Berita

Ilustrasi/Net

Publika

Akuntansi Beras

OLEH: MUHAMMAD ARAS PRABOWO*
SELASA, 04 APRIL 2023 | 02:19 WIB

INDONESIA adalah negara maritim dan agraris. Luas lautnya melebihi luas daratannya. Oleh karena itu, potensi lautnya luar biasa. Akan tetapi, potensi daratannya juga tidak kalah potensialnya.

Potensi keduanya selalu menjadi topik yang tidak pernah ada habisnya untuk dibahas dan dikaji. Baik soal pemanfaatannya serta tata kelolanya yang belum maksimal. Belum digarap sebesar-besarnya untuk kesejahteraan rakyat seperti amanat Undang Undang.

Bahkan seringkali keduanya salah kelola sehingga hanya dinikmati hanya segelintir orang. Jika kita amati, khususnya pada masa Menteri Kelautan Pudjiastuti banyak sekali pelanggaran di bidang kemaritiman. Entah kasus internasional maupun nasional, misalnya perampokan ikan oleh negara tetangga mau soal impor lobster yang tidak sesuai aturan yang berlaku. Banyak merugikan kaum nelayan di Indonesia.


Sedangkan dalam pengelolaan daratan, potensi tambang masih menjadi isu populer. Apalagi banyak sekali kasus tambang ilegal hingga banyak pejabat daerah yang harus berdiam di balik jeruji besi akibat kasus suap soal izin tambang.

Yang tidak luput dari isu populer adalah tata kelola bidang pertanian di negeri ini, khususnya soal beras. Isu beras masih menjadi persoalan pelik yang tidak kunjung menemukan formulasi yang komprehensif. Baik soal pemenuhan stok konsumsi dalam negara, maupun kebijakan impor beras yang dispekulasikan sebagai permainan mafia.

Sebut saja Andi Amran Sulaiman yang dianggap salah satu Menteri Pertanian yang paling berhasil era periode pertama Jokowi dalam mengelola pertanian di Indonesia. Dia putera asli Sulawesi Selatan (Sulsel), sebagai Provinsi penghasil beras terbesar di Indonesia, tapi belum cukup menemukan benang kusut dalam pengelolaan beras. Di eranya pernah swasembada beras, akan tetapi tidak berkelanjutan hingga masalahnya kembali lagi seperti semula.

Nah, sekarang tanggungjawab tersebut kembali diberikan oleh putera Sulsel Syahrul Yasin Limpo, tapi kembali belum bisa meramu stabilitas persediaan beras dalam negeri. Apalagi mau melakukan swasembada beras.

Jika diamati dari berbagai pemberitaan dan Rapat Dengar Pendapat (RDP) Menteri Pertanian di DPR RI, pengelolaan beras di Indonesia seperti lingkaran setan yang tidak ada penyelesaian komprehensif. Selalu aja masalah kembali berulang.

Meskipun baru-baru ini Presiden Jokowi hadir dalam panen raya di Kabupaten Maros, saya kira belum menjadi solusi bagi persoalan beras dalam negeri. Karena mengatasinya tidak cukup hanya di hilir saja melainkan dari hulu ke hilir.

Menganalisa solusi persoalan beras di Indonesia memang cukup ruwet jika tidak dilihat secara sistematis. Salah satu poin penting menurut saya, kenapa persoalan beras tidak kunjungan terselesaikan? Karena tidak mampu didudukan oleh pemegang kebijakan secara utuh. Sehingga langkah-langkah yang diambil cenderung reaktif dan reaksioner. Tidak mampu menyelesaikan persoalan hulu dan hilir.

Oleh karena itu, soal beras harus diselesaikan dengan kebijakan secara sistematis. Sehingga, kebijakan tersebut juga bisa menjadi solusi bagi pengentasan kemiskinan bagi petani, yang juga belum pernah terselesaikan. Dalam analisa saya, persoalan pelik tersebut bisa diurai dengan siklus sebagai berikut.

Pertama, siklus pembibitan; kedua, siklus lahan dan penggarapan; ketiga, siklus penanaman dan pemeliharaan; dan keempat, siklus pemanenan dan distribusi beras.

Keempat siklus tersebut tidak lepas dari biaya produksi yang harus diperhitungkan. Menurut saya, disinilah benang merah persoalan beras, yang kemudian saya sebut dengan akuntansi beras.

Dengan mengurai siklus akuntansi beras, akan memperoleh gambaran bagi pemerintah terhadap pos-pos yang perlu diintervensi dengan kebijakan. Tentu tidak cukup oleh Menteri Pertanian saja. Banyak pihak yang harus terlibat sesuai dengan tupoksi masing-masing berdasarkan empat siklus tersebut.

Kenapa saya mengambil istilah akuntansi beras atau siklus akuntansi beras? Karena saya yakin bahwa intervensi paling efektif oleh negara kepada suatu persoalan adalah anggaran. Dan pemanfaatan anggaran hanya bisa efektif, efisien dan solutif jika pemetaan persoalannya sistematis dan dapat diukur.

Keempat siklus di atas adalah pemetaan yang sistematis terhadap persoalan beras di Indonesia. Uraian setiap siklus akan didetailkan pada tulisan berikutnya.

*Penulis adalah Ketua Program Studi Akuntansi Universitas Nahdlatul Ulama Indonesia

Populer

Polisi Gunakan Senjata Baru OTT, 21 Kepsek Diamankan

Senin, 21 September 2026 | 03:25

Djaka Budhi Diuntungkan Berkat Menkeu Baru Suahasil Nazara

Minggu, 20 September 2026 | 14:18

Syukur Mandar Dicopot, Gerakan Oposisi Tegaskan Organisasi Bukan Milik Pribadi

Minggu, 20 September 2026 | 18:58

Serahkan Bukti Dugaan Politik Uang Muktamar ke-35 NU, KPK NU Desak KPK Usut Nusron Wahid

Jumat, 25 September 2026 | 14:51

TNI Tegaskan Lahan Teuku Umar No. 2 Aset Negara

Jumat, 25 September 2026 | 22:39

Ahmad Dedi Dikabarkan Jadi Tersangka Baru Kasus Suap Bea Cukai

Senin, 21 September 2026 | 13:33

Desakan Pecat Nusron Mencuat, Ahmad Doli Memungkinkan jadi Pengganti

Minggu, 20 September 2026 | 05:26

UPDATE

Gus Lilur Ungkap Pencatutan Nama Prabowo di Muktamar NU, Duit Ratusan Miliar Diduga Mengalir

Minggu, 27 September 2026 | 22:06

DIM RUU Ketenagakerjaan Membengkak

Minggu, 27 September 2026 | 20:53

Semarak Diwali Mulai Terasa di Jakarta Lewat Diwali Bazaar 2026

Minggu, 27 September 2026 | 20:30

Syarat Capres Didukung Minimal Dua Fraksi Bisa Mengunci Suara Rakyat

Minggu, 27 September 2026 | 19:52

Ustaz Das’ad Latif Ajak Warga Hidup Sesuai Kemampuan

Minggu, 27 September 2026 | 19:31

Di Malaysia, Utusan MUI Sampaikan Pesan Kemerdekaan untuk Palestina

Minggu, 27 September 2026 | 19:17

DPD Geram, Buku Memburu Muhammad Diduga Lecehkan Agama Islam

Minggu, 27 September 2026 | 18:50

Setelah Viral, Dishub Sidak Tarif Valet di Jaksel

Minggu, 27 September 2026 | 18:31

Mantan Bendahara PPP Habil Marati Wafat

Minggu, 27 September 2026 | 18:17

Dugaan Penyelewengan Bantuan Kemanusiaan di Kamp Tindouf Mencuat

Minggu, 27 September 2026 | 17:41

Selengkapnya