Berita

Rizal Ramli/Net

Politik

Kiprah Rizal Ramli Selamatkan PLN dan Garuda Indonesia

SELASA, 24 JANUARI 2023 | 22:06 WIB | LAPORAN: ANGGA ULUNG TRANGGANA

Reputasi kiprah Begawan ekonomi Nasional Rizal Ramli dalam membangun negara tidak perlu diragukan. Pria yang karib disapa RR ini nampak gigih dalam menyuarakan kebenaran dan keadilan sosial.

Selama menjalankan tugas kenegaraannya, RR memiliki keahlian dalam mengelola keuangan negara. Selama ini, RR telah berhasil mengatasi banyak masalah di berbagai lembaga negara baik kementerian maupun Badan Usaha Milik Negara (BUMN).

Diantaranya, BUMN seperti PLN dan Garuda Indonesia terbukti berhasil menyelamatkan perusahaan yang hampir bangkrut. Pada tahun 2000, PT PLN (Persero) nyaris bangkrut karena jumlah modal minus Rp 9 triliun, sedangkan asetnya Rp 50 triliun.


Di tangan RR, ia menolak skema permintaan uang PLN dari negara untuk penyertaan modal. Langkah yang dilakukan RR dengan cara luar biasa dalam menyelamatkan PLN.

Berbagai cara yang dilakukan, salah satunya adalah melakukan renegosiasi harga beli listrik dari swasta. Teknisnya, harga yang awalnya 7-9 sen/kWh dolar AS turun jadi 3,5 sen/kWh dalam kurs dolar AS. Saat itu, beban utang pemerintah dan PLN turun dari 80 miliar dolar AS ke 35 miliar dolar AS.

Langkah kedua, RR merevaluasi aset PLN. Bahkan di tangan aset PLN meningkat 4 kali lipat dari Rp 52 triliun ke Rp 202 triliun. Bahkan modal PLN yang mulanya dalam keadaan minus Rp 9,1 triliun brubah menjadi Rp 119,4 triliun. RR berhasil membuat negara negara mendapat keuntungan dari pajak hasil revaluasi aset yang mencapai 30 persen.

"Kemudian sebagian saya masukan modal, dari minus Rp 9 triliun, jadi Rp 104 triliun. Belum pernah dalam sejarah BUMN, BUMN diselamatkan tanpa uang," jelas Rizal Ramli.

Selain itu, RR dalam mengelola Garuda, nyaris disita pesawatnya karena kredit macet Rp 1,8 triliun. Ia kemudian melakukan pembenahan dan selamat.

"Walaupun hari ini merugi lagi, karena kacau yang mengelolanya,” ungkap Rizal.

Kala itu, jelas RR, pada tahun 2000-2001 Garuda dituntut bangkrut karena gagal bayar utang senilai 1,8 miliar dolar AS. Bahkan, saat itu, Garuda diancam disita oleh kreditor-kreditor Eropa.

Konsorsium bank Eropa mengancam jika tidak dibayar, konsorsium akan menarik pesawat-pesawat Garuda. Dalam kondisi itu, Rizal Ramli menyelamatkan Garuda tidak dengan arbitrase , tapi menggunakan cara-cara di luar pandangan umum kebanyakan.

"Kami melakukan langkah untuk renegoisasi dengan kreditor akhirnya Garuda selamat itu pun dengan guarantee hanya sekitar 100 juta dolar AS. Mereka minta full guarantee," kata Rizal.

Di tangan RR, pemerintah malah mengancam konsorsium bank ke pengadilan. Sebab, yang diketahui RR pesawat yang telah dibeli oleh maskapai plat merah itu ternyata hasil penggelembungan.

RR menjelaskan bahwa argumentasi menggugat konsorsium karena telah membiayai mark up pembelian pesawat keluarga presiden.

Cerita RR, ancaman tersebut, konsorsium bank meminta agar menempuh jalan damai.

Selanjutnya pada tahun 2015 atau tepatnya sebulan sebelum diangkat sebagai Menko Kemaritiman Jokowi, ia kembali menyelamatkan Garuda. RR saat itu menyampaikan pembelian pesawat yang juga bermasalah.

Mantan Menteri Bidang Kemaritiman era Presiden Jokowi itu menegaskan bahwa apa yang ia lakukan bisa dibuktikan dari laporan KPK. Maka, saat itu RR kembali berupaya menyelamatkan Garuda untuk kedua kalinya.

"Dan ini pasti bakal merugi terus dan memang kenyataannya berapa tahun kemudian ruginya makin lama makin besar," kata Rizal.

RR bahkan secara langsung menyampaikan ke presiden Jokowi untuk membatalkan pesanan pesawat karena dianggap membahayakan.

RR mengingatkan Jokowi untuk segera menghentikan pembelian pesawat Airbus A350 oleh Garuda Indonesia dan kementerian BUMN. Saran itu ia sampaikan karena berpotensi membuat Garuda merugi dan bermuatan KKN.

"Menjelang saya masuk, saya ketemu Pak Jokowi 'Mas, Garuda sudah bahaya lagi, harus di-cancel pembelian pesawat," ujar Rizal Ramli.

Populer

Kajian Online Minta Maaf ke SBY dan Demokrat

Senin, 05 Januari 2026 | 16:47

Arahan Tugas

Sabtu, 03 Januari 2026 | 11:54

Prabowo Hampir Pasti Pilih AHY, Bukan Gibran

Minggu, 04 Januari 2026 | 06:13

Taktik Pecah Belah Jokowi Tak akan Berhasil

Sabtu, 10 Januari 2026 | 06:39

Pendukung Jokowi Kaget Dipolisikan Demokrat

Rabu, 07 Januari 2026 | 13:00

Menanti Nyali KPK Panggil Jokowi di Kasus Kuota Haji

Minggu, 11 Januari 2026 | 08:46

Penculikan Maduro Libatkan 32 Pesawat Buatan Indonesia

Selasa, 06 Januari 2026 | 13:15

UPDATE

Andre Rosiade Sambangi Bareskrim Polri Usai Nenek Penolak Tambang Ilegal Dipukuli

Senin, 12 Januari 2026 | 14:15

Cuaca Ekstrem Masih Akan Melanda Jakarta

Senin, 12 Januari 2026 | 14:10

Bitcoin Melambung, Tembus 92.000 Dolar AS

Senin, 12 Januari 2026 | 14:08

Sertifikat Tanah Gratis bagi Korban Bencana Bukti Kehadiran Negara

Senin, 12 Januari 2026 | 14:03

KPK Panggil 10 Saksi Kasus OTT Bupati Lampung Tengah Ardito Wijaya

Senin, 12 Januari 2026 | 14:03

Prabowo Terharu dan Bangga Resmikan 166 Sekolah Rakyat di Banjarbaru

Senin, 12 Januari 2026 | 13:52

Kasus Kuota Haji, Komisi VIII Minta KPK Transparan dan Profesional

Senin, 12 Januari 2026 | 13:40

KPK Periksa Pengurus PWNU DKI Jakarta Terkait Dugaan Korupsi Kuota Haji

Senin, 12 Januari 2026 | 13:12

Prabowo Tinjau Sekolah Rakyat Banjarbaru, Ada Fasilitas Smartboard hingga Laptop Persiswa

Senin, 12 Januari 2026 | 13:10

Air Naik hingga Sepinggang, Warga Aspol Pondok Karya Dievakuasi Polisi

Senin, 12 Januari 2026 | 13:04

Selengkapnya