Berita

Kamp penahanan minoritas Uighur di Xinjiang/Net

Dunia

Laporan Michelle Bachelet: Tindakan China terhadap Uighur adalah Kejahatan Kemanusiaan

KAMIS, 01 SEPTEMBER 2022 | 09:43 WIB | LAPORAN: SARAH MEILIANA GUNAWAN

Kepala Hak Asasi Manusia (HAM) Perserikatan Bangsa Bangsa (PBB), Michelle Bachelet akhirnya merilis laporan pelanggaran HAM oleh China terhadap minoritas Musim Uighur di Provinsi Xinjiang.

Laporan itu dirilis hanya 11 menit sebelum masa jabatan Bachelet berakhir pada Rabu (31/8) tengah malam waktu Jenewa. Publikasi awalnya terhambat oleh keberatan dari China yang meminta nama dan gambar tertentu untuk disamarkan.

Laporan setebal 45 halaman itu dirilis oleh Kantor Komisaris Tinggi Hak Asasi Manusia (OHCHR), dengan menyimpulkan tindakan China terhadap Uighur merupakan kejahatan kemanusiaan.


"Tingkat penahanan sewenang-wenang dan diskriminatif terhadap anggota Uighur dan kelompok mayoritas Muslim lainnya, sesuai dengan hukum dan kebijakan, dalam konteks pembatasan dan perampasan hak-hak dasar yang dinikmati secara individu dan kolektif, dapat merupakan kejahatan internasional, khususnya kejahatan terhadap kemanusiaan," bunyi laporan yang dikutip The Guardian itu.

Pemerintah China berusaha sampai saat terakhir untuk menghentikan publikasi laporan tersebut.

Di dalam laporan tersebut, OHCHR melakukan wawancara dengan beberapa perempuan yang mengaku telah dipaksa melakukan aborsi atau memasang IUD, setelah memiliki jumlah anak yang diizinkan.

Dalam laporan tersebut, Bachelet mencatat bahwa tingkat sterilisasi rata-rata per 100 ribu penduduk di China secara keseluruhan hanya di atas 32. Sementara di Daerah Otonomi Uighur Xinjiang adalah 243.

“Pelanggaran hak asasi manusia yang serius telah dilakukan di (Daerah Otonomi Uyghur Xinjiang) dalam konteks penerapan strategi kontra-terorisme dan kontra-‘ekstremisme’ pemerintah,” kata laporan itu.

Dalam tanggapan resminya, Beijing mengatakan laporan itu berdasarkan disinformasi dan kebohongan yang dibuat oleh pasukan anti-China dan dengan sengaja mencoreng dan memfitnah China, serta mencampuri urusan dalam negeri negara.

Tanggapan China disertai dengan laporan tandingan setebal 121 halaman, yang menekankan ancaman terorisme yang membuat pemerintah menerapkan program “deradikalisasi” di Xinjiang.

Populer

KSAD Maruli: Saya Minta Maaf dan Bertanggung Jawab

Jumat, 04 September 2026 | 20:28

Advokat Pitra Romadoni Dipanggil Polres Bogor

Rabu, 09 September 2026 | 01:15

Masa Jabatan Gibran Tinggal Hitungan Hari

Kamis, 03 September 2026 | 14:46

Muhadjir Terbitkan Surat Pengalihan Kuota Haji Usai Konsultasi ke Jokowi

Selasa, 01 September 2026 | 15:17

KPK Periksa Karyawan PT SCGU

Selasa, 08 September 2026 | 15:34

MAKI Puji Kerja Senyap Jampidsus Kuntadi Fokus Rampas Aset

Selasa, 01 September 2026 | 01:59

Purbaya Bantah Terima Suap untuk Pertahankan Pejabat Bea Cukai

Sabtu, 05 September 2026 | 16:59

UPDATE

Suhud Dorong RUU Ketenagakerjaan Perkuat Perlindungan Buruh dan Kepastian Usaha

Jumat, 11 September 2026 | 16:25

KPK Panggil 3 Tersangka Baru Kasus Suap Pemerasan Sertifikasi K3 Kemnaker

Jumat, 11 September 2026 | 16:19

Trump Sumpah Bareng Pendukung Republik, Ancam yang Tak Nyoblos Masuk Neraka

Jumat, 11 September 2026 | 16:13

Keluarga Dokter Icha Tuntut Tiga Anggota DPRD TTU Tersangka Intimidasi Dipecat

Jumat, 11 September 2026 | 15:58

DPR: Sebelum Batas Waktu, Tim SAR Maksimalkan Upaya Cari Lima Jurnalis di Selat Sunda

Jumat, 11 September 2026 | 15:46

Aljazair Mendadak Putus Hubungan Diplomatik dengan UEA

Jumat, 11 September 2026 | 15:44

Bahlil Tegaskan BUK Migas Belum Diputuskan

Jumat, 11 September 2026 | 15:00

Jejak Korupsi Rejang Lebong Merambah ke Bengkulu, Kini Giliran Ketua DPRD Herimanto Diperiksa

Jumat, 11 September 2026 | 14:54

Kemenhaj Rilis Peserta CAT PPIH 2027 Gelombang 2

Jumat, 11 September 2026 | 14:46

Kemenhut Bakal Tindaklanjuti Temuan Lima Bayi Orangutan di India

Jumat, 11 September 2026 | 14:35

Selengkapnya