Dikabarkan Jadi Tersangka Baru Kasus Suap Bea Cukai

Senin, 21 September 2026 | 13:33

Desakan Pecat Nusron Mencuat, Ahmad Doli Memungkinkan jadi Pengganti

Minggu, 20 September 2026 | 05:26

UPDATE

Prabowo Apresiasi Rahmat Erwin Usai Raih Emas dan Pecahkan Rekor Dunia

Minggu, 27 September 2026 | 12:11

Partai Koalisi Bela Prabowo Mati-matian tapi Diam Saat Gibran Dikritik

Minggu, 27 September 2026 | 12:05

Daftar 10 Wilayah Terpanas 27 September 2026, Suhu Capai 37,4 Derajat

Minggu, 27 September 2026 | 11:57

KPK Dalami Dugaan Aliran Rp3,5 Miliar ke Eks Ketum HIPMI

Minggu, 27 September 2026 | 11:44

Spesifikasi Samsung Galaxy A08 Resmi Meluncur di Indonesia, Baterai 6.000 mAh

Minggu, 27 September 2026 | 11:37

Indonesia Calonkan Diri untuk Kursi Tidak Tetap DK PBB Periode 2029-2030

Minggu, 27 September 2026 | 11:04

Tak Ada Satupun Partai Koalisi Pasang Badan saat Gibran Hadapi Gugatan Ijazah

Minggu, 27 September 2026 | 10:31

KPK Amankan Perhiasan Diduga Emas Saat Geledah Kanwil BPN Jatim

Minggu, 27 September 2026 | 10:17

Perang Abad 21 Sudah Dimulai, tapi Mukan di Medan Tempur

Minggu, 27 September 2026 | 10:05

Sugiono: RI Percaya PBB, Tapi Multilateralisme Harus Lebih Representatif dan Gesit

Minggu, 27 September 2026 | 09:27

Selengkapnya