Berita

Juru bicara pemerintah Iran, Ali Bahadori Jahromi/Net

Dunia

Sanksi AS Menghambat Impor Obat untuk Penyakit Langka, Mengancam Ratusan Pasien Thalasemia di Iran

SELASA, 11 OKTOBER 2022 | 06:57 WIB | LAPORAN: RENI ERINA

Sanksi AS terhadap Iran berperan dalam kematian ratusan pasien talasemia selame empat tahun terakhir.

Juru bicara pemerintah Iran, Ali Bahadori Jahromi,  mengatakan sebanyak 480 pasien thalasemia telah meninggal di Iran selama empat tahun terakhir karena sanksi AS yang menghambat impor obat-obatan Iran untuk penyakit langka.  

Ia juga meramalkan, hingga 2023 mendatang, kemungkinan akan menyusul sekitar 220 pasien lagi yang meninggal jika sanksi masih terus diterapkan.


“Tujuh puluh pasien thalassemia meninggal pada tahun 2018, 90 pada 2019, 140 pada 2020 dan 180 meninggal tahun lalu karena sanksi AS. Menurut proyeksi tahun ini, 220 pasien akan menjadi korban sanksi kejam AS. Pasien EB (epidermolysis bullosa) dan semua pasien dengan penyakit langka dan refrakter, sangat membutuhkan produk obat khusus,” katanya dalam sebuah tweet berbahasa Persia pada Minggu Senin (19/10), seperti dikutip dari  Fars News.

Di bawah pemerintahan presiden Donald Trump, Amerika Serikat secara sepihak menarik diri dari Rencana Aksi Komprehensif Gabungan (JCPOA), perjanjian nuklir 2015 dengan Iran. Sejak itu, AS meluncurkan sanksinya.

Kemudoan pada Mei 2018, AS kembali menjatuhkan sanksi yang lebih keras yang disebut "tekanan maksimum."

Jahromi  mengatakan, Barat berupaya membalas dendam pada Teheran dengan terus menerus melancarkan sanksi dan kampanye genosida terhadap warga Iran.

Sanksi telah menyerang beberapa aspek kehidupan Iran selama lima tahun terakhir, dari ekonomi hingga sistem kesehatan dan medis.

Meskipun AS mengklaim bahwa barang-barang kemanusiaan, termasuk obat-obatan dan bahan makanan, tidak termasuk dalam daftar sanksi, embargonya terhadap ekspor minyak Iran dan sektor perbankan, dalam praktiknya, mencegah negara itu mengimpor barang-barang tersebut.

Lebih dari selusin pasien EB di Iran dilaporkan meninggal karena penyakit tersebut, karena tidak adanya pasokan medis yang dibutuhkan sementara yang lain menderita luka fisik yang parah, termasuk amputasi.

Kekurangan obat dan perbekalan kesehatan di Iran disebabkan perusahaan farmasi takut terimbas oleh sanksi AS dan ketidakmungkinan pertukaran keuangan.

Senada dengan Jahromi, Juru Bicara Kementerian Luar Negeri Iran, Nasser Kanaani, , juga mengecam sanksi AS terhadap Republik Islam.

Seluruh rakyat Iran, tanpa perbedaan dan diskriminasi, telah berjuang selama bertahun-tahun dengan sanksi brutal Amerika Serikat, yang telah menargetkan mata pencaharian, pekerjaan, kesehatan, dan kehidupan normal mereka, katanya.

“Bahkan anak-anak EB tidak dibebaskan dari sanksi AS yang sepihak, ilegal, dan kejam. Sanksi adalah tulang punggung hak asasi manusia Amerika,” kecam Kanaani.

Populer

Jaksa Belum Yakin Hasil Forensik Ijazah Jokowi

Rabu, 06 Mei 2026 | 18:31

Indonesia Menuju Gelap

Minggu, 03 Mei 2026 | 06:50

Abu Janda Cs Jangan Sampai Lolos

Minggu, 10 Mei 2026 | 02:00

Sikap Dudung Pasang Badan Bela Seskab Teddy Berlebihan

Rabu, 06 Mei 2026 | 03:39

Nama Dirjen Bea Cukai Djaka Budi Utama Terseret di Dakwaan Bos Blueray Cargo

Rabu, 06 Mei 2026 | 17:16

Wali Murid Sekolah Islam Terpadu di Tangerang Korban Investasi Bodong Lapor Polisi

Minggu, 10 Mei 2026 | 02:13

PSI Ketar-ketir Lawan Jusuf Kalla

Jumat, 08 Mei 2026 | 06:47

UPDATE

Istri Wali Kota Madiun Dicecar KPK soal Dugaan Aset Hasil Korupsi

Rabu, 13 Mei 2026 | 10:22

Giant Sea Wall Pantura Dirancang Lindungi Jutaan Warga dan Jadi Mesin Ekonomi Baru

Rabu, 13 Mei 2026 | 10:17

Pengamat: Pencoretan Saham Unggulan RI dari MSCI Jadi Tekanan Psikologis Pasar

Rabu, 13 Mei 2026 | 10:14

Harga Minyak Dunia Terus Merangkak Naik

Rabu, 13 Mei 2026 | 10:05

Dana PIP 2026 Belum Cair? Begini Cara Mudah Cek Status Pakai NIK dan NISN

Rabu, 13 Mei 2026 | 10:04

IHSG Ambles 1,59 Persen, Asing Catat Net Sell Rp49,28 Triliun Usai Pengumuman MSCI

Rabu, 13 Mei 2026 | 09:47

Komisi VIII DPR: Predator Seksual di Ponpes Pati harus Dihukum Seberat-beratnya!

Rabu, 13 Mei 2026 | 09:43

Singapura Ingin Hidupkan Sijori Lagi Bersama RI dan Malaysia

Rabu, 13 Mei 2026 | 09:35

Anak Buah Zulhas Dicecar KPK soal Pengaturan Proyek dan Fee Bupati Rejang Lebong

Rabu, 13 Mei 2026 | 09:33

MUI GPT Bisa Jadi Terobosan Pelayanan Umat Berbasis AI

Rabu, 13 Mei 2026 | 09:32

Selengkapnya