Berita

Pelajar perempuan di Afghanistan/Net

Dunia

Setahun Taliban Berkuasa, Hak Perempuan Afghanistan Makin Mengkhawatirkan

SENIN, 29 AGUSTUS 2022 | 08:41 WIB | LAPORAN: HANI FATUNNISA

Perserikatan Bangsa Bangsa (PBB) mencatat terjadinya kemunduran yang signifikan dan mengkhawatirkan pada perlindungan hak-hak perempuan Afghanistan sejak Taliban berkuasa setahun yang lalu.

Wakil Sekretaris Jenderal PBB untuk Urusan Kemanusiaan dan Koordinator Bantuan Darurat, Martin Griffiths pada Selasa (23/8) menyerukan kepada Taliban untuk membuka kembali sekolah anak perempuan dan menyatakan kondisi mereka yang semakin mengalami kemunduran.  

"Sudah lebih dari 300 hari sekolah khusus perempuan di tutup. Ini menandai kondisi perempuan dan anak perempuan menghadapi kemunduran yang mengkhawatirkan atas hak-hak mereka," ujarnya, seperti dimuat NDTV.
 

 
Direktur Amnesty International untuk Asia Selatan, Yamini Mishra mengatakan hak-hak perempuan dan anak perempuan telah dilucuti oleh Taliban, sehingga mereka harus menghadapi masa depan yang suram.  

"Penahanan sewenang-wenang, penyiksaan, penghilangan, eksekusi tanpa pengadilan telah lama dilakukan Taliban. Perempuan dan anak perempuan telah dilucuti hak-haknya. Mereka kehilangan pendidikan dan disingkirkan dari kehidupan publik," jelas Mishra.

Seorang aktivis hak-hak perempuan, Noor Uzbek mengutuk pejabat Taliban yang telah menutup pintu sekolah selama satu tahun. Sementara itu, pihak berwenang serta organisasi internasional telah memperburuk situasi dengan tidak mengambil upaya nyata untuk keluar dari situasi ini.

Rezim Taliban di Afghanistan telah menuai kritik keras di seluruh dunia atas dekrit yang melarang anak perempuan bersekolah di atas kelas enam. Kemungkinan dibuka kembalinya sekolah kata otoritas Kabul akan bergantung pada perintah pemimpin Taliban.  

Keputusan Taliban untuk mencegah anak perempuan kembali ke sekolah menengah telah membuat satu generasi anak perempuan tidak dapat menyelesaikan pendidikan dasar 12 tahun secara penuh yang seharusnya menjadi hak dasar mereka yang wajib dipenuhi.

Pada saat yang sama, akses terhadap keadilan bagi korban kekerasan berbasis gender telah dibatasi oleh pembubaran jalur pelaporan khusus dan mekanisme keadilan yang bias gender.

Taliban berulang kali berkomitmen untuk menghormati HAM dan ruang sipil bagi perempuan, namun nyatanya hal itu tidak terjadi karena nasib perempuan sangat menyedihkan di negara itu.

Anak perempuan dilarang pergi ke sekolah setelah kelas enam, aturan berpakaian wanita dikeluarkan, ada pembatasan gerakan, pendidikan,  dan kebebasan berekspresi perempuan yang jika dilanggar akan mengancam kelangsungan hidup mereka.

Tidak hanya itu, kurangnya tenaga kesehatan perempuan telah menghalangi mereka mengakses fasilitas medis dasar, dan donor internasional, yang mendanai 90 persen klinik kesehatan, ragu-ragu untuk mengirim uang karena takut dana tersebut disalahgunakan.

Sekitar 80 persen perempuan yang bekerja di media kehilangan pekerjaan mereka, dan hampir 18 juta perempuan di negara itu berjuang untuk kesehatan, pendidikan dan hak-hak sosial.

Populer

Dicurigai Ada Peran Mossad di Balik Pengalihan Tahanan Yaqut

Senin, 23 Maret 2026 | 01:38

Kehadiran Anies di Cikeas Jadi Masalah Serius

Jumat, 27 Maret 2026 | 02:08

Mengapa Kapal Pertamina Tidak Bisa Lewat Selat Hormuz?

Sabtu, 28 Maret 2026 | 02:59

SBY Menolak Silaturahmi Lebaran Anies?

Jumat, 27 Maret 2026 | 03:43

Nasib Hendrik, SPPG Ditutup, 150 Karyawan Diberhentikan

Jumat, 27 Maret 2026 | 06:07

KPK Klaim Status Tahanan Rumah Yaqut Sesuai UU

Jumat, 27 Maret 2026 | 12:26

Kubu Jokowi Bergerak Senyap untuk Jatuhkan Prabowo

Rabu, 25 Maret 2026 | 06:15

UPDATE

Teknik Klasik, Kaitkan Prabowo dengan Teror Aktivis

Kamis, 02 April 2026 | 14:02

Kepala BNPB hingga BMKG Turun Langsung ke Lokasi Gempa di Sulut dan Malut

Kamis, 02 April 2026 | 13:59

TEBE Siap Tebar Dividen Rp200,46 Miliar, Cek Jadwal Lengkapnya

Kamis, 02 April 2026 | 13:51

Penerapan WFH di DKI Bisa Jadi Contoh Penghematan BBM

Kamis, 02 April 2026 | 13:40

Awas Penunggang Gelap Gelar Operasi Senyap Jatuhkan Prabowo Lewat Kasus Aktivis KontraS

Kamis, 02 April 2026 | 13:33

Kemkomdigi Tunggu Itikad Baik Youtube dan Meta Patuhi PP Tunas

Kamis, 02 April 2026 | 13:20

Trump akan Tarik Pasukan, Tanda Amerika Kalah Perang Lawan Iran

Kamis, 02 April 2026 | 13:19

Demi AI, Oracle PHK 30.000 Karyawan Lewat Email

Kamis, 02 April 2026 | 13:19

ASN Diwanti-wanti WFH Bukan Libur Panjang

Kamis, 02 April 2026 | 13:15

Aksi Heroik Sugianto Bikin Prabowo Bangga, Diganjar Penghargaan Presiden Korsel

Kamis, 02 April 2026 | 13:09

Selengkapnya