Berita

Dahlan Iskan membawa dewa Hok Tik Cing Sin atau Dewa Bumi/Ist

Dahlan Iskan

Ultah Dewa

MINGGU, 26 FEBRUARI 2023 | 04:28 WIB | OLEH: DAHLAN ISKAN

LEBIH 70 dewa turun di Semarang. Minggu pagi ini. Mereka sudah berdatangan sejak Sabtu kemarin. Dari berbagai penjuru Jawa. Salah satunya yang saya bawa dari kelenteng Gudo, luar kota Jombang.

Saya bertemu dewa itu di rest area Salatiga "rest area dengan pemandangan sekitar terindah di sepanjang jalan tol Merak-Probolinggo.

Saya dan istri datang dari Surabaya. Berhenti di rest area tersebut. Yang dari Malang juga berhenti di situ. Pun yang langsung dari Gudo: satu bus dan 3 mobil. Rest area ternyata juga berfungsi untuk meet point.


Dewa yang dari Gudo diangkut dengan mobil yang dihias seperti mobil pengantin. Dari Salatiga ini kami konvoi menuju Semarang. Titik berkumpulnya di halaman kelenteng Tay Kak Sie, di pecinan Semarang.

Kelenteng ini sangat tua: didirikan tahun 1771. Bangunan kuno di samping halaman terlihat bekas terbakar. Itulah rumah abu jenazah. Terbakar dua tahun lalu.

Setelah shalat duhur di kelenteng Tay Kak Sie itu saya bergabung di barisan yang sudah siap jalan. Yang paling depan adalah pembawa bendera kebesaran kelenteng Gudo. Seperti yang sering Anda lihat di film silat Hong Kong.

Di belakang bendera berbaris para wanita pembawa bunga. Saya di belakang wanita bunga itu. Dewa dari Gudo pun dikeluarkan dari mobil. Diserahkan ke saya.

Di belakang saya, barisan seluruh anggota rombongan.

Paling belakang adalah kelompok musik kelenteng, lengkap dengan tamburnya.

Diiringi tetabuhan bertambur itulah kami melangkah. Pelan-pelan. Meninggalkan halaman kelenteng ini. Ke arah kelenteng yang lain: kelenteng Ling Hok Bio. Jaraknya sekitar 500 meter. Lewat jalan utama pecinan Semarang.

Yang saya bawa tersebut adalah dewa Hok Tik Cing Sin. Dewa Bumi. Disebut juga Dewa Tanah. Di kelenteng, Dewa Tanah ini banyak disembah oleh pengusaha real estate.

Di sepanjang jalan menuju kelenteng Ling Hok Bio masyarakat menyaksikan di pinggir jalan. Sambil banyak yang menuding-nuding saya. Pengeras suara memang menyebut si pembawa dewa adalah anaknya Pak Iskan itu.

Menjelang sampai di Ling Hok Bio perjalanan kami harus berhenti. Di situ diadakan penyambutan dari tuan rumah. Petasan dihampar di depan kami. Meletus bersautan. Letusan mercon reda kami disambut Barongsai tuan rumah. Lalu satu hamparan mercon lagi digelar. Letusannya bertubi-tubi. Meriah sekali.

Tiba di depan altar Ling Hok Bio dewa Bumi itu saya serahkan ke tuan rumah. Untuk diletakkan di altar khusus. Ditonton ratusan orang.

Saya pun memperhatikan altar itu. Sudah banyak dewa berjajar di situ. Rupanya sudah banyak delegasi dari kelenteng lain yang lebih dulu menyerahkan dewa ke tuan rumah.

Setelah kami pun masih akan banyak dewa-dewa lain yang berdatangan.

Pagi ini dewa-dewa itu akan diarak keliling jalan-jalan di pecinan Semarang. Untuk pawai ta'aruf. Memperingati ulang tahun kelahiran salah satu dewa unggulan di Ling Hok Bio.

Di sepanjang jalan dekat Ling Hok Bio terlihat berjajar ''paddock'' para dewa. Di ''paddock'' masing-masing terdapat tandu. Sedang dihias dengan bunga. Semua sibuk menghias tandu. Satu kelenteng, satu tandu.

Di tandu itulah, Minggu pagi ini, dewa diletakkan. Untuk dipikul, dibawa berpawai ta'aruf para dewa.

Saya sudah beberapa kali ikut arak-arakan dewa seperti itu. Di Bogor saja dua kali. Juga di Singkawang.

Yang di Semarang ini adalah untuk merayakan hari lahir salah satu dewa di kelenteng Ling Hok Bio. Di antara lebih 70 kelenteng itu saya lihat ada klenteng Slawi (Tegal), Bandung, Tangerang, Krian, Jalan Demak Surabaya. Dan banyak lagi.

Tidak semua kelenteng kirim dewa ke acara ini. Kelenteng tua tahun 1771 tadi termasuk yang tidak ikut mengirimkan dewa. Padahal kelenteng ini punya lebih dari 40 dewa. Altarnya saja 29. Tiap dewa ditempatkan di satu altar tersendiri.

Banyaknya altar itu membuat kelenteng ini ramai. Punya banyak dewa. Dewa apa saja ada. Maka yang datang untuk minta sesuatu ke dewa tanah bisa dilayani. Yang minta keadilan bisa datang ke dewa Hakim Bao. Lalu ada dewa Kwan Im. Bahkan di sini ada dewa Cheng Ho "rupanya Cheng Ho sudah didewakan. Masih ada lagi Buddha. Dewa laut. Dewa penolakan bencana. Dewa kepintaran. Dan banyak lagi.

Salah satu patung di kelenteng itu adalah patung suhu sedang memancing. "Beliau memancing tanpa kail. Beliau menunggu sampai ada ikan yang dengan sukarela datang memakan benang pancing itu," ujar penjaga kelenteng di situ.

Kirab dewa di Semarang ini adalah acara kedua saya yang terkait dengan kelenteng. Di bulan ini.

Pekan lalu saya diundang ke Munas kelenteng yang tergabung di Tri Dharma. Di Jakarta International Expo di Kemayoran. Saya, yang muslim ini, diminta membuka Munas itu.

Saya memang lagi berharap agar Tri Dharma segera mendapat ketua umum yang baru. Lalu terjadi kerukunan lagi seperti di zaman ketua umum Ongko Prawiro yang meninggal dunia.

Saya diminta memukul gong. Sebelum membuka Munas itu saya undang lebih 15 tokoh kelenteng untuk ikut naik panggung. Lalu semua saja secara giliran menabuh gong pembukaan. Termasuk tokoh kelenteng dari Riau. Ibu Maria. Pengusaha besar sawit di pulau Rupat. Dia sendiri saja sudah membawa 200 mandat dari 200 kelenteng di seluruh Riau.

Munasnya pun lancar. Ketua umum baru terpilih dengan aklamasi: Go Sik Kian dari Tulungagung.

Ke depan kelihatannya akan kian banyak pawai dewa seperti di Semarang hari ini. Kediri segera mengadakan. Lasem. Slawi. Dan banyak lagi.

Ulang tahun dewa semakin meriah saja.

Populer

Pensiunan ASN Bakal Terima Uang Pensiun Langsung dari Kas Negara pada 2027

Sabtu, 10 Oktober 2026 | 16:07

Siaga 98 Desak DPR Kaji Putusan MK Terkait Gibran

Minggu, 11 Oktober 2026 | 09:41

Kuliah Bukan Bukti Tamat SMA

Senin, 12 Oktober 2026 | 10:55

Parpol seperti Kompak Menolak Bela Gibran

Minggu, 11 Oktober 2026 | 04:35

Purnawirawan TNI Bersikap Kenegarawanan soal Putusan MK terkait Gibran

Minggu, 11 Oktober 2026 | 04:50

Bupati Klaten Dikabarkan Terjaring OTT KPK

Kamis, 15 Oktober 2026 | 11:10

Adik dan Orang Kepercayaan Kepala BNPB Suharyanto Dikabarkan Ditetapkan Tersangka KPK

Rabu, 14 Oktober 2026 | 10:12

UPDATE

Ketika Gerakan Sosial Baru Menggugat Tatanan Politik

Selasa, 20 Oktober 2026 | 00:15

Ada Demo Mahasiswa, Masyarakat Diimbau Hindari Kawasan Monas

Selasa, 20 Oktober 2026 | 00:00

Cegah Perpecahan, Bagusnya Gibran Mundur

Senin, 19 Oktober 2026 | 23:38

Ada Indikasi Dendam Politik di Balik Wacana Pelengseran Gibran

Senin, 19 Oktober 2026 | 23:24

Legislator PKB Serahkan Bantuan bagi Korban Kebakaran di Majalengka

Senin, 19 Oktober 2026 | 23:01

Realisasi Investasi Hingga Kuartal III Sentuh Rp1.539 T

Senin, 19 Oktober 2026 | 22:58

Dua Tahun Pemerintahan Prabowo, Investasi Tembus Rp3.923 Triliun

Senin, 19 Oktober 2026 | 22:58

Ferry Juliantono Terpilih Jadi Presiden Syarikat Islam

Senin, 19 Oktober 2026 | 22:53

Masyarakat Adat Wanam Merauke Butuh Pelatihan Pertanian Berkelanjutan

Senin, 19 Oktober 2026 | 22:45

BEM-KSI Gelar Silaturahmi ke PBNU dan Beri Apresiasi ke Gus Gudfan

Senin, 19 Oktober 2026 | 22:29

Selengkapnya