Berita

Ilustrasi/Net

Dunia

Selain Jebakan Utang, China Juga Rugikan Sri Lanka Hingga Rp 102 Miliar dalam Kesepakatan Pupuk

JUMAT, 26 AGUSTUS 2022 | 09:19 WIB | LAPORAN: SARAH MEILIANA GUNAWAN

Menumpuknya utang pada China dinilai menjadi salah satu faktor bangkrutnya Sri Lanka. Namun selain itu, Beijing juga telah merugikan Sri Lanka dalam kesepakatan pembelian pupuk bernilai 6,9 juta dolar AS atau setara dengan Rp 102 miliar.

Pada Desember 2021, Sri Lanka membeli stok pupuk organik dari perusahaan China, Qingdao Seawin Biotech Group. Pembelian dilakukan ketika Mahindananda Aluthgamage menjadi Menteri Pertanian.

Tetapi belakangan pupuk itu tidak dapat digunakan karena mengandung bakteri berbahaya. Meski demikian, Sri Lanka tidak dapat mengembalikan pupuk tersebut.


Berbicara dalam konferensi pers pada Rabu (24/8), Menteri Pertanian saat ini, Mahinda AMaraweera mengakui negara telah merugi atas kesepakatan tersebut.

"Pembayaran sebesar 6,9 juta dolar AS telah dilakukan untuk kapal pupuk China. Sekarang, tidak ada pupuk atau uang. Tidak ada cara yang jelas untuk menyelesaikan masalah ini," kata Amaraweera, seperti dimuat media Sri Lanka, The Morning.

"Upaya pertama saya adalah untuk melihat apakah kami dapat memperoleh kembali uang sebanyak ini, tetapi tampaknya tidak berhasil. Kami harus menerima kenyataan bahwa negara kami telah menderita kerugian," tambah dia.

Baru-baru ini muncul laporan Kementerian Pertanian sedang mempertimbangkan untuk memperoleh jenis pupuk lain yang diproduksi oleh Qingdao Seawin Biotech Group untuk menggantikan stok pupuk organik yang mengandung bakteri berbahaya. Sayangnya perusahaan itu tidak memberikan tanggapan yang baik.

Kelangkaan pupuk juga diyakini sebagai salah satu faktor lainnya yang membuat Sri Lanka dilanda krisis.

Di bawah pemerintahan mantan Presiden Gotabaya Rajapaksa, petani dilarang menggunakan pupuk kimia. Alih-alih, ia mendorong penggunaan pupuk organik.

Tetapi karena pupuk organik dari China yang telah dibeli mengandung bakteri berbahaya, maka terjadi kelangkaan hingga petani akhirnya gagal panen.

Populer

Dicurigai Ada Peran Mossad di Balik Pengalihan Tahanan Yaqut

Senin, 23 Maret 2026 | 01:38

Kehadiran Anies di Cikeas Jadi Masalah Serius

Jumat, 27 Maret 2026 | 02:08

SBY Menolak Silaturahmi Lebaran Anies?

Jumat, 27 Maret 2026 | 03:43

Mengapa Kapal Pertamina Tidak Bisa Lewat Selat Hormuz?

Sabtu, 28 Maret 2026 | 02:59

TNI Tegas dalam Kasus Andrie Yunus, Beda dengan Polri

Sabtu, 21 Maret 2026 | 05:03

Polisi Diminta Profesional Tangani Kasus VCS Bupati Lima Puluh Kota

Jumat, 20 Maret 2026 | 00:50

Nasib Hendrik, SPPG Ditutup, 150 Karyawan Diberhentikan

Jumat, 27 Maret 2026 | 06:07

UPDATE

PBB Harus Bertindak Usai TNI Gugur dalam Serangan Israel

Senin, 30 Maret 2026 | 16:08

Apel Perdana Pasca Lebaran, Sekjen DPD Minta Kinerja Pegawai Dipercepat

Senin, 30 Maret 2026 | 16:06

Prajurit TNI Gugur di Lebanon, DPR: Ini Menyakitkan

Senin, 30 Maret 2026 | 16:04

Penerbangan Langsung Tiongkok-Korut Kembali Dibuka Setelah Vakum Enam Tahun

Senin, 30 Maret 2026 | 16:04

Cak Imin Kritik Cara Pandang Aparat dalam Kasus Amsal Sitepu

Senin, 30 Maret 2026 | 16:01

Pemprov DKI Segera Susun Aturan Turunan PP Tunas

Senin, 30 Maret 2026 | 15:53

Lebaran Selesai, Kemenkop Gaspol Operasionalisasi Kopdes Merah Putih

Senin, 30 Maret 2026 | 15:45

Komisi II Kulik Proker hingga Renstra KPU-Bawaslu-DKPP

Senin, 30 Maret 2026 | 15:40

Target Pengesahan RUU Hukum Acara Perdata Masih Abu-Abu

Senin, 30 Maret 2026 | 15:31

Wamenhaj RI Bahas Antisipasi Biaya dan Logistik Haji 2026 dengan Arab Saudi

Senin, 30 Maret 2026 | 15:29

Selengkapnya