Berita

Pengajar perempuan di Hongaria/Net

Dunia

Studi: Jumlah Pengajar Perempuan Capai 82 Persen, Pendidikan Hongaria Berisiko Terlalu Feminin

MINGGU, 28 AGUSTUS 2022 | 07:59 WIB | LAPORAN: HANI FATUNNISA

Banyaknya jumlah pengajar perempuan di Hongaria menimbulkan kekhawatiran akan risiko pendidikan yang terlalu feminin pada anak laki-laki di sekolah.  

Sebuah studi dari Kantor Audit Negara (NAO) Hongaria yang diterbitkan bulan lalu oleh kantor Nepszava menyebut fenomena ini sebagai "pendidikan merah muda" yang dapat menimbulkan tantangan ekonomi, sosial, demografis hingga berdampak pada perkembangan mental anak laki-laki.

"Jika pendidikan mendukung sifat-sifat feminin seperti kematangan emosional dan sosial, maka representasi perempuan akan berlebihan di sekolah dan kesetaraan gender akan melemah secara signifikan," jelas laporan tersebut.


Sementara itu, NAO menjelaskan bahwa pria yang lebih cenderung berani mengambil risiko dan tertarik pada wirausaha tidak akan dapat sepenuhnya mengembangkan potensinya.

"Dengan jumlah pengajar perempuan yang mencapai 82 persen, risiko pendidikan merah muda menjadi sangat besar dan akan berdampak pada mental dan perilaku siswa serta menghambat kreativitas dan inovasi mereka dalam pengembangan ekonomi secara optimal," terang NAO.

Kantor audit juga mengatakan bahwa pendidikan merah muda dapat menyebabkan masalah demografis. Sebab wanita berpendidikan tidak akan dapat menemukan pasangan yang berpendidikan sama, sehingga turut menurunkan angka kelahiran negara.

Untuk mengurangi risiko tersebut, Perdana Menteri Hongaria Viktor Orbán telah mempromosikan revolusi konservatif sejak kembali berkuasa pada tahun 2010, dan telah berjanji untuk mendorong tingkat kelahiran sambil merendahkan imigrasi serta melarang konten LGBTQ untuk anak-anak.

Namun, penelitian tersebut juga telah dibantah oleh anggota parlemen oposisi liberal Endre Toth, yang mengatakan di Facebook bahwa pembicaraan tentang kualitas maskulin dan feminin adalah omong kosong ilmiah.

"Sudah waktunya untuk melepas kacamata abad terakhir," tegasnya.

Meski begitu, peran perempuan Hongaria di ranah politik cukup terlihat, walaupun jumlahnya tidak banyak. Negara ini berada di dua peringkat terbawah Uni Eropa dalam jumlah anggota parlemen perempuan sebanyak 12,6 persen di atas Malta.

Padahal tahun ini, Hongaria baru saja mengambil sumpah presiden perempuan, Katalin Novak dan menteri kehakiman Judit Varga yang menandai diakuinya peran penting perempuan di pemerintahan.

Populer

Kajian Online Minta Maaf ke SBY dan Demokrat

Senin, 05 Januari 2026 | 16:47

Arahan Tugas

Sabtu, 03 Januari 2026 | 11:54

Prabowo Hampir Pasti Pilih AHY, Bukan Gibran

Minggu, 04 Januari 2026 | 06:13

Taktik Pecah Belah Jokowi Tak akan Berhasil

Sabtu, 10 Januari 2026 | 06:39

Pendukung Jokowi Kaget Dipolisikan Demokrat

Rabu, 07 Januari 2026 | 13:00

Menanti Nyali KPK Panggil Jokowi di Kasus Kuota Haji

Minggu, 11 Januari 2026 | 08:46

Penculikan Maduro Libatkan 32 Pesawat Buatan Indonesia

Selasa, 06 Januari 2026 | 13:15

UPDATE

Andre Rosiade Sambangi Bareskrim Polri Usai Nenek Penolak Tambang Ilegal Dipukuli

Senin, 12 Januari 2026 | 14:15

Cuaca Ekstrem Masih Akan Melanda Jakarta

Senin, 12 Januari 2026 | 14:10

Bitcoin Melambung, Tembus 92.000 Dolar AS

Senin, 12 Januari 2026 | 14:08

Sertifikat Tanah Gratis bagi Korban Bencana Bukti Kehadiran Negara

Senin, 12 Januari 2026 | 14:03

KPK Panggil 10 Saksi Kasus OTT Bupati Lampung Tengah Ardito Wijaya

Senin, 12 Januari 2026 | 14:03

Prabowo Terharu dan Bangga Resmikan 166 Sekolah Rakyat di Banjarbaru

Senin, 12 Januari 2026 | 13:52

Kasus Kuota Haji, Komisi VIII Minta KPK Transparan dan Profesional

Senin, 12 Januari 2026 | 13:40

KPK Periksa Pengurus PWNU DKI Jakarta Terkait Dugaan Korupsi Kuota Haji

Senin, 12 Januari 2026 | 13:12

Prabowo Tinjau Sekolah Rakyat Banjarbaru, Ada Fasilitas Smartboard hingga Laptop Persiswa

Senin, 12 Januari 2026 | 13:10

Air Naik hingga Sepinggang, Warga Aspol Pondok Karya Dievakuasi Polisi

Senin, 12 Januari 2026 | 13:04

Selengkapnya