Berita

Ketum PBNU saat pidato di acara puncak resepsi 1 abad usia NU di Gelora Delta Sidoarjo, Jawa Timur/Net

Dahlan Iskan

Salam Baru

JUMAT, 10 FEBRUARI 2023 | 04:16 WIB | OLEH: DAHLAN ISKAN

KALIMAT penutup salam ala NU itu memang sulit diucapkan. Pun oleh tokoh Banser seperti Erick Thohir yang menteri BUMN. Seperti yang terlihat saat ketua panitia itu menutup sambutannya di puncak acara satu abad NU Selasa lalu.

Dan itu disengaja. Oleh penemunya.

Tujuannya: agar yang bukan NU-asli tidak mudah mengucapkannya. Begitulah menurut ensiklopedia NU.


Dulu, NU punya ciri khas tersendiri dalam menutup salam. Yakni memasukkan kalimat billahi taufiq wal hidayah. Itu diucapkan sebelum salam penutup wassalamu'alaikum warahmatullahi wabarakatuh.

Yang menciptakan kalimat tambahan penutup itu orang Kendal. Tokoh NU setempat. Kiai besar di sana. Imam masjid agung dekat alun-alun Kendal. Namanya: KH Ahmad Abdul Hamid. Beliau meninggal tahun 1998.

Kalimat tambahan itu lantas sangat populer. Sampai dipakai oleh siapa saja di luar lingkungan NU. Rasanya lebih terlihat Islam kalau salamnya didahului kalimat tambahan tersebut.

Maka pihak-pihak yang ingin terlihat lebih Islam menggunakan kalimat tambahan itu. Secara politik Golkar sangat ingin terlihat dekat dengan Islam. Maka kalimat tambahan itu sangat populer di pidato-pidato tokoh Golkar saat itu. Apalagi banyak tokoh Islam berada di Golkar.

NU pun seperti merasa ''kecurian''. Apalagi NU saat itu lebih dekat ke PPP dengan lambang Kakbahnya. Kiai Ahmad Abdul Hamid pun merasa masygul: kalimat tambahan itu tidak lagi khas NU.

Maka beliau menciptakan kalimat tambahan baru. Untuk menggantikan billahi taufik wal hidayah yang sudah milik Golkar atau Muhammadiyah. Dan kalimat baru itu memang lebih sulit diucapkan bagi lidah yang tidak akrab dengan bahasa Arab.

Cobalah Anda mengucapkannya: wallahul muwafiq ila aqwamit tharieq. Sulit kan?

Tapi bagi orang pesantren sama sekali tidak sulit. Maka jadilah kalimat tambahan itu ciri khas NU yang baru. Siapa yang menutup salam dengan tambahan kalimat itu pastilah ia NU. Yang tidak mengucapkannya berarti Muhammadiyah atau yang lain.

Tapi sejarah rupanya bisa  terulang. Kini kalimat sulit itu mulai dihafal siapa saja. Wali Kota Surabaya Eri Cahyadi, yang PDI-Perjuangan, sangat fasih mengucapkannya.

Akankah kalimat baru itu akan senasib dengan billahi taufiq wal hidayah? Rasanya begitu. Terutama karena suara NU di pemungutan suara Pemilu dianggap sangat penting.

Orang mulai ingin terlihat lebih NU dengan mengucapkannya. Itu sudah mirip dengan tokoh-tokoh PDI-Perjuangan harus membuka salam dengan pekikan heroik: ''M e r d e k a!''. Sampai tiga kali.

Kapan kalimat baru khas NU itu mulai dipakai?

Mas'ud Adnan, tokoh NU Jatim, mengatakan sudah lupa kapan pertama menggunakannya. "Saya terpengaruh oleh teman-teman PMII," ujar Pemimpin Redaksi Harian Bangsa itu.

Menurut Mas'ud, anggota PMII-lah yang paling gencar menggunakannya. PMII adalah organisasi mahasiswa NU.

Setahu Mas'ud, Gus Dur sendiri tidak pernah menggunakan kalimat tambahan itu. "Sampai saya ketularan tidak pernah menggunakannya," katanya. "Baru belakangan saya terpengaruh teman-teman PMII," tambahnya.

Gus Dur juga tidak pernah menggunakan kalimat tambahan yang lama. Terutama, guraunya, sejak kalimat itu dipinjam oleh Golkar dan tidak pernah dikembalikan.

Populer

Pensiunan ASN Bakal Terima Uang Pensiun Langsung dari Kas Negara pada 2027

Sabtu, 10 Oktober 2026 | 16:07

Siaga 98 Desak DPR Kaji Putusan MK Terkait Gibran

Minggu, 11 Oktober 2026 | 09:41

Kuliah Bukan Bukti Tamat SMA

Senin, 12 Oktober 2026 | 10:55

Parpol seperti Kompak Menolak Bela Gibran

Minggu, 11 Oktober 2026 | 04:35

Purnawirawan TNI Bersikap Kenegarawanan soal Putusan MK terkait Gibran

Minggu, 11 Oktober 2026 | 04:50

Bupati Klaten Dikabarkan Terjaring OTT KPK

Kamis, 15 Oktober 2026 | 11:10

Adik dan Orang Kepercayaan Kepala BNPB Suharyanto Dikabarkan Ditetapkan Tersangka KPK

Rabu, 14 Oktober 2026 | 10:12

UPDATE

Jokowi Dalangi Operasi Politik Pertahankan Wapres Gibran

Senin, 19 Oktober 2026 | 04:14

Jokowi sudah Ditinggalkan Parpol, Polri, hingga Oligarki

Senin, 19 Oktober 2026 | 04:00

Pejabat BNPB juga Korupsi Pengadaan HT Penanganan Karhutla

Senin, 19 Oktober 2026 | 03:37

Status MSCI Bukan Tanda Kiamat

Senin, 19 Oktober 2026 | 03:21

Penguatan Ekosistem Dagang RI Didorong Tembus 5 Besar Ekonomi Dunia

Senin, 19 Oktober 2026 | 03:06

Mengenal Ahmad Luthfi Auditor BPK yang Minta Jatah Rp600 Juta

Senin, 19 Oktober 2026 | 02:37

Mantan Kadivhubinter Polri Napoleon Bonaparte Meninggal Dunia, Polri Sampaikan Duka Cita

Senin, 19 Oktober 2026 | 02:17

MSCI Pertanyakan Pasar RI, BEI Harus Buktikan Pengawasan Bekerja

Senin, 19 Oktober 2026 | 02:06

Fahira: Mimpi dan Cita-cita Tak Boleh Dibatasi Kondisi Ekonomi

Senin, 19 Oktober 2026 | 01:35

Polisi Tembak Polisi di Markas Ditpolairud Pondok Cabe, Pelaku Ditahan

Senin, 19 Oktober 2026 | 01:15

Selengkapnya