Berita

Petugas kesehatan mengenakan alat pelindung/Net

Dunia

Ahli Kesehatan Afrika Ungkap Adanya Keterkaitan antara Perubahan Iklim dan Wabah

SABTU, 05 NOVEMBER 2022 | 16:36 WIB | LAPORAN: RENI ERINA

Munculnya lonjakan wabah penyakit baru-baru ini di beberapa negara Afrika telah dikaitkan oleh sejumlah ahli kesehatan dengan faktor perubahan iklim yang merugikan.

Diungkapkan Patrick Otim, Manajer Insiden Afrika Organisasi Kesehatan Dunia (WHO) untuk wabah Ebola di Uganda, bahwa penyakit Ebola dan kolera, yang telah dilaporkan di beberapa negara Afrika tahun ini, adalah beberapa contoh penyakit yang dapat dikaitkan langsung dengan perubahan iklim.

"Kami telah melihat peningkatan jumlah wabah Ebola di Afrika baru-baru ini. Sejak tahun 2000, kami telah mengalami 32 wabah, 19 di antaranya telah terjadi dalam dekade terakhir dan 13 pada dekade sebelumnya," katanya dalam konferensi virtual yang diselenggarakan oleh kantor WHO Afrika, seperti dikutip dari AFP, Sabtu (5/11).


Yang menarik, tambahnya, adalah bahwa lebih dari 50 persen wabah dalam dekade terakhir telah terjadi dalam lima tahun terakhir. Hal yang menyebabkannya adalah seringnya banjir dan kekeringan serta kenaikan suhu akibat perubahan iklim.

Menurut Otim, Ebola, penyakit zoonosis, dapat dikaitkan dengan peningkatan populasi manusia yang melanggar batas kebiasaan hewan dan sebaliknya karena kenaikan suhu dan kejadian seperti kekeringan.

"Kondisi iklim ini mengakibatkan migrasi inang Ebola seperti kelelawar dari daerah yang tidak kondusif ke daerah yang menguntungkan, meningkatkan interaksi antara manusia dan hewan yang menyebabkan wabah," katanya.

Pernyataan Otim datang saat Uganda sedang berjuang melawan wabah Ebola yang telah membuat negara itu mengkonfirmasi 131 kasus dan 48 kematian.

Sementara itu di Nigeria, lebih dari 2,8 juta orang telah terkena dampak banjir terburuk di negara itu dalam satu dekade, dengan 1,3 juta mengungsi dan beberapa nyawa hilang.

"Banjir mempengaruhi sistem air yang membuat penyebaran penyakit seperti kolera lebih mudah," kata Otim, mengutip kasus Malawi.

Egmond Evers, Incident Manager for Greater Horn of Africa Food Insecurity and Health di WHO, mengatakan malnutrisi, yang kasusnya meningkat di Kenya, secara langsung terkait dengan kekeringan dan banjir.

"Ketika ada peristiwa iklim seperti kekeringan dan banjir, mereka menyebabkan perpindahan orang yang membuat mereka rawan pangan dan rentan terhadap kekurangan gizi dan penyakit lainnya," katanya.

Sementara itu John Rumunu, direktur jenderal Layanan Kesehatan Pencegahan di Kementerian Kesehatan Sudan Selatan telah meminta pemerintah Afrika untuk menempatkan lebih banyak sumber daya dalam anggaran kesehatan mereka. Tujuannya untuk mengekang peningkatan penyakit seperti malaria dan diare karena efek iklim.

Populer

10 Jalan Febrie Adriansyah Menuju Bebas

Minggu, 19 Juli 2026 | 05:24

Hotman Paris Harus Minta Maaf

Minggu, 19 Juli 2026 | 17:02

Hotman Paris Tegaskan Tuduhan Keterlibatan Febrie dalam Kasus Asabri Salah Total

Sabtu, 18 Juli 2026 | 02:58

Permainan Kejagung Terlalu Kasar soal Penghentian Pengumpulan Data Program MBG

Rabu, 15 Juli 2026 | 05:14

Penetapan Tersangka Tetap Sah Meski Belum Diperiksa

Sabtu, 18 Juli 2026 | 12:35

KPK Periksa Pejabat Pemprov Jatim di Kasus Dana Hibah

Senin, 13 Juli 2026 | 14:40

Panen Raya TNI, Presiden Prabowo: Saya Bahagia Hari Ini

Jumat, 17 Juli 2026 | 22:57

UPDATE

Perjalanan Karier Nanik S Deyang dari Jurnalis hingga Pimpin Dewan Pengawas BGN

Rabu, 22 Juli 2026 | 10:23

Deklarasi Gus Kikin Maju Ketum PBNU Tuai Protes Sejumlah PCNU Jatim

Rabu, 22 Juli 2026 | 10:13

Pesan Menag di FABC: Sinodalitas Gereja Cermin Musyawarah dan Gotong Royong

Rabu, 22 Juli 2026 | 10:08

Prabowo Restui Pengunduran Diri Nanik dari BGN, Siapkan Dewan Pengawas Baru

Rabu, 22 Juli 2026 | 10:06

Emas Antam Mulai Naik, Harga Buyback Tembus Rp2,38 Juta per Gram

Rabu, 22 Juli 2026 | 09:51

Prabowo Puji Keterlibatan Perwira TNI-Polri dalam Penanganan Bencana Sumatera

Rabu, 22 Juli 2026 | 09:51

Saat Jakarta jadi Jembatan Persaudaraan Asia

Rabu, 22 Juli 2026 | 09:45

IHSG Menguat, Rupiah Tertekan Rp17.913 per Dolar AS Jelang Rilis Suku Bunga BI

Rabu, 22 Juli 2026 | 09:34

KPK Bongkar Dugaan Penyamaran Aset Bupati Lombok Barat, Pasal TPPU Disiapkan

Rabu, 22 Juli 2026 | 09:29

Ancaman Houthi Guncang Pasar, Harga Minyak Sentuh Level Tertinggi

Rabu, 22 Juli 2026 | 09:24

Selengkapnya