Berita

Ilustrasi/Net

Dunia

Setelah Keluar dari Daftar FATF, Pakistan Makin Leluasa Dukung Terorisme di Jammu dan Kashmir

SENIN, 14 NOVEMBER 2022 | 16:44 WIB | LAPORAN: HANI FATUNNISA

Keluarnya Pakistan dari daftar abu-abu yang ditetapkan oleh lembaga pengawas Gugus Tugas Aksi Keuangan (FATF), dinilai akan semakin memperluas ruang gerak negara itu untuk mendanai teroris di wilayah Jammu dan Kashmir (J&K), India.

Pasalnya, keluarnya Pakistan dari daftar itu, akan membuat saluran uang perbankan maupun pengiriman luar negeri, kembali mengalir ke Islamabad.

Sementara India dan pihak keamanannya memiliki indikasi kuat jika Pakistan akan menggunakan uang-uang itu untuk melatih, membiayai, dan mempersenjatai kelompok teroris yang kerap menyebar aksi kekerasan di wilayah J&K.


Sejak FTAF memasukkan Pakistan ke dalam daftar abu-abu pada 2018 lalu, India menyoroti adanya penurunan angka terorisme di J&K, dengan 600-an basis teror di seberang perbatasan berkurang secara signifikan hingga sekitar 75 persen.

Namun ketika sidang pleno dua hari  yang dilakukan FTAF di Paris bulan lalu, lembaga itu memutuskan untuk menghapus Pakistan dari daftar abu-abu karena telah memenuhi rencana aksi 34 poin yang ditetapkan sebagai syarat pengeluaran.

Seorang analis pertahanan, Abhijit Iyer Mitra menilai jika apa yang diklaim telah diselesaikan Pakistan dalam poin FTAF, hanyalah latihan birokrasi statistik semata, yang dicentang tanpa tahu kejadian sebenarnya seperti apa.

"Ini adalah salah satu latihan birokrasi statistik di mana jika Anda mencentang daftar periksa tertentu, tidak masalah apa yang telah Anda lakukan. Itu hanya menunjukkan bahwa Anda entah bagaimana mengendalikan pendanaan teror, dan karena itu, Anda keluar dari daftar," jelasnya seperti dimuat ANI News.

Abhijit menambahkan jika Pakistan dapat dengan mudah mendanai teroris J&K lewat banyak jalan.

"Sedangkan kami tahu bahwa Pakistan akan menemukan beberapa rute alternatif untuk mendanai teror yang sama," tambahnya.

Menurut Layanan Riset Kongres, teroris terkemuka dan kelompok lain yang beroperasi di Pakistan terdiri dari lima jenis yang luas, tetapi tidak eksklusif.

"Mereka termasuk berorientasi global, berorientasi Afghanistan, berorientasi India, berorientasi domestik dan sektarian yaitu, anti-Syiah," ungkap laporan tersebuut.

Pakar geopolitik, Jitendra Kumar Ojha menyebut Pakistan telah berhasil membangun infrastruktur kejahatan terorganisir di seluruh dunia dan mengambil manfaat dari kehadiran mereka.

"Saya kira institusi internal Pakistan tidak dalam posisi untuk menahan mereka," ujarnya.

Sejalan dengan itu, sebuah laporan dari Departemen Luar Negeri AS tentang Terorisme 2020, yang dirilis pada Desember 2021, mencatat bahwa Pakistan tidak mengambil langkah-langkah di bawah otoritas domestiknya untuk mengadili para pemimpin teroris yang tinggal di sana.

Laporan lebih lanjut mencatat bahwa Pakistan membuat kemajuan terbatas pada aspek yang paling sulit dari Rencana Aksi Nasional 2015 untuk melawan terorisme.

Bahkan ada anggapan umum di kalangan para pakar keamanan, bahwa teroris menggunakan organisasi amal palsu sebagai kedok untuk mengumpulkan dana yang pada akhirnya digunakan untuk mempromosikan terorisme dan radikalisasi Islam.

Amerika Serikat dan India, keduanya korban terorisme, berusaha keras memberantas terorisme dengan memberikan sanksi kepada pelakunya.

Sayangnya, China, sahabat Islamabad di segala cuaca, menahan dan memblokir tawaran India dan sekutunya untuk mendaftarkan teroris yang berbasis di Pakistan.

Populer

Kekayaan Ibas Demokrat Naik Lebih 700 Persen dalam Empat Tahun, Total Rp354,7 Miliar

Kamis, 25 Juni 2026 | 05:22

Sony Sonjaya Teringat Pengacara Elza Syarief saat Dicokok Penyidik Kejagung

Rabu, 17 Juni 2026 | 01:00

Sony Sonjaya Dipaksa Setop Bicara saat Ungkap 26 Nama Diduga Terlibat Kasus MBG

Rabu, 17 Juni 2026 | 02:07

26 Nama Besar dari Sony Sonjaya di Korupsi MBG Dicatat Rapi

Rabu, 17 Juni 2026 | 03:11

KPK Sakit Jiwa

Kamis, 25 Juni 2026 | 15:08

Mitra MBG Ultimatum BGN Cabut SE 12/2026 2x24 Jam

Selasa, 23 Juni 2026 | 18:32

Tiket Jakarta Fair Tidak Ramah Kantong Rakyat Berpenghasilan Rendah

Rabu, 17 Juni 2026 | 02:21

UPDATE

Pernah Tembak Mati Perampok Toko Emas, Eks Kapolres Jakbar Kini Jabat Kapolda Papua Barat

Jumat, 26 Juni 2026 | 14:17

PIEP Datangkan 450 Ribu Barel Minyak dari Aljazair

Jumat, 26 Juni 2026 | 14:07

Din Syamsuddin Tawarkan Konsep Etika Global Bersama di Forum Internasional Mauritius

Jumat, 26 Juni 2026 | 14:05

KSP Kawal Ketat Kopdes Merah Putih hingga Capai Target

Jumat, 26 Juni 2026 | 14:04

Strategi Pertamina Trans Kontinental Jaga Stabilitas Kinerja 2026

Jumat, 26 Juni 2026 | 13:49

Lebih dari 42 Ribu Warga Ikut Pilih Logo HUT RI ke-81

Jumat, 26 Juni 2026 | 13:40

Ketika Demonstrasi Punya Harga, yang Mati Bukan Hanya Integritas Mahasiswa

Jumat, 26 Juni 2026 | 13:34

Forum Bersama Raja Charles III, Jumhur Bicara Kebijakan Pengelolaan Limbah

Jumat, 26 Juni 2026 | 13:30

Menkop Gandeng KSP Percepat Operasionalisasi Kopdes

Jumat, 26 Juni 2026 | 13:23

AKBP Supriyanto jadi Kapolres Pertama Kawasan IKN

Jumat, 26 Juni 2026 | 13:20

Selengkapnya