Berita

Mantan jurnalis dan Associate Professor of Journalism di Queensland, Universitas Teknologi Australia, Angela Romano dalam acara simposium online/Net

Dunia

Algoritma dan AI Jadi Tantangan Tersendiri bagi Pembangunan dan Demokrasi di Dunia Digital

RABU, 26 OKTOBER 2022 | 11:56 WIB | LAPORAN: HANI FATUNNISA

Media digital saat ini telah berperan sebagai platform yang memudahkan konektivitas dan fleksibilitas pengguna, khususnya di bidang jurnalisme.

Namun, dengan segala manfaat dan kemudahan yang didapatkan, media digital juga berpotensi mengurangi kemampuan jurnalis untuk melayani demokrasi dan pembangunan.

Mantan jurnalis dan Associate Professor of Journalism di Queensland, Universitas Teknologi Australia, Angela Romano, mengatakan jurnalis perempuan menjadi korban yang paling terdampak oleh tindak pelecehan dan ancaman di media digital.


"Sekitar 73 persen (jurnalis perempuan) diancam atau diserang melalui email atau media sosial. Sekitar 48 persen jurnalis perempuan menyensor diri sendiri dan lebih memilih menghindari menyebutkan subjek tertentu,’’ jelas Angela dalam simposium internasional Development and Democratization in Algorithm World di FISIP Universitas Al Azhar Indonesia pada Selasa (25/10).

Dalam paparannya, Angela memang tidak secara spesifik membahas isu jurnalis perempuan. Ia mencoba menggambarkan salah satu dampak buruk dari perkembangan agresif media digital, algoritma dan artificial intelligence (AI) terhadap pembangunan demokrasi, termasuk di bidang pers.

Angela menggambarkan bahwa era digital memungkinkan wartawan bekerja efektif dan efesien dalam wawancara, pengecekan fakta dan deteksi isu terkini.

Namun sebagai seorang jurnalis, Angela mengatakan perlunya menonjolkan peran jurnalis sebagai agen pemberdayaan atau disebutnya sebagai model jurnalisme pembangunan.

"Intinya, wartawan fokus pada 'pembebasan', yakni membangun martabat manusia, kesetaraan, dan peluang bagi semua orang,  harus aktif terlibat dan memberdayakan masyarakat biasa, juga berusaha membangun kemandirian masyarakat dan demokrasi partisipan,’’ kata Angela.

Angela mengingatkan jika jurnalisme sejak lama digunakan untuk membantu individu memahami penyebab ketidakadilan sosial, mengorganisir tindakan untuk mengubah masyarakat.

"Bagi saya, media bukanlah pendidik. Tapi media harusnya menjadi fasilitator yang membantu masyarakat untuk memimpin,’’ tegasnya.

Selain Angela, pengisi simposium lainnya, Profesor Universitas Teknologi Nanyang Singapura, Ang Peng Hwa mengatakan dalam konteks pembangunan demokrasi dibutuhkan refleksi, pendekatan dan pemahaman yang terus menerus diperbaharui dalam melihat hubungan dunia digital dengan demokrasi dan pembangunan sosial politik.

Ang menyebut bahwa kehidupan kita saat ini memang tidak bisa terlepas dari algoritma dan AI. Namun tetap ada beberapa tantangan terkait itu yang harus dicermati, misalnya soal ketersediaan data dan kesadaran diri.

‘’Selalu ingat bahwa AI tidak akan pernah bisa menjelaskan mengapa ia melakukan apa yang lakukan. Dan algoritma adalah kotak hitam yang tidak mudah dipahami,’’ jelasnya.

Menurut Ang, algoritma sudah menjadi bagian dari kehidupan masyarakat yang tumbuh sangat progresif dengan potensi baik dan buruknya.

‘’Kita perlu menemukan pendekatan baru untuk meminimalkan yang buruk dan memaksimalkan yang baik. Dan jika kita percaya demokrasi adalah bentuk pemerintahan terbaik, kita harus waspada untuk memainkan peran kita untuk memeriksa algoritma,’’ pungkasnya.

Populer

Kajian Online Minta Maaf ke SBY dan Demokrat

Senin, 05 Januari 2026 | 16:47

Arahan Tugas

Sabtu, 03 Januari 2026 | 11:54

Prabowo Hampir Pasti Pilih AHY, Bukan Gibran

Minggu, 04 Januari 2026 | 06:13

Menanti Nyali KPK Panggil Jokowi di Kasus Kuota Haji

Minggu, 11 Januari 2026 | 08:46

Taktik Pecah Belah Jokowi Tak akan Berhasil

Sabtu, 10 Januari 2026 | 06:39

Pendukung Jokowi Kaget Dipolisikan Demokrat

Rabu, 07 Januari 2026 | 13:00

Penculikan Maduro Libatkan 32 Pesawat Buatan Indonesia

Selasa, 06 Januari 2026 | 13:15

UPDATE

Harga Emas Antam Hari Ini Kembali Pecah Rekor

Selasa, 13 Januari 2026 | 10:12

Kritik Pandji Tak Perlu Berujung Saling Lapor

Selasa, 13 Januari 2026 | 10:05

AHY Gaungkan Persatuan Nasional di Perayaan Natal Demokrat

Selasa, 13 Januari 2026 | 10:02

Iran Effect Terus Dongkrak Harga Minyak

Selasa, 13 Januari 2026 | 09:59

IHSG Dibuka Menguat, Rupiah Melemah ke Rp16.872 per Dolar AS

Selasa, 13 Januari 2026 | 09:42

KBRI Beijing Ajak WNI Pererat Solidaritas di Perayaan Nataru

Selasa, 13 Januari 2026 | 09:38

Belajar dari Sejarah, Pilkada via DPRD Rawan Picu Konflik Sosial

Selasa, 13 Januari 2026 | 09:31

Perlu Tindakan Tegas atas Konten Porno di Grok dan WhatsApp

Selasa, 13 Januari 2026 | 09:30

Konflik Terbuka Powell dan Trump: Independensi The Fed dalam Ancaman

Selasa, 13 Januari 2026 | 09:19

OTT Pegawai Pajak Momentum Perkuat Integritas Aparatur

Selasa, 13 Januari 2026 | 09:16

Selengkapnya