Berita

Ilustrasi/Net

Dunia

Di Tengah Kontroversi Soal Biaya, Upacara Pemakaman Mewah Shinzo Abe Tetap Digelar Hari ini

SELASA, 27 SEPTEMBER 2022 | 15:58 WIB | LAPORAN: ALIFIA DWI RAMANDHITA

Pemakaman Shinzo Abe, mantan Perdana Menteri Jepang terlama, yang akan digelar pada Selasa (27/9) waktu setempat, tidak lagi diwarnai dengan kesedihan, seperti saat tragedi penusukannya terjadi. Akan tetapi berita pemakaman tersebut kini diwarnai dengan ketegangan antara pihak oposisi, publik dan pemerintah.

Pemakaman kenegaraan yang menggunakan dana publik sebesar 11,8 juta dolar atau senilai Rp 178 miliar ini telah memicu banyaknya reaksi sinis dari publik, lantaran ongkos pemakaman tersebut dianggap terlalu mahal dan hanya membuang-buang uang, di saat Jepang saat ini sedang berjuang mengatasi inflasi tertingginya.

Seperti dimuat Global News pada Senin (26/9), beberapa pihak oposisi menyelenggarakan rapat umum untuk membahas pemakaman Abe. Mereka sepakat mengatakan, uang pajak seharusnya dibelanjakan untuk tujuan yang lebih berarti, seperti untuk mengatasi kesenjangan ekonomi yang melebar yang disebabkan oleh kebijakan ekonomi yang diciptakan oleh Abe.


“Menghabiskan uang pajak kami yang berharga untuk pemakaman kenegaraan tanpa dasar hukum, adalah tindakan yang menginjak-injak konstitusi,” ujar salah satu pihak oposisi, Takakage Fujita, ketika rapat umum di Tokyo.

Atas hal tersebut, Perdana Menteri Jepang saat ini, Fumio Kishida telah dikritik karena memaksakan acara mahal untuk Abe, yang dibunuh pada bulan Juli lalu, di tengah meluasnya kontroversi tentangnya. Kematian Abe telah membongkar hubungan antara Abe, Partai Demokrat Liberal (LDP) dengan Gereja Unifikasi, yang dikenal oleh publik sebagai gereja aliran sesat.

Terkuaknya hubungan politisi LDP dan gereja ini telah memicu reaksi marah dari publik terhadap Kishida. Para penentang mengatakan, mengadakan pemakaman kenegaraan untuk Abe setara dengan dukungan ikatan partai dengan Gereja Unifikasi. Peringkat dukungan kepada partai Kishida kemudian menjadi turun ke dalam titik terendahnya karena kontroversi tersebut. Kishida lantas meminta maaf kepada publik dan bersumpah untuk memutuskan hubungan partai dengan gereja.

Sekelompok pengacara Jepang ikut melakukan protes dengan mengajukan sejumlah tuntutan hukum di pengadilan di seluruh negeri untuk menghentikan pemakaman itu, meskipun salah satu dari mereka dilaporkan telah dipecat. Seorang pria tua juga telah membakar dirinya di dekat kantor perdana menteri sebagai aksi protes nyata dari penolakan pemakaman mewah untuk Shinzo Abe.
Sementara itu di tengah aksi protes yang meningkat, pemakaman mewah Abe tetap dilanjutkan. Menurut Kishida, pemimpin terlama dalam sejarah politik modern Jepang itu layak untuk mendapatkan kehormatan ini.

Di tengah aksi serangan dan kemarahan dari publik hingga oposisi terkait pemakaman Abe, Kishida akan melakukan pembicaraan maraton dengan para pemimpin asing yang berkunjung ke pemakaman Abe, yang disebut sebagai "diplomasi pemakaman" untuk memperkuat hubungan saat Jepang sedang menghadapi tantangan regional dan global, termasuk ancaman dari China, Rusia, dan Korea Utara.

Sekitar 4.300 orang, termasuk anggota parlemen Jepang serta pejabat asing dan lokal dikabarkan akan menghadiri pemakaman tersebut. Termasuk Wakil Presiden AS Kamala Harris, Presiden Vietnam Nguyen Xuan Phuc, dan Perdana Menteri India Narendra Modi. Namun telah dikonfirmasi tidak ada pemimpin Kelompok Tujuh yang hadir pada acara pemakaman Abe.

Upacara akan dimulai pada pukul 14.00 waktu setempat, abu Abe akan dibawa ke pemakaman oleh istrinya, dan petugas upacara penghormatan akan menembakkan 19 peluru meriam. Puluhan ribu polisi akan dikerahkan, sementara jalan-jalan terdekat akan ditutup, untuk menghindari dari kecerobohan yang kembali terjadi oleh penyusup yang berusaha mengacaukan pemakaman.

Populer

Keputusan Bisnis Dipidanakan, Nicko Widjaja Tulis Surat dari Rumah Tahanan

Jumat, 22 Mei 2026 | 17:34

Jangan Biarkan Dua Juri Final LCC Lolos dari Sanksi UU ASN

Kamis, 14 Mei 2026 | 12:43

Cegah Kabur, Segera Eksekusi Razman Nasution!

Kamis, 21 Mei 2026 | 05:04

40 Warga Binaan Sumsel Dipindah ke Nusakambangan

Jumat, 22 Mei 2026 | 22:33

Tetangga Sudah Mendahului, Indonesia Masih Berpidato

Jumat, 15 Mei 2026 | 05:30

Jokowi Boleh Keliling Indonesia Asal Tunjukkan Ijazah Asli

Rabu, 20 Mei 2026 | 01:33

Tuntutan Seret Jokowi ke Pengadilan terkait Kasus Nadiem Mengemuka

Jumat, 15 Mei 2026 | 00:02

UPDATE

Polisi seperti Tidak Mampu Tangani Begal

Minggu, 24 Mei 2026 | 06:05

Klub Milik Kaesang Turun Kasta

Minggu, 24 Mei 2026 | 05:27

Hormati Ritual Haji, Trump Tunda Serang Iran

Minggu, 24 Mei 2026 | 05:14

Jokowi Tak Pernah Diperiksa APH Meski Namanya Sering Disebut Pejabat Korupsi

Minggu, 24 Mei 2026 | 05:11

Kritikan Anies ke Prabowo Bagai Oase

Minggu, 24 Mei 2026 | 04:26

Terkecuali Amerika

Minggu, 24 Mei 2026 | 04:14

Amien Rais: Jokowi Lapar dan Haus Kekuasaan

Minggu, 24 Mei 2026 | 04:03

Wamen ESDM Minta PLN Percepat Pemulihan Listrik Pascablackout di Sumatera

Minggu, 24 Mei 2026 | 03:38

Publik Diajak Peduli Alam dan Satwa Lewat Kompetisi IAPVC 2026

Minggu, 24 Mei 2026 | 03:32

Modus Aseng "Menaklukan" Aparat agar Tambang Ilegal Tak Tersentuh Hukum

Minggu, 24 Mei 2026 | 03:01

Selengkapnya