Berita

Presiden Republik Indonesia, Joko Widodo di tengah Konferensi Tingkat Tinggi (KTT) G20 di Bali/Net

Publika

Manfaat Ekonomi Politik KTT G20 bagi Perekonomian Indonesia dan Dunia

SABTU, 19 NOVEMBER 2022 | 13:47 WIB | OLEH: ACHMAD NUR HIDAYAT

PERHELATAN KTT G20 telah usai 2 hari yang lalu telah menghabiskan anggaran Rp 674 miliar.

Penyelenggaraan yang sangat luxurious ini diklaim telah memberi dampak ekonomi senilai Rp 7,4 triliun bagi Indonesia dan membuka 33 ribu lapangan kerja seperti yang disampaikan oleh Menteri Pariwisata dan Ekonomi Kreatif (Menparekraf), Sandiaga Salahuddin Uno.

Entah bagaimana dan lembaga apa menghitungnya dalam waktu 2 hari bisa ketemu angka Rp 7,4 triliun tersebut. Agar lebih jelas, sebaiknya data ini disampaikan kepada publik secara transparan darimana saja kontribusi yang memberikan dampak ekonomi 7,4 triliun tersebut.


Penyerapan tenaga kerja sebanyak 33 ribu orang tersebut apakah yang terserap saat penyelenggaraan event saja ataukah lapangan kerja yang sustainable. Tentunya untuk mengetahui semua ini pemerintah bisa mempublikasikan datanya secara lengkap.

Secara penyelenggaraan berhasil menservis dan menjamu para tamu dengan baik serta keselamatannya bisa dijaga. Pelaksanaan KTT G20 ini tentu ada 3 pihak yang merasa senang, pertama para tamu yang diundang, kedua yang mengerjakan proyek infrastruktur untuk persiapan KTT G20, ketiga tentunya tuan rumah dalam hal ini Presiden Jokowi.

Output dari penyelenggaraan ini berhasil membuahkan ketenaranan. Tapi secara outcome pelaksanaan KTT G20 ini tekor. Presiden Jokowi telah mengunjungi Rusia dan Ukraina agar bisa dihadirkan dalam KTT G20 tapi ternyata tidak hadir.

Pada hari H, Indonesia tidak menghasilkan komunike untuk menghentikan perang secepatnya. Yang terjadi adalah, pada saat gala dinner terjadi serangan rudal ke Polandia yang menyulut ketegangan baru.

Tekor berikutnya adalah, KTT G20 ini menghasilkan komitmen dengan ADB berupa komitmen dana pinjaman dengan total sekitar Rp 314 triliun untuk pendanaan transisi energi sebagaimana yang disampaikan oleh Direktur Eksekutif Center of Economic and Law Studies (Celios), Bhima Yudhistira.

Sementara Sekretaris Jendral Kementrian Energi dan Sumber Daya Mineral (ESDM) Rida Mulyana bahwa kebutuhan anggaran untuk transisi energi dari energi fosil ke energi terbarukan ini membutuhkan anggaran 1 triliun dolar AS.

Bulan September yang lalu pemerintah menaikan subsidi BBM yang disinyalir untuk membayar utang luar negeri sekitar Rp 900 triliun menjadi preseden buruk karena tentunya untuk membayar utang yang akan bertambah sebanyak Rp 314 triliun ini akan memangkas berbagai anggaran yang seharusnya dapat mensejahterakan dan meringankan beban rakyat.

Publik semakin khawatir jika dampak utang yang semakin ugal-ugalan akan menambah beban masyarakat seperti menaikan pajak sebagaimana kebijakan yang telah dilakukan yaitu menaikan pajak dari 10 persen ke 11 persen, apalagi menurut UU PPN maksimal bisa mencapai 15 persen.

Dan bagaimana opportunity manfaat terhadap pemulihan ekonomi Indonesia dan dunia?  Peluangnya sangat rendah. Masalahnya adalah selain pandemi COVID 19 pemicu krisis global adalah konflik Rusia vs Ukraina.

Peranan Indonesia dalam meredakan konflik ini dianggap gagal, pertemuan pihak-pihak yang bertikai yang difasilitasi dalam KTT G20 ini tidak membuahkan hasil yang diharapkan. Eskalasi ketengan yang makin tinggi membuat pemulihan ekonomi ini menjadi pesimis.

Yang harus diingat adalah KTT G20 sekarang merumuskan persoalan krisis ekonomi global yang sedang terjadi yang salah satunya adalah akibat perang Rusia dan Ukraina. Jadi tentunya urusan stabilitas geopolitik ini harus dibahas dan diupayakan solusinya dengan kemampuan diplomasi yang smart.

Hal ini membuktikan bahwa kemampuan diplomasi Indonesia masih rendah. Fokus penyelenggaraan KTT G20 ini tampaknya lebih kepada keberhasilan penyelenggaraan seremonial event sehingga esensi dari tujuan besar KTT ini tidak tercapai.

Kesempatan besar ini kurang bisa dimanfaatkan secara optimal oleh Indonesia dalam mengambil peranan yang lebih signifikan. Indonesia dalam hal ini telah melewatkan peluang (missed opportunity).

Jika membaca Bali Leader Declaration dari KTT G20 ada lima hal dan semuanya normatif, hentikan perang, perkuat PBB, dan lain-lain. Dunia sekarang sudah multipolar, tapi deklarasinya menunjukan unipolar.

Artinya masih menjadikan PBB ini satu-satunya solusi untuk memecahkan persoalan, padahal lima anggota Dewan Keamanan PBB seperti Amerika, Rusia, Cina, Prancis dan inggris yang semuanya saat ini yang sedang bermasalah. Harusnya KTT G20 mengambil peran strategis untuk membuat tatanan lebih baru karena PBB tidak efektif.

Akhirnya, ajang KTT G20 ini menjadi lebih kental menjadi sebuah selebrasi dan seremoni saja, ditengah publik dunia kelaparan dan tidak aman akibat perang.

Banyak yang bereforia dengan keberhasilan penyelenggaraan event ini, tapi banyak yang tidak memahami persoalan besar yang semestinya mampu dipecahkan melalui event ini.

Ekonom dan Pakar Kebijakan Publik Narasi Institute

Populer

Polisi Gunakan Senjata Baru OTT, 21 Kepsek Diamankan

Senin, 21 September 2026 | 03:25

Serahkan Bukti Dugaan Politik Uang Muktamar ke-35 NU, KPK NU Desak KPK Usut Nusron Wahid

Jumat, 25 September 2026 | 14:51

TNI Tegaskan Lahan Teuku Umar No. 2 Aset Negara

Jumat, 25 September 2026 | 22:39

Ahmad Dedi Dikabarkan Jadi Tersangka Baru Kasus Suap Bea Cukai

Senin, 21 September 2026 | 13:33

KPK Dalami Dugaan Aliran Rp3,5 Miliar ke Eks Ketum HIPMI

Minggu, 27 September 2026 | 11:44

Gugatan Denny Indrayana Sia-sia, cuma Bikin Gaduh

Sabtu, 26 September 2026 | 02:36

Silfester Langsung Dicopot dari Jabatan Komisaris Independen Anak Usaha Pelindo

Kamis, 24 September 2026 | 20:07

UPDATE

Dudung Resmi Jabat Menko Polkam, Geser Djamari Chaniago

Kamis, 01 Oktober 2026 | 16:23

Pelantikan Suyudi Momentum Perkuat Profesionalisme Polri

Kamis, 01 Oktober 2026 | 16:20

Kuseryansyah Perlu Jelaskan Absen di Kejagung Terkait Kasus PT Crowde

Kamis, 01 Oktober 2026 | 16:19

Profil Suyudi Ario Seto, Kapolri Baru Pengganti Listyo Sigit

Kamis, 01 Oktober 2026 | 16:18

Harta Menko PMK Sugiono Tembus Rp13,15 Miliar

Kamis, 01 Oktober 2026 | 16:10

Prabowo Lantik Dua Wamenkeu Baru untuk Bantu Suahasil

Kamis, 01 Oktober 2026 | 16:08

7 Kali Reshuffle Kabinet Prabowo-Gibran, Ini Daftarnya

Kamis, 01 Oktober 2026 | 15:55

Inflasi Tahunan September 2026 Capai 3,28 Persen, Ini Biang Keroknya

Kamis, 01 Oktober 2026 | 15:55

Utang BLBI Lunas, Hak Tagih Negara Rp 110 Triliun Belum Tuntas

Kamis, 01 Oktober 2026 | 15:50

Pulung Agustanto: Pendidikan dan Dunia Usaha Harus Berjalan Seiring

Kamis, 01 Oktober 2026 | 15:46

Selengkapnya