Berita

Sekjen PDI Perjuangan Hasto Kristiyanto/Net

Politik

Di Unair, Hasto Urai Pemikiran Bung Karno Sebagai Landasan Penting Masa Depan Dunia

JUMAT, 11 NOVEMBER 2022 | 14:55 WIB | LAPORAN: JAMALUDIN AKMAL

Pemikiran geopolitik Soekarno didasari pada Pancasila yang merupakan ideologi bangsa Indonesia. Pemikiran ini didedikasikan untuk membangun tata dunia baru yang bebas dari imperialisme dan kolonialisme, serta demokratis dan berkeadilan.

Begitu paparan Sekjen PDI Perjuangan Hasto Kristiyanto saat menjadi pembicara kunci dalam rangkaian Konferensi Banding-Belgrade-Havana yang digelar di Universitas Airlangga, Surabaya, Jumat (11/11).

Hasto memaparkan pemikiran geopolitik Presiden pertama RI, Soekarno (Bung Karno) tersebut di hadapan para peserta konferensi yang berasal dari 29 negara. Hasto sendiri adalah doktor dari Universitas Pertahanan yang disertasinya berjudul “Discourse of Soekarno's Geopolitical Thought and Its Relevance in State Defense”.


Bung Karno secara komprehensif pernah menjabarkan pemikiran pidato tersebut berjudul “To Build the World a New” pada forum PBB, September 1960.

“Pandangan Bung Karno tentang tatanan dunia baru, dan gagasannya tentang geopolitik non-ekspansionis, sangat berbeda dari Barat. Geopolitik Soekarno didasarkan pada kemanusiaan, internasionalisme, keadilan dan solidaritas antar bangsa, serta komitmen hidup berdampingan secara damai. Prinsip-prinsip ini pada akhirnya dapat menjadi landasan penting bagi masa depan dunia,” ujar Hasto, seperti diberitakan Kantor Berita RMOLJatim.

Hasto berbicara dalam bahasa Inggris selama sekira 30 menit. Dia menyapa audiens dan menyampaikan ucapan selamat datang di Surabaya, yang diperkenalkan Hasto sebagai “kota pahlawan” dan “kota revolusi”. “Sebuah kota yang memanifestasikan kepahlawanan dan semangat "merdeka atau mati",” kata Hasto soal Surabaya yang juga merupakan kota kelahiran Bung Karno.

Di sela pemaparan, Hasto memutar video yang menjelaskan tentang intisari pemikiran geopolitik Bung Karno. Sepanjang pidato, Hasto menyebut kata “Soekarno” sebanyak 15 kali.

Hasto mengemukakan, saat ini memang dunia dibayangi oleh ketidakadilan global, di mana berbagai masalah dunia semakin mengemuka belakangan ini, mulai dari kemiskinan, ketidakadilan dunia kesehatan seperti distribusi vaksin, disparitas penguasaan teknologi, hambatan di rantai pasok yang memicu inflasi dunia, perang, dan sebagainya.

“Maka sebenarnya apa yang dipelopori generasi pertama non-aligned movement (gerakan non-blok) seharusnya memantik kesadaran kita untuk menuju tata dunia baru yang lebih berkeadilan dan mengedepankan wajah kemanusiaan,” ujar Hasto.

Dalam pemikiran Soekarno, papar Hasto, geopolitik, geoekonomi, dan geostrategi digunakan untuk merumuskan kebijakan strategis kepentingan nasional dalam dinamika internasional demi terwujudnya pemikiran dunia. Hasto menggarisbawahi pentingnya diplomasi untuk kerjasama politik, ekonomi, dan budaya sebagai hal penting dalam upaya mewujudkan perdamaian dunia, alih-alih kerja sama militer. Platform kerja sama militer disebut mendapat estimasi signifikansi terendah dalam teori geopolitik Soekarno.

Hasto menegaskan, kekuatan negara-negara Asia, Afrika, dan Amerika Latin yang menggemakan semangat Konferensi Asia Afrika dan Gerakan Nonblok, serta Konferensi Tri-Kontinental harus bersatu untuk mengubah dunia, mengedepankan wajah kemanusiaan dan mendonorkan semangat kerjasama ekonomi yang adil.

“Pada akhirnya, pelestarian bumi, keselamatan alam semesta, harus diperjuangkan bersama karena kita hidup di planet yang sama,” tegas Hasto.

Rangkaian “Bandung-Belgrade-Havana Confereence” yang digelar hari ini adalah bagian dalam peringatan 65 tahun Konferensi Asia Afrika di Bandung, 60 tahun KTT Nonblok di Beograd, dan 55 tahun Konferensi Tiga Benua di Havana.

Konferensi ini pun menjadi ajang untuk kembali merefleksikan dan membumikan nilai-nilai Bandung Spirit. Tema yang dianggit adalah “Bandung- Belgrade-Havana in Global History and Perspective: “What Dreams, What Challenges, What Projects, for a Global Future” (Bandung-Beograd-Havana dalam Kerangka Sejarah dan Pemikiran Global: Impian, Tantangan dan Perencanaan Masa Depan).

Populer

Kematian Penjaga Rumah Febrie Harus Diusut Tuntas

Senin, 27 Juli 2026 | 19:53

Jubir IKN Troy Pantouw Sempat Telepon Keluarga Sehari Sebelum Ditemukan Meninggal

Minggu, 26 Juli 2026 | 20:58

Selembar Ijazah Keliling Republik

Rabu, 22 Juli 2026 | 12:00

15 Jeriken Bensin yang Menenggelamkan Jabatan Ayah

Senin, 27 Juli 2026 | 01:03

Dana Nasabah Rp2,58 Miliar Raib, BCA Digugat ke PN Jakpus

Selasa, 28 Juli 2026 | 16:02

Oknum Brimob Jadi Tersangka, KPK Pastikan Sanksi Pidana hingga Etik Menanti

Jumat, 31 Juli 2026 | 13:44

Ahli Waris Laporkan Dugaan Aset Tak Wajar Mantan Pejabat Negara ke KPK

Rabu, 22 Juli 2026 | 16:58

UPDATE

Serap Aspirasi Warga Pandeglang, Arif Rahman Kawal Sektor Pertanian dan Perikanan

Sabtu, 01 Agustus 2026 | 10:14

Hormati Putusan MK, Komisi X DPR Minta Pendidikan dan MBG Tetap Jalan Beriringan

Sabtu, 01 Agustus 2026 | 09:57

Harga Minyak Dunia Catat Kenaikan Bulanan Terbesar Sejak Maret

Sabtu, 01 Agustus 2026 | 09:51

Emas Antam Anjlok Rp20 Ribu, Satu Gram Jadi Rp2,6 Juta

Sabtu, 01 Agustus 2026 | 09:41

Kesiapan Fasilitas Zikir Kebangsaan Monas: Dari Ambulans Hingga Ratusan Ribu Konsumsi

Sabtu, 01 Agustus 2026 | 09:34

K-SIGN Rote Ndao Dipacu Jadi Pilar Swasembada Garam Nasional

Sabtu, 01 Agustus 2026 | 09:15

Harga Logam Mulia Terkoreksi Meski Mampu Akhiri Tren Penurunan

Sabtu, 01 Agustus 2026 | 09:02

Dul Mungkin Tak akan Naik Bus Malam Lagi Setelah Ketahuan Bawa Sabu

Sabtu, 01 Agustus 2026 | 08:45

Arab Saudi Sambut Kesepakatan Pelucutan Senjata di Gaza, Israel Harus Mundur

Sabtu, 01 Agustus 2026 | 08:34

Ramai Mal Pasang Pagar Tinggi di Tengah Situasi Kamtibmas Kondusif

Sabtu, 01 Agustus 2026 | 08:23

Selengkapnya