Berita

Foto terakhir mendiang Prof Azyumardi Azra (paling kanan) saat perjalanan ke Malaysia/Ist

Publika

Titipan Terakhir Sir Prof Azra

SENIN, 19 SEPTEMBER 2022 | 14:36 WIB | OLEH: UBEDILAH BADRUN

SAYA mengenal Prof Azra sejak saya mahasiswa, persisnya tahun 1996. Karyanya saat itu yang dengan senang hati saya baca adalah bukunya yang berjudul "Pergolakan Politik Islam: Dari Fundamentalisme, Modernisme hingga Post-Modernisme (1996)". Buku ini membuka pikiran untuk terus menjelajahi pemikiran-pemikiran politik Islam era klasik hingga modern.

Pandangan-pandangannya yang kritis dan moderat mewarnai hampir seluruh isi buku-bukunya, termasuk ketajaman analisisnya tentang  gerakan Islam. Misalnya bukunya yang berjudul "Islam Reformis: Dinamika Intelektual dan Gerakan (1999)" hingga karya-karya mutakhirnya seperti "Transformasi Politik Islam dan Politik Global : Dari Timur Tengah Hingga Eropa (2016)", serta sejumlah jurnal internasional yang beliau publikasikan, diantaranya yang berjudul " Transregional Islam in the Malay-Indonesian World: Legacies and New Dynamics (2011)".

Pemikiran Islam moderatnya dan konsistensinya menjaga demokrasi turut mewarnai arus demokratisasi global. Hingga beliau mendapat gelar Commander of the Order of the British Empire (CBE) dari Ratu Elizabeth II. Dengan penghargaan itu ia warga negara Indonesia pertama yang bergelar  Sir, dinilai sebagai cendekiawan yang berkontribusi dan dedikasi di bidang seni, ilmu pengetahuan, kerja amal, dan pelayanan kepada masyarakat.


Cendekiawan muslim  yang menginspirasi banyak anak muda ini selalu antusias jika diajak diskusi soal demokrasi, masa depan Islam dan masa depan Republik ini. Bahkan beberapa kali bertanya melalui whatsapp pun dengan cepat beliau respons. Meski sejak pandemi covid-19 diskusi sering dilakukan secara online berlanjut melalui Whatsapp juga selalu beliau sempatkan menjawab.

Tiga bulan lalu saya terakhir berkomunikasi dengan beliau, seperti biasanya antusias menjawab, beliau bercerita akan menghadiri pengukuhan dua gurubesar di kampus UIN Jakarta kemudian menguji disertasi kandidat Doktor.

Lalu saya sampaikan "Prof Azra tentu memahami betul bahwa kondisi negara saat ini. Oleh karena itu kami akademisi muda memandang perlunya duduk bersama antar elemen akademisi bersama para gurubesar untuk merespons keadaan saat ini. Kami berharap Prof Azra bersedia untuk turut bersama-sama?"

Ini jawaban beliau sekaligus pesan terakhir Sir Prof Azra untuk kami yang masih perlu banyak belajar :

"Saya sepenuhnya mendukung. Salam buat kawan-kawan semua"

Tentu jawaban beliau membuat energi intelektual kami bangkit. Kalimat "sepenuhnya mendukung" menggambarkan concern beliau yang sangat tinggi bagi upaya menyelamatkan demokrasi yang makin memburuk di Indonesia, termasuk tata kelola pemerintahan yang kualitasnya makin memprihatinkan yang perlu dievaluasi secara mendasar.

Sedangkan kalimat "salam buat kawan-kawan semuanya" menggambarkan penghormatan beliau kepada akademisi yang terlibat dalam upaya menyelamatkan demokrasi sekaligus juga menunjukkan egaliternya beliau karena kami-kami yang masih belajar ini beliau sebut sebagai kawan-kawan.

Belum sempat mimpi duduk bersama antar para gurubesar dan akademisi se Indonesia itu terwujud, beliau telah pergi, berjumpa dengan kekasihnya saat dalam perjalanan misi mulia sebagai intelektual ke negeri Jiran.

Selamat jalan Sir Prof Azra..pesan-pesan intelektualmu yang mencerahkan akan terus kami kibarkan.

*Penulis adalah Analis Sosial Politik Universitas Negeri Jakarta (UNJ)

Populer

10.060 Jemaah Umrah Telah Kembali ke Tanah Air

Kamis, 05 Maret 2026 | 09:09

Rumah Bersejarah di Menteng Berubah Wujud

Sabtu, 07 Maret 2026 | 22:49

Pengacara Terkenal yang Menyita Perhatian Publik

Minggu, 08 Maret 2026 | 11:44

Harga Tiket Pesawat Kembali Tidak Masuk Akal

Selasa, 03 Maret 2026 | 03:51

Siapa Berbohong, Fadia Arafiq atau Ahmad Luthfi?

Sabtu, 07 Maret 2026 | 06:42

Bangsa Tak Akan Maju Tanpa Makzulkan Gibran dan Adili Jokowi

Senin, 09 Maret 2026 | 00:13

Fahira Idris Dukung Pelarangan Medsos Buat Anak di Bawah 16 Tahun

Minggu, 08 Maret 2026 | 01:58

UPDATE

Olah TKP Freeport

Jumat, 13 Maret 2026 | 14:16

Rismon Rela Dianggap Pengkhianat daripada Menyembunyikan Kebenaran

Jumat, 13 Maret 2026 | 14:14

Bandung Dalam Diplomasi Konfrontasi dan Kemunafikan Diplomasi

Jumat, 13 Maret 2026 | 14:05

Roy Suryo Tegaskan Permintaan Maaf Rismon ke Jokowi Bersifat Pribadi

Jumat, 13 Maret 2026 | 14:00

KPK Panggil Pengusaha James Mondong dalam Kasus Suap Impor di Bea Cukai

Jumat, 13 Maret 2026 | 13:54

Aktivis KontraS Andrie Yunus Disiram Air Keras

Jumat, 13 Maret 2026 | 13:47

EMAS Rampungkan Fase Konstruksi, Fokus Kejar Target Produksi

Jumat, 13 Maret 2026 | 13:40

DPR Jangan Pilih Lagi Anggota KPU yang Tak Profesional!

Jumat, 13 Maret 2026 | 13:29

Kapolri dan Panglima TNI Pantau Pelabuhan Merak Via Helikopter

Jumat, 13 Maret 2026 | 13:23

Trump Yakin Pemimpin Baru Iran Masih Hidup tapi Terluka Parah

Jumat, 13 Maret 2026 | 13:17

Selengkapnya