Berita

Kate Victoria Lim/Net

Publika

Kate Victoria Lim

OLEH: SUGENG SATYA DHARMA*
SELASA, 08 NOVEMBER 2022 | 12:27 WIB

ANAK 15 tahun itu meradang. Tanpa rasa takut meneriakkan ketidakadilan yang ia rasakan. Di tepi jalan, di depan gedung Mahkamah Agung, dia berteriak. “Ayah saya yang membela korban dan ingin mencari kebenaran dikriminalisasi. Untuk siapa hukum dan undang-undang sesungguhnya diadakan?”

Anak itu, dialah Kate Victoria Lim. Remaja putri yang masih duduk di bangku SMA. Tapi kondisi penegakan hukum yang timpang, terutama yang menimpa ayahnya, membuat Kate tak bisa lagi berleha-leha main hape dan Tiktok-an sebagaimana remaja seusianya. Ia maju ke depan. Merebut microphone dan meneriakkan ketidakadilan itu ke mana-mana.

Ironisnya, tak ada satu pun pejabat negara, bahkan yang katanya pembela hak asasi manusia, mendukungnya. Dengan caranya, Kate berjuang sendiri. Dia menuntut kebenaran. Kate menyuarakan ketidakadilan perlakuan yang dialami ayahnya.


Ayah Kate adalah Alvin Lim. Salah seorang advokat yang lantang menyuarakan ketidakbecusan dalam penegakan hukum di Indonesia. Lewat video-video yang dibuat dan diunggahnya di YouTube, Alvin memberitahu khalayak ramai tentang “bobroknya” mentalitas aparatur penegak hukum di Indonesia.

Alvin adalah satu dari sedikit advokat di Indonesia yang berani menyatakan kebenaran dan bersuara lantang atas ketidakadilan hukum di negeri ini. Dalam sejarah penegakan hukum di Indonesia, tak banyak nama advokat pencari dan pembela kebenaran yang bisa disebut sebagai teladan.

Sampai hari ini, selain Alvin Lim dan Kamaruddin Simanjuntak yang gigih berjuang untuk membela kliennya, kita hanya mengenal nama-nama fenomenal seperti Yap Thiam Him, Adnan Buyung Nasution, dan Munir Thalib. Selebihnya kita hanya tahu para pengacara itu sebatas ada lewat berita media massa.

Maka, ketika akhir-akhir ini muncul sejumlah kontroversi terhadap kasus-kasus hukum yang ditangani aparat kepolisian, kejaksaan dan kehakiman, nama-nama pejuang penuntut keadilan hukum dan penegak kebenaran itu pun kembali mencuat kepermukaan.

Kita kembali ingat tentang gigihnya Munir Thalib mencari kebenaran atas tewasnya Marsinah hingga akhirnya ia sendiri harus tewas karena racun arsenik. Kita pun ingat bagaimana Yap Thian Him dan Adnan Buyung Nasution, tanpa membedakan asal-usul, suku maupun agama, begitu berapi-api membela orang-orang yang dijadikan pesakitan di kursi terdakwa karena tuduhan politik.   

Hari ini ada Alvin Lim. Dia adalah satu dari sedikit pengacara keturunan Tionghoa yang berani “berjibaku” membela ribuan orang korban investasi bodong dengan kerugian mencapai belasan triliun rupiah.

Perjuangannya membela para korban itu belum berhasil ketika kemudian dia dilaporkan oleh ratusan Jaksa dari berbagai wilayah Indonesia karena konten video yang dibuatnya. Alvin bahkan akhirnya dijebloskan ke penjara karena kasus lama yang sesungguhnya sudah diputus MA.

Atas kejadian itulah Kate Victoria Lim, putrinya yang masih berusia remaja, meradang dan menuntut keadilan.

“Jika ayah saya ditangkap dan diadili karena dituduh memalsukan KTP, maka Jaksa Agung ST Baharuddin juga harus ditangkap dan diadili karena jaksa agung itu diduga memiliki KTP ganda,” teriak Kate.

Terus terang, kita kagum dengan keberanian dan kepedulian Kate. Di tengah anak-anak seusianya yang “terpapar parah budaya hedon”, Kate, dengan dukungan dari banyak orang yang bersimpati pada perjuangan ayahnya, justru meneriakkan pentingnya keadilan hukum ditegakkan di negeri ini.

Kita pun, dari apa yang dilakukan Kate, jadi semakin paham bahwa perjuangan menegakkan keadilan hukum itu memang harus terus dilakukan di negeri ini. Terutama karena hingga hari ini negara kita masih dikuasai para pemain politik, plutokrat, broker, komprador dan benalu-benalu hukum yang hidup menumpang di berbagai lembaga dan instansi pemerintah.

Maka kita harus dukung perjuangan Kate agar kita tak terus menerus bertanya mengapa Republik Indonesia ini tak pernah bisa lepas dari berbagai problem politik, ekonomi, sosial budaya, dan lebih-lebih problem hukum.

Apa yang dialami Alvin Lim, apa yang terjadi dalam kasus pembantaian Laskar FPI di KM 50 dan bagaimana rekayasa kasus pembunuhan terhadap Brigadir Joshua, adalah contoh tentang buruknya penegakan hukum di negeri ini.

Harus diakui, kondisi penegakan hukum yang buruk ini sebagai akibat ketiadaan pemimpin yang mampu memberi keteladanan. Individualisme dan kepentingan kelompok mencuat dimana-mana.

Nilai-nilai luhur warisan para Founding Fathers And Mothers negeri ini, yang menjadi dasar dari terbentuknya Republik Indonesia yang merdeka dan berdaulat, sampai hari ini terus menerus digerogoti hingga nyaris keropos.

Ah, Indonesia, negeri subur dengan 17 ribu pulau, 1340 suku dan 1211 bahasa ini sejatinya sudah 77 tahun merdeka sejak Proklamasi Kemerdekaan RI dikumandangkan pertama kali pada tanggal 17 Agustus 1945.

Namun setelah 77 tahun terbebas dari penjajahan kolonial, ternyata tidak membuat negeri ini menjadi negara yang maju peradabannya baik secara politik, ekonomi, sosial, dan lebih-lebih secara hukum dan kemanusiaan. Miris, memang!
Penulis adalah Sekretaris Forum Sastrawan Deli Serdang (Fosad)

Populer

Ketika Jenderal Memimpin yang Bukan Bidangnya

Kamis, 04 Juni 2026 | 00:15

Nama Raffi Ahmad Muncul di Sidang Blueray Cargo, Pengacara Minta Pemeriksaan Menyeluruh

Minggu, 07 Juni 2026 | 21:11

Tiga Pensiunan Jenderal Nyungsep Gegara Tersandung Kasus

Jumat, 05 Juni 2026 | 03:16

KPK Dikabarkan OTT Pejabat Imigrasi Jakarta Barat, Diduga Terkait TKA

Rabu, 03 Juni 2026 | 07:33

Rita Widyasari: Dari Suap, Gratifikasi dan TPPU hingga Korporasi Tambang

Rabu, 03 Juni 2026 | 17:07

Ketika Pencalonan Ryamizard Ryacudu sebagai Panglima TNI Dianulir SBY

Selasa, 02 Juni 2026 | 03:18

Dadan Hindayana Kena Batunya

Rabu, 03 Juni 2026 | 01:04

UPDATE

Waspadai Modus Penipuan Mengatasnamakan Bantuan Sosial

Sabtu, 13 Juni 2026 | 06:21

Ayam Mati di Lumbung Listrik

Sabtu, 13 Juni 2026 | 06:04

Narasi 'Sell Indonesia' Manipulatif

Sabtu, 13 Juni 2026 | 05:52

Krisis 1998 Meninggalkan Trauma Strategis

Sabtu, 13 Juni 2026 | 05:28

Titin Rita Lestari, Air Mata yang Tak Sempat Jatuh

Sabtu, 13 Juni 2026 | 05:09

Sangat Janggal Kejagung Tak Periksa Nanik S Deyang

Sabtu, 13 Juni 2026 | 05:01

BUMD Didorong Bertransformasi sebagai Lokomotif Ekonomi Daerah

Sabtu, 13 Juni 2026 | 04:35

Farhan Pastikan Bandung Aman Hadapi Musim Liburan

Sabtu, 13 Juni 2026 | 04:19

Bosnia-Herzegovina Gagal Bungkam Tuan Rumah Kanada

Sabtu, 13 Juni 2026 | 04:07

Jaringan Narkoba Sumsel-Jabar Dibongkar Polisi

Sabtu, 13 Juni 2026 | 03:35

Selengkapnya