Berita

Piala Dunia Qatar 2022/Net

Publika

Piala Dunia Qatar 2022, Sepak Bola Identitas dan Buzzerokrasi

OLEH: ANWAR HUDIJONO*
JUMAT, 16 DESEMBER 2022 | 11:37 WIB

MAROKO harus mengakui keunggulan gurunya, Prancis di semifinal Piala Dunia Qatar 2022 setelah kalah 0-3. Kekalahan bukan berarti kehilangan segala-galanya. Maroko masih meraih gains (keuntungan) berupa citra sebagai tim sepak bola berkeadaban.
 
Lihatlah saat menang tidak jumawa, apalagi merendahkan dan menghina lawan. Saat kalah tidak ngamuk. Menang kalah tetap melakukan sujud syukur di lapangan. Mencerminkan sikap narimo ing pandum (menerima apapun pemberian) Tuhan. Karena mereka meyakini semua yang terjadi di atas bumi itu bi idznillah (atas izin Allah).
 
Di tengah gegap-gempita pesta-pora sepak bola dunia, Maroko mengingatkan bahwa di belahan dunia lain masih ada tangis pilu rakyat Palestina yang menyayat hati karena penindasan, penjajahan dan aksi terorisme oleh Israel.
 

 
Mengingatkan bahwa dunia harus berkeadilan. Barat selama ini tidak adil. Mereka sangat keras meneriakkan hak asasi manusia (HAM) tapi pada sisi lain tutup mata atas tindakan pembasmian etnis yang terjadi di Palestina. Barat meneriakkan perdamaian, tetapi di sisi lain terus merojoki Ukrania dengan utangan senjata untuk melawan Rusia.
 
Barat kencang meneriakkan perdamaian dunia tapi pada sisi lain mengobrak abrik Suriah. Menyerpih-nyerpih Yugoslavia hingga sekarang belum selesai.

Mereka mengangkangi Irak, Libya. Membiarkan Israel memproduksi nuklir dan senjata pemusnah massal lain, sementara terus menghardik-hardik dan menfitnah Iran. “Barat munafik,” kata Presiden FIFA Gianni Infantino.
 
Maroko mencerahkan. Maroko mengingatkan. Maroko melakukan ajakan kebaikan dan mencegah kemungkaran (amar makruf nahi mungkar). Maroko memberi contoh bagaimana menjunjung tinggi sportivitas.
 
Maroko terkesan mengimplementasikan ajaran – minimal sejalan dengan - Albert Camus, filosuf Perancis, menjadikan sepak bola sebagai sumber nilai sportivitas.

“Kalau mau mendapatkan sportivitas, belajarlah kepada sepak bola,” kata Camus yang mengawali kariernya  sebagai filusuf justru dari sepak bola.
 
Seperti ditulis Wikipedia, sportivitas adalah nilai etis yang dijunjung sebagai prinsip bagi setiap insan olahraga untuk mengacu pada perilaku penghormatan, pengakuan dan toleransi hak-hak sesama insan olahraga yang menciptakan persaingan positif tanpa merugikan pihak lain atau tanpa berlaku curang, baik di dalam pertandingan maupun di luar pertandingan.
 
Lihat saja, bagaimana para pemain Maroko menyalami bahkan memeluk pemain Perancis yang mengalahkannya. Suporternya memang sedih tapi sebentar juga sudah ikhlas menerima kekalahan.

Tidak seperti suporter Belgia yang ngamuk bakar-bakar. Kalau cuma bakar tales, suwek, ikan gak masalah. Yang dibakar mobil, toko.
 
Sepak Bola Identitas
 
Untungnya Qatar tidak termasuk negara buzzerokrasi, suatu sistem negara atau masyarakat yang dikendalikan oleh para buzzer. Sehingga peragaan sportivisme, sepak bola beradab, bahkan sepak bola dakwah Maroko tidak dijuluki “sepak bola identitas” yang diframing secara negatif.
 
Coba di negara buzzerokrasi, Maroko pasti akan langsung dihujat, dicaci maki, dibully, digayang, diharu-biru. Dibuat keder, kecut dan tersipu-sipu.
 
Kalau ditanya apa itu sepak bola identitas? Para buzzer pasti tidak akan mau menjawab. Entah pura-pura budek atau akan balik  bertanya, “Lu siapa?”.

Karena para buzzer itu memang tidak punya target ilmiah. Targetnya itu muntahan ucapannya bisa membuat orang lain sakit, marah, emosi atau takut. Buzzer itu tak beda antara ngomong dengan muntah dan meludah.
 
Target para buzzer bukan otak melainkan untuk menggelapkan hati orang lain karena buzzer sendiri bertindak dari gelapnya hati.
 
Kalau ditanya mengapa hanya Maroko yang disebut sepak bola identitas  yang diframing secara negatif? Meskipun di Qatar setiap tim sepak bola membawa dan menjunjukkan identitas masing-masing. Para buzzer bisa dipastikan akan diam. Pura-pura budek.
 
Yang demikian itu modus yang dipakai para buzzer memframing Islamphobia dengan istilah radikal, intoleran, teror. Teror pun juga macam-macam. Dang kadang teror asin, dang kadang teror penyet sambal trasi.
 
Para buzzer itu akan bungkam jika sudah diajak masuk pada kawasan ilmiah. Tetapi mereka akan terus berteriak-teriak. Mereka itu seperti burung gagak. Meskipun suaranya memekakkan telinga, tetap saja berkaok-kaok. Diamnya hanya saat asyik makan bangkai.
 
Rabbi a’lam (Tuhan Maha Tahu).

*Penulis adalah Wartawan Senior Tinggal di Sidoarjo

Populer

Ketika Jenderal Memimpin yang Bukan Bidangnya

Kamis, 04 Juni 2026 | 00:15

Nama Raffi Ahmad Muncul di Sidang Blueray Cargo, Pengacara Minta Pemeriksaan Menyeluruh

Minggu, 07 Juni 2026 | 21:11

Tiga Pensiunan Jenderal Nyungsep Gegara Tersandung Kasus

Jumat, 05 Juni 2026 | 03:16

KPK Dikabarkan OTT Pejabat Imigrasi Jakarta Barat, Diduga Terkait TKA

Rabu, 03 Juni 2026 | 07:33

Rita Widyasari: Dari Suap, Gratifikasi dan TPPU hingga Korporasi Tambang

Rabu, 03 Juni 2026 | 17:07

Ketika Pencalonan Ryamizard Ryacudu sebagai Panglima TNI Dianulir SBY

Selasa, 02 Juni 2026 | 03:18

Dadan Hindayana Kena Batunya

Rabu, 03 Juni 2026 | 01:04

UPDATE

Ketua MPR Bicara Islam dan Kemajuan di Forum Mufti Dunia

Jumat, 12 Juni 2026 | 20:15

Cara Reaktivasi MyPertamina agar QR Code Aktif Lagi, Bisa Lewat Website dan Aplikasi

Jumat, 12 Juni 2026 | 19:57

Dua Akses Stasiun MRT Dukuh Atas Ditutup Imbas Demo

Jumat, 12 Juni 2026 | 19:54

Sinopsis Backrooms, Film Horor Adaptasi Serial YouTube yang Pecahkan Rekor Box Office

Jumat, 12 Juni 2026 | 19:44

Demonstran Depan UOB

Jumat, 12 Juni 2026 | 19:39

Palsukan Tanda Tangan, Bendahara BUMDes Diduga Korupsi Rp1,6 Miliar

Jumat, 12 Juni 2026 | 19:35

KPK Didesak Naikkan Status Pejabat DJBC Ahmad Dedi ke Penyidikan

Jumat, 12 Juni 2026 | 19:32

BRI Gelontorkan Dana Rp500 Miliar untuk Buyback Saham

Jumat, 12 Juni 2026 | 19:14

Jadwal Lengkap Fase Grup Piala Dunia 2026

Jumat, 12 Juni 2026 | 19:13

PDIP Diminta Tertibkan Kader Diduga Terlibat Program MBG

Jumat, 12 Juni 2026 | 18:47

Selengkapnya