Berita

Moch Eksan/Ist

Publika

Intelektual Tukang

OLEH: MOCH EKSAN
MINGGU, 08 JANUARI 2023 | 01:24 WIB

PROF Dr Jimly Ashiddiqie, SH, MH menyebut para ahli di sekitar Presiden Joko Widodo adalah intelektual tukang stempel. Mereka yang membenarkan presiden mengeluarkan Perppu Nomor 2 tahun 2022 tentang Cipta Kerja.

Padahal, apa yang dilakukan presiden melanggar konstitusi, yang berpotensi dimakzulkan di tengah jalan. Sebuah pelanggaran yang sangat serius yang bisa dijadikan alasan hukum untuk meng-game over Presiden Jokowi.

Lepas dari perdebatan Perppu Cipataker melanggar hukum atau tidak, yang menarik dari lontaran Prof Jimly adalah tentang Intelektual Tukang. Istilah ini bukan istilah baru. Istilah yang pertama kali digulirkan oleh KH Abdurrahman Wahid alias Gus Dur.


Diskursus tersebut muncul bersamaan dengan berdirinya Ikatan Cendekiawan Muslim Indonesia (ICMI) pada 7 Desember 1990. Di mana, para intelektual kampus berbondong-bondong masuk ke organisasi yang dibidani oleh Prof Dr Ing BJ Habibie, Presiden ke-3 Republik Indonesia.

Gus Dur adalah tokoh yang menentang berdirinya ICMI dan mendirikan Forum Demokrasi bersama dengan para tokoh intelektual oposan Orde Baru lainnya.

Mereka adalah Gus Dur, Bondan Gunawan, Rahman Tolleng, Todung Mulya Lubis, Daniel Dhakidae, Marsillam Simanjuntak, Tri Agus Susanto, Khatibul Umam Wiranu, Rocky Gerung, Benny Tidayoh, Kemala Atmojo, dan lain sebagainya.

Sesungguhnya, istilah intelektual tukang merupakan kritik terhadap para ilmuwan kampus yang berperan sebagai tukang stempel kebijakan pemerintah. Meskipun, kebijakan itu merugikan rakyat banyak. Mereka lebih berpihak pada kepentingan penguasa daripada rakyat.

Peter Drucker, penulis dan bapak manajemen modern asli Wina, Austria, menyebut intelektual tukang dengan knowledge worker (pekerja pikiran). Mereka para ilmuwan kampus yang sibuk mengajar di kelas, jadwal padat dengan proyek penelitian, nyambi sebagai staf ahli dari penguasa atau pengusaha, dan berorientasi memperoleh cuan sebanyak-banyaknya.

Para cerdik pandai semenjak zaman Yunani sampai sekarang, merupakan sumber kepemimpinan daerah dan nasional. Banyak di antara mereka yang menjadi pejabat publik. Sebab, keberpihakannya pada rakyat dalam vis a vis dengan rezim penguasa yang lalim.

Independensi intelektual adalah sifat utama dalam menjalankan Tridarma perguruan tinggi, baik dalam pengajaran, penelitian maupun pengabdian masyarakat. Siapapun tak boleh mencaplok kemerdekaan mimbar kampus dalam pengembangan ilmu pengetahuan dan teknologi.

Sayangnya, tak banyak intelektual kampus yang merdeka dalam mengembangkan gagasan. Terutama yang berkaitan dengan public policy dan public budgeting. Sebab, ini langsung menohok jantung rezim penguasa.

Sebagai sang pencerah, para intelektual kampus sangat paham terhadap peta jalan penyelesaian masalah publik. Berbagai inovasi kebijakan dan anggaran publik dikantonginya. Tinggal, mau atau tidak, rezim penguasa mengambil hasil penemuan perguruan tinggi yang disumbangnya.

Pengarusutamaan hasil penelitian perguruan tinggi, nyaris banyak yang belum ditindaklanjuti dalam pengambilan kebijakan dan penggunaan anggaran. Terlebih, peran dan fungsi perguruan tinggi seperti menara gading tak bersentuhan dengan dinamika problematika bangsa dan rakyat.

Ditambah, setelah diberlakukannya Undang-undang Nomor 14 Tahun 2007 tentang Guru dan Dosen, terjadi peningkatan kesejahteraan sekaligus orientasi intelektual. Kompetisi material dalam koleksi mobil dan kepemilikan rumah mewah, merupakan efek samping tak terelekkan di kalangan mereka.

Kampus seperti showroom mobil dengan merk terbaru. Sementara, tugas pokok dalam pengembangan intelektualisme sangat melemah. Ini dibuktikan dengan hasil karya intelektual tak berbanding dengan jumlah intelektual kampus yang ada.

Badan Pusat Statistik (BPS) menyebutkan bahwa jumlah dosen di Indonesia pada 2022 sebanyak 265,5 ribu orang. Jumlah tersebut berada di kampus negeri sebanyak 82,6 ribu dan kampus swasta sebanyak 182,8 ribu.

Perpustakaan Nasional pada 2021 mengeluarkan permintaan pelayanan ISBN sebanyak 147,4 ribu judul. Ini berarti dosen yang produktif hanya 55,5 persen. Selebihnya, 44,5 persen dosen justru tak mengeluarkan karya apapun.

Padahal, beberapa perguruan tinggi memberikan insentif penerbitan buku bagi dosen yang produktif berkarya.

Semisal UII, bagi buku utuh yang diterbitkan oleh penerbit internasional, insentifnya sebesar Rp 15 juta. Bagi yang sebagian bab dalam buku yang diterbitkan penerbitan kelas dunia, diberi insentif sebesar Rp 4 juta.

Sedangkan, dosen menerbitkan buku ajar yang diterbitkan oleh penerbit nasional, diberikan insentif sebesar Rp 5 juta.

Berbagai data di atas masih kuantitatif, belum bicara kualitatif. Apalagi memperbincangkan pengaruh efektifnya terhadap dunia di luar kampus. Sama sekali belum menyentuh hal itu.

Dari segi jumlah saja sudah cukup bukti untuk menguak lemahnya produktivitas para dosen, apalagi dari segi mutu dan pengaruh terhadap perkembangan dan kemajuan peradaban dunia.

Jadi, kritik Prof Jimly bisa dipahami, bila para intelektual kampus disebut dengan intelektual tukang. Kondisi intelektualisme di Tanah Air, masih jauh dari kata ideal. Perlu langkah simultan dalam membenahinya.

Sebagai kata akhir, saya kutipkan cuplikan pendapat dari Sayyid Husein Nasr sebagai warning bagi kita semua, sebagai berikut ini: "bahwa tidak sedikit manusia modern – tak terkecuali kalangan intelektualnya – yang rela menjual keabadian demi “menyembah” kemajuan duniawi yang bersifat fana".

Penulis adalah Pendiri Eksan Institute

Populer

Polisi Gunakan Senjata Baru OTT, 21 Kepsek Diamankan

Senin, 21 September 2026 | 03:25

Djaka Budhi Diuntungkan Berkat Menkeu Baru Suahasil Nazara

Minggu, 20 September 2026 | 14:18

Syukur Mandar Dicopot, Gerakan Oposisi Tegaskan Organisasi Bukan Milik Pribadi

Minggu, 20 September 2026 | 18:58

Serahkan Bukti Dugaan Politik Uang Muktamar ke-35 NU, KPK NU Desak KPK Usut Nusron Wahid

Jumat, 25 September 2026 | 14:51

TNI Tegaskan Lahan Teuku Umar No. 2 Aset Negara

Jumat, 25 September 2026 | 22:39

Ahmad Dedi Dikabarkan Jadi Tersangka Baru Kasus Suap Bea Cukai

Senin, 21 September 2026 | 13:33

Desakan Pecat Nusron Mencuat, Ahmad Doli Memungkinkan jadi Pengganti

Minggu, 20 September 2026 | 05:26

UPDATE

Prabowo Apresiasi Rahmat Erwin Usai Raih Emas dan Pecahkan Rekor Dunia

Minggu, 27 September 2026 | 12:11

Partai Koalisi Bela Prabowo Mati-matian tapi Diam Saat Gibran Dikritik

Minggu, 27 September 2026 | 12:05

Daftar 10 Wilayah Terpanas 27 September 2026, Suhu Capai 37,4 Derajat

Minggu, 27 September 2026 | 11:57

KPK Dalami Dugaan Aliran Rp3,5 Miliar ke Eks Ketum HIPMI

Minggu, 27 September 2026 | 11:44

Spesifikasi Samsung Galaxy A08 Resmi Meluncur di Indonesia, Baterai 6.000 mAh

Minggu, 27 September 2026 | 11:37

Indonesia Calonkan Diri untuk Kursi Tidak Tetap DK PBB Periode 2029-2030

Minggu, 27 September 2026 | 11:04

Tak Ada Satupun Partai Koalisi Pasang Badan saat Gibran Hadapi Gugatan Ijazah

Minggu, 27 September 2026 | 10:31

KPK Amankan Perhiasan Diduga Emas Saat Geledah Kanwil BPN Jatim

Minggu, 27 September 2026 | 10:17

Perang Abad 21 Sudah Dimulai, tapi Mukan di Medan Tempur

Minggu, 27 September 2026 | 10:05

Sugiono: RI Percaya PBB, Tapi Multilateralisme Harus Lebih Representatif dan Gesit

Minggu, 27 September 2026 | 09:27

Selengkapnya