Berita

Relawan membantu ahli forensik dan detektif dari Direktorat Investigasi Kriminal (DCI), untuk menggali jenazah korban sekte sesat di Hutan Shakahola di daerah Kilifi, Kenya/Net

Dunia

Kesaksian Mantan Pengikut Sekte Sesat Kenya: Anak-anak dan Bujangan Diminta Mati Lebih Dulu

SABTU, 29 APRIL 2023 | 10:31 WIB | LAPORAN: RENI ERINA

Pekan ini Kenya dikejutkan dengan berita penemuan kuburan massal pengikut sekte sesat pimpinan Paul Mackenzie Nthenge di hutan Shakahola dekat kota pesisir Malindi.

Mackenzi Nthenge, pendeta sekaligus pemilik peternakan yang menjadi lokasi TKP, diduga mengarahkan pengikutnya untuk mejalankan ritual kelaparan bersama demi bertemu Tuhan.

Seorang mantan pengikut yang telah bertaubat, Titus Katana, yang juga telah ikut menggali selama berhari-hari untuk menemukan sisa-sisa korban sekte, menceritakan kisahnya selama menjadi jemaat Mackenzi Nthenge.


"Kami biasa beribadah bersama," ujar Katana kepada AFP ketika dia menceritakan tahun-tahunnya di Gereja Internasional Kabar Baik yang didirikan Mackenzi Nthenge.

Katana mengatakan dia mengenal Mackenzi Nthenge dengan baik dan bahkan pernah berkhotbah bersamanya pada satu waktu.

“Kami merasa seperti melihat Tuhan di gereja itu,” buruh harian berusia 39 tahun itu mengisahkan.

Namun, katanya, dia menemukan beberapa kejanggalan dan perbedaan, sehingga memutuskan untuk meninggalkan gereja.

"Itu sampai pada titik di mana terlalu banyak undang-undang diperkenalkan di gereja itu - meminta perempuan untuk tidak mengepang rambut mereka, (mengatakan) orang tidak boleh pergi ke rumah sakit, orang tidak boleh pergi ke sekolah," ujar Katana.

"Semua itu terlalu berlebihan bagiku, jadi aku tidak punya pilihan selain berpisah dan mencari gereja lain," katanya.

Keyakinan Mackenzi Nthenge bahkan menarik perhatian polisi, yang menangkapnya pada tahun 2017 atas tuduhan "radikalisasi" setelah dirinya mendesak anak-anak untuk tidak bersekolah, mengklaim bahwa itu bertentangan dengan Alkitab.

Dia kemudian dibebaskan tetapi ditangkap lagi pada tahun 2019 atas tuduhan yang mencakup kepemilikan film yang dimaksudkan untuk menghasut umat Kristen terhadap Hindu, Budha, dan Muslim. Kasusnya masih disidangkan.

Terlepas dari kontroversi yang melekat pada namanya, dia akhirnya diizinkan untuk terus berkhotbah, dengan khotbahnya yang semakin bernada apokaliptik. Kelompok hak asasi Haki Afrika yang memantau aktivitas Mackenzi Nthenge kemudian melaporkan ke polisi.

Katana dia tidak dapat mengingat kapan tepatnya dirinya meninggalkan gereja, tetapi mengatakan dia mendengar tentang rencana Mackenzi Nthenge untuk memaksa pengikutnya berpuasa sampai kelparan dan mati, dari seorang teman yang menjadi anggota.

"Saya tidak begitu tahu apa yang merasukinya," katanya.

"Para pemuja menjual properti, rumah, pabrik mereka, karena mereka datang ke 'padang gurun' untuk menunggu Yesus di hutan Shakahola," kata Katana.

Menurut "jadwal puasa" yang dibagikan temannya, Katana mengatakan Mackenzi Nthenge telah menyusun rencana dengan anak-anak dan orang lajang akan mati lebih dulu diikuti oleh wanita dan kemudian pria.

"Mackenzie dan keluarganya akan pergi terakhir," tambah Katana.

Anak-anak menjadi korban terbanyak yang ditemukan dalam penggalian di kuburan massal hutan Shakahola.

Saat membanu menggali, Katana mengatakan dia sangat sedih dengan kisah mengerikan, yang dijuluki "Pembantaian Hutan Shakahola".

Ada 39 orang yang selamat dari kematian, dan mereka bersembunyi di semak-semak. Beberapa menolak makanan dan air yang ditawarkan oleh layanan darurat dan lainnya dan berusaha melarikan diri.

Katana, yang pergi ke hutan setiap hari untuk membantu tim pencari, memiliki sedikit harapan untuk menemukan lebih banyak lagi pengikut yang masih hidup, yang ia kenali.

"Saya merasa sedih atas apa yang terjadi pada orang-orang itu karena banyak dari mereka adalah orang-orang yang pernah saya temui", ujarnya.

"Dan mereka sekarang sudah mati," demikian Katana.

Populer

Jumlah Personel TNI Tidak Masuk Akal

Sabtu, 30 Mei 2026 | 03:36

Penutupan Alfamart dan Indomaret Jangan Salahkan KDKMP

Kamis, 28 Mei 2026 | 06:00

Ketika Jenderal Memimpin yang Bukan Bidangnya

Kamis, 04 Juni 2026 | 00:15

KPK Dikabarkan OTT Pejabat Imigrasi Jakarta Barat, Diduga Terkait TKA

Rabu, 03 Juni 2026 | 07:33

Ketika Pencalonan Ryamizard Ryacudu sebagai Panglima TNI Dianulir SBY

Selasa, 02 Juni 2026 | 03:18

Golkar: Jokowi Ikut Tren MBG karena Dekat dengan Dunia Warganet

Senin, 01 Juni 2026 | 13:12

Rita Widyasari: Dari Suap, Gratifikasi dan TPPU hingga Korporasi Tambang

Rabu, 03 Juni 2026 | 17:07

UPDATE

Donald Trump Buka Peluang Bertemu Mojtaba Khamenei

Jumat, 05 Juni 2026 | 08:19

Dolar AS Melemah dari Level Tertinggi Imbas Prospek Damai Timur Tengah

Jumat, 05 Juni 2026 | 07:52

Emas dan Perak Menguat Jelang Rilis Data Tenaga Kerja AS

Jumat, 05 Juni 2026 | 07:40

BEI Bidik Dana Besar dari Dalam dan Luar Negeri demi Topang IHSG

Jumat, 05 Juni 2026 | 07:17

Bursa Eropa Hijau, Saham Bank dan Airbus Pimpin Reli

Jumat, 05 Juni 2026 | 07:06

Langsung Terbang ke Jakarta, Maukah Chatib Basri Ganti Purbaya?

Jumat, 05 Juni 2026 | 06:58

Kenaikan Bahan Baku Berimbas terhadap Industri Makanan dan Minuman

Jumat, 05 Juni 2026 | 06:54

Artis Fabiola Gabung Sindikat Penipuan Online

Jumat, 05 Juni 2026 | 06:43

Hantu Kurs Dolar

Jumat, 05 Juni 2026 | 06:28

Inflasi Kehormatan Letkol Teddy Indra Wijaya

Jumat, 05 Juni 2026 | 06:08

Selengkapnya