Berita

Ketua Umum Partai Gerindra Prabowo Subianto/Net

Publika

2024, Waktunya Prabowo Jadi King Maker

OLEH: R KHOLIS MAJDI
KAMIS, 03 NOVEMBER 2022 | 14:56 WIB

TERINGAT tulisan Tony Rosyid sekitar tahun 2018. Pengamat politik ini menulis beberapa kali dalam artikelnya tentang Prabowo Subianto. Tony menjelaskan pilihan paling rasional bagi Prabowo saat Pemilu 2019 adalah menjadi king maker.

Tony Rosyid mengungkapkan secara cermat berbagai variabel dengan analisis tajam mengapa Prabowo tidak perlu maju di Pilpres 2019 itu. Tony Rosyid sedemikian yakinnya kalau Prabowo akan kalah melawan Jokowi. Dan analisis Tony Rosyid terbukti. Di Pemilu 2019, Prabowo kalah.

Seandainya Prabowo membaca tulisan Tony Rosyid saat itu dan bisa mempertimbangkannya, mungkin mantan Danjen Kopassus ini tidak perlu menelan kekalahan untuk kesekian kalinya dalam pemilu.


Kalah menang itu bukan soal integritas dan kompetensi. Prabowo boleh jadi punya dua hal itu. Bahkan dibanding Jokowi, Prabowo lebih senior dan berpengalaman. Apalagi jika Prabowo sedang berbicara berbahasa Inggris, secara konten jauh lebih berbobot, pikirannya lebih jernih dan sistematis.

Tapi, menang kalah itu bukan soal kefasihan dalam berbahasa Inggris dan kemampuan mengungkapkan gagasan yang visioner, tapi soal elektabilitas. Menang kalah itu soal bagaimana merebut hati rakyat. Prabowo lemah di sisi ini.

Pemilu 2024, Prabowo sudah tidak muda lagi. Pada 2024, usia Prabowo 73 tahun. Sementara pemilih milenial (usia 17-37 tahun) jumlahnya semakin besar. Diperkirakan kisaran 40 persen. Ini tidak menguntungkan secara elektoral bagi kaum tua seperti Prabowo.

Belum lagi luka para pendukung Prabowo yang merasa dikhianati setelah mantan menantu Soeharto ini bergabung di kabinet Jokowi. Ini bisa diukur dari elektabilitas Prabowo saat ini. Turun jauh dibanding 2019.

Sebagai kandidat lama, dua kali nyapres dan sekali nyawapres, elektabilitas Prabowo tersaingi oleh Anies Rasyid Baswedan dan Ganjar Pranowo. Ini sebenarnya warning bahwa jika kedua tokoh muda tersebut nyalon, Prabowo akan kalah.

Sudah tidak waktunya lagi Prabowo nyapres. Elektabilitasnya stagnan dan tidak mudah dinaikkan. Tidak ada variablel atau sesuatu yang bisa dijadikan pijakan mendasar untuk naikkan elektabilitas Prabowo.

Majunya Prabowo hanya didorong untuk menjaga elektabilitas Partai Gerindra. Tidak lebih dari itu. Ada kesan Prabowo dimartirkan. Ada kesan semacam ditumbalkan.

Prabowo nyalon hanya untuk kalah. Sebuah kekalahan untuk yang kesekian kali. Ini yang harus diwaspadai oleh Prabowo, juga oleh orang-orang di sekitar Prabowo yang masih mau objektif.

Kalau Prabowo lawan Puan Maharani, peluang untuk menang ada, dan bahkan cukup besar. Tapi kalau Anies Rasyid Baswedan atau Ganjar Pranowo maju, sulit bagi Prabowo menang.

Saat ini, tidak ada partai yang mau merapat ke Prabowo kecuali PKB. Itupun ada dua syarat yaitu Prabowo harus menyiapkan logistiknya, dan Gus Muhaimin Iskandar jadi cawapresnya.

Untuk yang pertama yaitu logistik, mungkin Prabowo bisa sanggupin. Paling kisaran Rp 1 triliun sebagai mahar. Tapi untuk syarat yang kedua yaitu Gus Muhaimin jadi cawapres, bagi Prabowo sulit untuk dipenuhi. Pasangan Prabowo-Gus Muhaimin tidak menjual.

Di lain sisi, belum ada tanda-tanda partai lain bersedia merapat dan mengusung Prabowo. Ini harusnya dibaca oleh para politikus di lingkaran Prabowo bahwa sudah tidak mudah lagi menjual nama Prabowo.

Kalau tujuannya untuk menjaga elektabilitas partai, Prabowo bisa jadi  king maker. Selama musim kampanye, Prabowo bisa aktif ikut keliling dan berkampanye untuk memenangkan calonnya. Masyarakat akan berempati dan simpati pada Prabowo. Masyarakat tahu bahwa Prabowo adalah ikon Gerindra. Suara Gerindra akan tetap bisa dipertahankan.

Dibanding maju sendiri sebagai capres untuk ketiga kalinya, menjadi  king maker akan jauh lebih rasional dan realistis bagi Prabowo.

Ketika Pemilu 2024 nanti Anies Rasyid Baswedan atau Ganjar Pranowo maju sebagai calon, sebaiknya memang Prabowo tidak ikut nyalon. Pilihan  king makerlebih tepat.

Tapi, jika saingan Prabowo itu hanya Puan Maharani dan Airlangga Hartarto, Prabowo go ahead. Maju, dan besar kemungkinan akan menang.

Penulis adalah pemerhati sosial politik

Populer

Ketika Jenderal Memimpin yang Bukan Bidangnya

Kamis, 04 Juni 2026 | 00:15

Nama Raffi Ahmad Muncul di Sidang Blueray Cargo, Pengacara Minta Pemeriksaan Menyeluruh

Minggu, 07 Juni 2026 | 21:11

Tiga Pensiunan Jenderal Nyungsep Gegara Tersandung Kasus

Jumat, 05 Juni 2026 | 03:16

KPK Dikabarkan OTT Pejabat Imigrasi Jakarta Barat, Diduga Terkait TKA

Rabu, 03 Juni 2026 | 07:33

Rita Widyasari: Dari Suap, Gratifikasi dan TPPU hingga Korporasi Tambang

Rabu, 03 Juni 2026 | 17:07

Ketika Pencalonan Ryamizard Ryacudu sebagai Panglima TNI Dianulir SBY

Selasa, 02 Juni 2026 | 03:18

Dadan Hindayana Kena Batunya

Rabu, 03 Juni 2026 | 01:04

UPDATE

Waspadai Modus Penipuan Mengatasnamakan Bantuan Sosial

Sabtu, 13 Juni 2026 | 06:21

Ayam Mati di Lumbung Listrik

Sabtu, 13 Juni 2026 | 06:04

Narasi 'Sell Indonesia' Manipulatif

Sabtu, 13 Juni 2026 | 05:52

Krisis 1998 Meninggalkan Trauma Strategis

Sabtu, 13 Juni 2026 | 05:28

Titin Rita Lestari, Air Mata yang Tak Sempat Jatuh

Sabtu, 13 Juni 2026 | 05:09

Sangat Janggal Kejagung Tak Periksa Nanik S Deyang

Sabtu, 13 Juni 2026 | 05:01

BUMD Didorong Bertransformasi sebagai Lokomotif Ekonomi Daerah

Sabtu, 13 Juni 2026 | 04:35

Farhan Pastikan Bandung Aman Hadapi Musim Liburan

Sabtu, 13 Juni 2026 | 04:19

Bosnia-Herzegovina Gagal Bungkam Tuan Rumah Kanada

Sabtu, 13 Juni 2026 | 04:07

Jaringan Narkoba Sumsel-Jabar Dibongkar Polisi

Sabtu, 13 Juni 2026 | 03:35

Selengkapnya