Berita

Ketua Bidang Ideologi dan Kaderisasi Partai Buruh, Adityo Fajar/Ist

Politik

Partai Buruh: Kelas Pekerja Bersatu yang Utama, Capres Nomor Tiga

RABU, 03 MEI 2023 | 18:26 WIB | LAPORAN: IDHAM ANHARI

Presepsi tentang arah dukungan Partai Buruh ke salah satu calon presiden (capres) menguat dalam beberapa hari belakangan. Presepsi itu terbangun sejak Presiden Partai Buruh, Said Iqbal, mengucapkan selamat atas pencalonan Ganjar Prabowo sebagai capres.

Ditambah lagi, seusai melaksanakan perayaan Hari Buruh Se-Dunia 1 Mei 2023 lalu, Said Iqbal, mengunjungi Ganjar Pranowo di bilangan Jakarta Selatan.

Gestur politik ini kemudian ditangkap oleh sebagian publik sebagai arah dukungan Partai Buruh kepada capres tertentu. Keriuhan muncul, tanpa kecuali di media sosial.


Partai Buruh sendiri sudah berulang-ulang menegaskan belum menentukan dukungan Capres. Partai berwarna oranye ini baru akan memutuskan dukungan tersebut pada konvensi capres yang rencananya akan digelar pada bulan Juni 2023.

Terkait hal ini, Ketua Bidang Ideologi dan Kaderisasi Partai Buruh, Adityo Fajar, memiliki pendapatnya sendiri. Menurut dia, publik berhak menafsirkan soal pertemuan Said Iqbal dengan Ganjar di hari perayaan Hari Buruh Sedunia alias May Day kemarin.

"Lumrah publik menyampaikan opini dan kritik. Baik-baik saja itu untuk demokrasi. Rakyat harus terus melakukan kontrol terhadap parpol. Di prinsip itu saya setuju. Kecam bila perlu, sekeras-kerasnya, jika dianggap atau dikhawatirkan melenceng. Saya suka baca komentar-komentar keras anak muda di media sosial. Anak muda memang punya hak untuk bicara keras kepada penguasa dan mereka yang berniat berkuasa,” kata Adityo dalam keterangan tertulis yang diterima di Jakarta, Rabu (3/5).

Sementara itu upaya dukung-mendukung Capres makin menggelinding seiring munculnya beberapa nama bacapres. Berbagai parpol mencoba membangun pendekatan politik satu dengan yang lain. Koalisi yang mulanya terbentuk, tak menutup peluang akan disusun ulang. Belakangan, nama-nama calon wakil presiden juga mulai diapungkan.

"Tak terhindarkan dalam sistem presidensial perhatian besar akan tertuju ke sosok presiden terpilih. Wajar. Sebagai partai kelas pekerja, kalau saya yang utama adalah persatuan kelas pekerja. Soal capres taruhlah nomor tiga. Agenda perbaikan hidup kelas pekerja itu hal yang pokok, dukungan kepada capres hanya boleh ditempatkan dalam koridor itu. Jangan sampai justru memecah,”ujar dia.

Sementara itu, Adityo menyampaikan kalau persatuan kelas pekerja merupakan dasar terbentuknya Partai Buruh. Partai ini dibangun ulang oleh 11 elemen organisasi kelas pekerja.

Mereka terdiri dari organisasi buruh, petani, miskin kota, PRT dan kaum perempuan. Partai Buruh mengusung Negara Kesejahteraan (welfare state) sebagai tujuan perjuangan. Lahirnya Omnibus Law Cipta Kerja menjadi katalisator utama upaya membangkitkan kembali Partai Buruh.

"Presiden Partai berulang-ulang bilang, Undang-undang Cipta Kerja itu seperti bensin yang dituangkan dalam api juang kelas pekerja untuk mendirikan ulang partainya sendiri. Causa sine qua non, sesuatu yang jadi penyebab. Jadi pijakan kami akan selalu itu. Tanpa kecuali dalam dukungan kepada capres. Tidak boleh dan tidak mungkin melenceng dari itu., ujar Fajar.

Sebagai partai baru peserta Pemilu, Partai Buruh tidak bisa mengusung calon presiden sendiri. Hambatan Presidential Treshold  (PT) sebesar 20 persen menjadi halangan partai-partai baru dan partai-partai non parlemen untuk mengusung calon presidennya sendiri.

Partai Buruh sedang melakukan gugatan ke Mahkamah Konstitusi mengenai PT. Ini merupakan upaya sekali lagi untuk membuka ruang demokrasi lebih lebar. Semakin banyak kandidat capres akan memberikan publik pilihan yang lebih luas. Selain itu semakin banyak kandidat yang bertarung, semakin mungkin lebih banyak kepala memaparkan gagasan yang bisa ditawarkan untuk memperbaiki kehidupan bangsa.

"Kita setuju PT 0 persen. Itu bagus. Sehat buat demokrasi. Kenapa takut dengan keberagaman kandidat? Satu, dua, tiga warna, membonsankan. Itu kenapa pelangi terlihat indah. Tetapi sebagai Ketua Bidang Ideologi, tugas utama saya menjaga garis ideologi partai. Termasuk apakah garis ideologi partai masih sejalan dengan kandidat capres yang diusung atau didukung. Itu yang primer, saya akan pasang badan di situ!,” demikian Adityo.


Populer

Kuliah Bukan Bukti Tamat SMA

Senin, 12 Oktober 2026 | 10:55

Bupati Klaten Dikabarkan Terjaring OTT KPK

Kamis, 15 Oktober 2026 | 11:10

Adik dan Orang Kepercayaan Kepala BNPB Suharyanto Dikabarkan Ditetapkan Tersangka KPK

Rabu, 14 Oktober 2026 | 10:12

Pergantian KSAD jadi Sinyal Skenario Baru Penentuan Panglima TNI

Sabtu, 17 Oktober 2026 | 03:02

Jokowi sudah Ditinggalkan Parpol, Polri, hingga Oligarki

Senin, 19 Oktober 2026 | 04:00

Gagal Atasi Karhutla, Pecat Menhut Raja Juli!

Jumat, 16 Oktober 2026 | 23:30

Gugat Allianz Rp1,5 Miliar, Krisdayanti Ajukan Perkara ke PN Jaksel

Minggu, 18 Oktober 2026 | 13:28

UPDATE

Tak Hanya Mobil Listrik, Hybrid Juga Diusulkan Bebas Ganjil-Genap

Kamis, 22 Oktober 2026 | 12:31

Kabinet Watch Penting untuk Ruang Dialog Menteri dan Kelompok Kritis

Kamis, 22 Oktober 2026 | 12:25

Dumai Transshipment Hub: Ujian Geopolitik Maritim Indonesia

Kamis, 22 Oktober 2026 | 12:17

Laba Emiten Naik 15 Persen, Danantara Minta Investor Tak Terpaku Sentimen Pasar

Kamis, 22 Oktober 2026 | 12:16

Apple Siap Gelar Acara Pro and Tell Akhir Oktober 2026

Kamis, 22 Oktober 2026 | 12:09

12.000 Lowongan Kerja Dibuka di Jakarta untuk Semua Kalangan

Kamis, 22 Oktober 2026 | 12:08

BAZNAS dan Ruang Amal Indonesia Antarkan 47 Mustahik ke Dunia Kerja

Kamis, 22 Oktober 2026 | 12:06

KPK Bakal Secepatnya Kembali Panggil Nusron Wahid

Kamis, 22 Oktober 2026 | 11:48

Wacana Dumai Transshipment Hub Perlu Dukungan, Pelindo Harus Lebih Bertaring di Selat Malaka

Kamis, 22 Oktober 2026 | 11:47

Terancam Turun Kelas, Danantara Akui Sentimen MSCI Tak Bisa Dianggap Enteng

Kamis, 22 Oktober 2026 | 11:33

Selengkapnya