Berita

Bakal calon presiden 2024, Anies Baswedan/Ist

Publika

Jangan Salah Paham terhadap Anies

OLEH: MUKHLAS SYARKUN
JUMAT, 03 FEBRUARI 2023 | 10:28 WIB

SEJUMLAH pihak terus menyerang Anies Baswedan dengan tuduhan yang bukan hanya tidak pas, tapi juga kurang pantas. Apalagi jika mengingat kita orang beragama dan orang Timur. Ada etika, ada pakem, ada sopan santun yang harusnya dijaga bersama.

Berbeda pendapat itu hal biasa. Namanya juga hidup di negara demokrasi. Tapi jangan perbedaan itu membuat kita bermusuhan, terbelah, saling caci, dan menfitnah satu sama lain. Ini jauh dari etika ketimuran kita. Perbedaan harus dianggap sebagai sesuatu yang biasa.

Yang sering dituduhkan kepada Anies itu radikalisme. Anies itu radikal, katanya. Serendah-rendahnya, Anies dituduh dapat dukungan dari kelompok radikal. Apa benar sih?


Pertama, Anies bukan seseorang yang punya rekam jejak radikal. Anies bukan bagian dari kelompok kanan. Orang sudah tahu semua soal ini. SMA pertukaran pelajar di Amerika, S2 dan S3 di Amerika, mendirikan Yayasan Indonesia Mengajar yang mengirim para guru ke pelosok-pelosok negeri, memimpin gerakan Indonesia Mengajar, jadi rektor Universitas Paramadina yang seringkali dikenal agak kiri, diamanahi jadi Mendikbud, dan terakhir terpilih jadi Gubernur DKI lima tahun.

Ini rekam jejak Anies yang mustahil dan mustahal dia sampai berpikiran kanan. Sampeyan semua pasti tidak akan menunjukkan satu bukti pun kalau Anies itu kelompok kanan.

Ada yang nuduh Anies Wahabi dan Syiah. Lah, Wahabi dan Syiah kan musuhan. Saudi itu Wahabi, Iran itu Syiah. Mereka seperti musuh bebuyutan. Mosok Anies itu Wahabi sekaligus Syiah. Ini kan mustahil bin mustahal.

Kedua, lurah, bupati, walikota, gubernur pasti pendukungnya macam-macam. Ada Muslimat NU, ada Aisiyah, ada wanita pengajian, ada pelacur, ada ulama, ada pemabuk, malah ada koruptor. Namanya juga banyak pendukung, pasti dari macam-macam kelompok dan karakter. Apa kemudian Anies mau bilang 'eh kamu pemabuk, pelacur, pencopet, Islam garis keras, jangan dukung saya'. Kan enggak boleh begitu.

Anies sedang cari pendukung, bukan sedang dakwah. Entar kalau sudah jadi presiden, bagaimana tugas presiden adalah menyatukan semua kekuatan bangsa untuk secara bersama-sama membangun perdaban dan kemajuan. Tidak peduli pendukungnya dari agama apa dan kelompok mana. Semuanya diajak kolaborasi membangun bangsa ini. Kolaborasi membangun NKRI. Kalau kita cinta NKRI, ya harus kompak dan bersedia membangun negeri berbendera merah putih.

Ketiga, Anies ini calon menang. Maka orang-orang baik, kelompok moderat dan moderen, khususnya warga Nahdliyin, yang harus banyak merapat agar bisa ikut mewarnai kepemimpinan Anies nantinya. Anies harus dikawal oleh orang-orang baik. Anies harus dikawal oleh orang-orang yang moderat dan moderen. Orang-orang pintar di NU harus ikut mengawal Anies.

Tugas presiden itu tidak ringan. Begitu banyak masalah yang harus dibenahi. Anies akan butuh orang-orang di sekelilingnya yang bisa memberi masukan dan gagasan untuk membangun bangsa ini ke depan. Jangan biarkan Anies sendirian mengurus negeri ini. Harus kita, khususnya warga Nahdliyin yang kiprahnya di negeri tidak diragukan lagi, baik prakemerdekaan hingga mengisi kemerdekaan.

Warga NU punya karakter tawassuth. Warga NU itu moderat. NU selalu berada di samping pemimpin negara dan mendukung serta mendampingi setiap pemimpin negara mengurus negeri ini. Siapapun pemimpinnya, tokoh-tokoh NU pasti mendukung, mengawal, mengarahkan, dan ikut membantu membenahi bangsa ini. Tidak ada ceritanya NU itu oposisi selama pemimpin itu baik dan bekerja untuk negara.

Hubungan Anies dengan banyak tokoh NU itu sangat baik. Kita biasa dengar komentar-komentar KH Said Agil Siraj. Beliau sering memuji Anies dari dulu. Itu tandanya Kiai NU sangat dekat dengan Anies. Tidak mungkin Kiai Said asal bicara. Tidak mungkin Kiai Said salah menilai. Kalau Anies tidak dekat dengan tokoh-tokoh NU, beliau pasti tidak mengapresiasi Anies.

Jangan mau diprovokasi oleh para politisi yang jelek-jelekin calon pemimpin. Siapapun calon pemimpin itu. Ya termasuk Anies. Kader NU itu tawassuth, moderat, dan objektif.

Penulis adalah Pendiri NU Cabang Istimewa Malaysia

Populer

PKS Anggap Permintaan Maaf Raffi Ahmad Belum Cukup

Minggu, 01 November 2026 | 22:28

Bonatua akan Diperiksa Bareskrim terkait Dugaan Pemalsuan Dokumen Suket Gibran

Rabu, 04 November 2026 | 23:19

Syarat Penerima BSU 2026 Resmi dari Kemnaker, Cek Kriterianya

Jumat, 30 Oktober 2026 | 16:29

Jokowi Jangan Mimpi PSI Jadi Partai Besar

Selasa, 03 November 2026 | 02:41

Boikot Raffi Ahmad-Willie Salim Cederai Nilai Demokrasi

Senin, 02 November 2026 | 20:11

Peringatan Yusril soal Pencalonan Gibran Problematik Kini Terbukti

Minggu, 01 November 2026 | 12:02

KPK Bongkar Dugaan Akal-akalan Cukai Rokok PT Djarum Sejak 2010

Senin, 02 November 2026 | 15:43

UPDATE

Hari Bakti, Lapas Cianjur Gelar Aksi Bersih-Bersih melalui Imipas Peduli

Jumat, 06 November 2026 | 22:35

Kejagung Sita Rp11,7 Miliar dalam Kasus Nikel Arif Kurniawan

Jumat, 06 November 2026 | 22:31

Kapolri Banjir Dukungan Bongkar Kasus Penyadapan

Jumat, 06 November 2026 | 22:21

Bank Mandiri Bukukan Laba Bank Only Rp46,5 Triliun

Jumat, 06 November 2026 | 22:19

Aturan Berubah, Ekspor ke Jepang hingga Uni Eropa Masuk Daftar Relaksasi

Jumat, 06 November 2026 | 22:06

11 Kreator Indonesia Siap Bersaing di TikTok Awards Southeast Asia 2026

Jumat, 06 November 2026 | 21:48

Singgung Jokowi-Gibran, Penyadapan Prabowo Diduga Bermuatan Politik

Jumat, 06 November 2026 | 21:39

Pegasus di Indonesia: Sekadar Mitos atau Ancaman Nyata?

Jumat, 06 November 2026 | 21:26

MedcoEnergi Umumkan Penerbitan Obligasi Senilai 300 Juta Dolar AS

Jumat, 06 November 2026 | 21:26

Ketika Listrik Membuka Peluang: Dari Rumah Tangga hingga Ekonomi Desa

Jumat, 06 November 2026 | 21:03

Selengkapnya