Berita

Menteri Keuangan Sri Mulyani/Net

Publika

Sri Mulyani Tidak Tahu Detail Isu Rp 300 Triliun

SENIN, 13 MARET 2023 | 16:13 WIB | OLEH: DJONO W OESMAN

TRANSAKSI mencurigakan Rp 300 triliun akhirnya ditanggapi Menteri Keuangan, Sri Mulyani via siaran pers. Dia belum tahu. Masih menyelidiki. Tapi, Sri menyilakan PPATK publikasi detail supaya pelaku cepat ditangkap aparat.

Tanggapan Sri Mulyani itu fair. Tidak seperti umumnya pejabat tinggi negara yang pasti minta data mencurigakan dikirim ke pejabat dulu, sebelum publikasi. Supaya kondisi bisa diperbaiki.

Sri Mulyani (akrab dipanggil Ani), melalui siaran pers di Kanal YouTube Kemenkeu RI, Sabtu (11/3) menyatakan:


"Mengenai Rp 300 triliun, sampai siang hari ini saya tidak mendapatkan informasi 300 itu ngitungnya dari mana, transaksinya apa saja, siapa yang terlibat?”

Dilanjut: "Jadi kami sampai hari ini, di surat yang Pak Ivan (Kepala Pusat Pelaporan dan Analisis Transaksi Keuangan - PPATK, Ivan Yustiavandana) sampaikan kepada saya hari Kamis (9/3), surat tersebut menyangkut jumlah yang disampaikan PPATK pada kami dan list dari kasusnya, tidak ada angka rupiahnya.”

Tahu-tahu, pihak PPATK melapor ke Menko Polhukam, Mahfud Md tentang transaksi mencurigakan di kalangan pejabat Kemenkeu senilai Rp 300 triliun. Disebutkan, Rp 300 triliun itu diduga akumulasi pencucian uang. Sedangkan, pencucian uang diduga hasil korupsi. Sementara, perkara korupsinya belum diusut.

Maka, Ani meminta pihak PPATK mengungkap detail transaksi Rp 300 triliun tersebut kepada publik, agar bisa menjadi bukti hukum.

Ani: "Rp 300 triliun itu seperti apa? Sampaikan kepada media massa dan apakah bisa di-share ke publik? Apakah informasi itu menjadi bukti? Makin detail makin bagus, siapa saja yang terlibat, sehingga pembersihan kami lebih cepat.”

Ani tidak menampik pelanggaran hukum di kalangan Kemenkeu. Inspektorat Jenderal Kementerian Keuangan kini melakukan investigasi terhadap 68 pegawai Kemenkeu yang punya harta tak wajar.

Mundur ke belakang, dia merincikan beragam pengaduan yang diterima Itjen Kemenkeu melalui Whistleblowing System Kemenkeu, begini:

- Tahun 2017: Ada 510 pengaduan. Hasilnya, 66 pegawai kena hukuman disiplin (hukdis) fraud (melanggar hukum).

- Tahun 2018: 482 pengaduan, 118 pegawai hukdis fraud.

- Tahun 2019: 445 pengaduan, 83 hukdis fraud.

- Tahun 2020: 446 pengaduan, 71 hukdis fraud.

- Tahun 2021: 599 pengaduan, 114 hukdis fraud.

- Tahun 2022: 805 pengaduan, 98 hukdis fraud.

Ani: "Jadi 964 akumulasi jumlah pegawai yang diidentifikasi oleh kami Kementerian Keuangan, Inspektorat Jenderal atau yang diidentifikasi oleh PPATK, dari surat-surat tersebut, kami telah melakukan tindak lanjut, semuanya.”

Jumlah pegawai Kemenkeu kini sekitar 74 ribu orang. Masih banyak yang bener, meskipun jumlah yang diselidiki hampir seribu orang.

Akhirnya, Ani keberatan dengan pernyataan Menko Polhukam, Mahfud Md,

Ani: "Jadi kami kalau Pak Mahfud memberikan impresi seolah-olah tidak ada tindak lanjut, kami ingin meluruskan sore hari ini. Seluruh surat dari PPATK yang dikirim ke kami, baik itu permintaan kami 185 atau yang merupakan inisiatif PPATK semuanya ditindaklanjuti.”

Masyarakat kini demam anti-korupsi. Khususnya, sangat mencurigai pejabat yang pamer kekayaan. Masyarakat sangat sensitif tentang itu. Gegara perkara Mario menganiaya David. Lalu merembet ke ayah Mario, Rafael Alun Trisambodo yang rekeningnya senilai setengah triliun rupiah diblokir penyidik. Juga, uang Rp 37 miliar di safe deposit box, diblokir juga.

Ketika Mario menjalani rekonstruksi perkaranya, Jumat (10/3) warganet malah fokus ke sepatu Mario. Merek Nike Fly hitam seharga Rp 1,2 juta. Viral di medsos. Dikomentari ramai. “Nggak kapok juga, masih pamer-pamer, dia.”

Ternyata, itu sepatu pinjaman milik polisi. Direktur Reserse Kriminal Umum, Polda Metro Jaya, Kombes Hengki Haryadi mengatakan:

"Sepatu itu milik penyidik, dipinjamkan kepada Mario untuk menyesuaikan situasi peristiwa yang sebenarnya." Pemilik sepatu adalah Bripka Hari, yang ikut mengawasi jalannya rekonstruksi.

Karena, waktu rekonstruksi Mario pakai sandal. Sedangkan saat menginjak dan menendang kepala David di tanah, ia mengenakan sepatu hitam.

Saat rekonstruksi, Mario kelihatan menangis. Karena, para penonton heboh mencemooh, teriak memaki, bahkan ada yang hendak memukul Mario. Di situ ia mungkin merasa bersalah. Dibanding ucapan Mario saat menganiaya David, mengatakan: “Gak takut gue, anak orang mati, Ayo… laporin, an…g.”

Konon, Mario belum tahu jika bapaknya kini menunggu waktu penyelidikan KPK. Rafael belum tersangka. Tapi sebagian asetnya sudah diblokir KPK. sebaliknya, KPK masih bekerja keras, sebelum menetapkan Rafael tersangka.

Pastinya, Rafael dan penyidik KPK sama-sama dalam tekanan berat. Rafael sudah dituding publik sebagai koruptor. Sebaliknya, KPK sedang mencari bukti-bukti hukum yang membuktikan Rafael koruptor.

Tidak gampang membuktikannya. Juga, tidak mungkin bukti sembarangan. Harus valid. Seumpama bukti tidak kuat, Rafael bisa lolos di persidangan. Sebaliknya, selama ini tersangka KPK tidak pernah lolos dari hukuman.

Tenggang waktu pemblokiran harta Rafael dengan penentuan status tersangka, yang demikian lama, menandakan pembuktiannya sulit. Meskipun, penyidik KPK sudah sangat yakin bahwa Rafael korupsi.

Tapi, setidaknya Rafael masuk dalam 964 orang pegawai Kemenkeu yang diidentifikasi fraud, seperti kata Sri Mulyani. Mengapa sampai begitu banyak?

Penulis adalah wartawan senior

Populer

10.060 Jemaah Umrah Telah Kembali ke Tanah Air

Kamis, 05 Maret 2026 | 09:09

Rumah Bersejarah di Menteng Berubah Wujud

Sabtu, 07 Maret 2026 | 22:49

Pengacara Terkenal yang Menyita Perhatian Publik

Minggu, 08 Maret 2026 | 11:44

KPK Dikabarkan Gelar OTT di Cilacap Jawa Tengah

Jumat, 13 Maret 2026 | 14:54

Siapa Berbohong, Fadia Arafiq atau Ahmad Luthfi?

Sabtu, 07 Maret 2026 | 06:42

Bangsa Tak Akan Maju Tanpa Makzulkan Gibran dan Adili Jokowi

Senin, 09 Maret 2026 | 00:13

Fahira Idris Dukung Pelarangan Medsos Buat Anak di Bawah 16 Tahun

Minggu, 08 Maret 2026 | 01:58

UPDATE

Bahaya Tersembunyi Kerikil di Ban Mobil dan Cara Mengatasinya

Sabtu, 14 Maret 2026 | 10:15

PKS: Pemerintah harus Segera Tetapkan Aturan Pembatasan BBM Bersubsidi

Sabtu, 14 Maret 2026 | 10:14

Mengupas Bahaya Air Keras Menyusul Kasus Penyerangan Aktivis KontraS di Jakarta

Sabtu, 14 Maret 2026 | 09:52

Kemenhaj Tegaskan Komitmen Haji Inklusif bagi Lansia dan Disabilitas

Sabtu, 14 Maret 2026 | 09:47

Qatar Kutuk Serangan Brutal Israel di Lebanon

Sabtu, 14 Maret 2026 | 09:23

Harga Minyak Brent Tembus 103 Dolar AS

Sabtu, 14 Maret 2026 | 09:10

AS Kirim Ribuan Marinir ke Timur Tengah, Iran Terancam Invasi Darat

Sabtu, 14 Maret 2026 | 08:41

Wall Street Rontok Menatap Kemungkinan Inflasi Global

Sabtu, 14 Maret 2026 | 08:23

Transformasi Kinerja BUKA: Dari Rugi Menjadi Laba Rp3,14 Triliun di 2025

Sabtu, 14 Maret 2026 | 08:08

Anggaran Pendidikan Diperebutkan, Sistemnya Tak Pernah Dibereskan

Sabtu, 14 Maret 2026 | 07:48

Selengkapnya