Berita

Roger Waters/Net

Dunia

Musisi Inggris Masuk Daftar Hitam Ukraina Gara-gara Mengecam Larangan Visa untuk Warga Rusia

KAMIS, 25 AGUSTUS 2022 | 06:10 WIB | LAPORAN: RENI ERINA

Kecaman terhadap larangan visa untuk warga Rusia yang disuarakan musisi papan atas asal Inggris, Roger Waters, mendapat respon cepat dari situs pencarian data di ukraina, Mirotvorets (Peacemaker).

TASS melaporkan bahwa situs tersebut telah memasukkan Waters ke dalam daftar hitam mereka.

Dalam sebuah pernyataan, situs itu menafsirkan komentar Waters sebagai 'invansi' terhadap integritas teritorial Ukraina.


Waters, salah satu pendiri band rock Inggris Pink Floyd, dalam sebuah wawancara dengan media mengatakan bahwa larangan visa bagi semua warga Rusia sangat tidak adil, menyebutnya sebagai keputusan yang tidak masuk akal.

"Itu gagasan yang salah," kata Waters. Menghukum semua orang atas kesalahan beberapa orang, jelas sangat salah. Ia menyebutnya sebagai 'hukuman kolektif' dan 'pemikiran yang gila'.

"Hukuman kolektif adalah salah. Tidak peduli apakah ini terjadi di Rusia atau China, atau Israel atau siapa pun, hukuman kolektif selalu salah. Mereka bilang, 'Hei, Rusia adalah musuh. Jadi, mari kita hukum semua orang Rusia,'" kata Waters berapi-api.

Menanggapi bahwa dirinya dimasukkan ke dalam daftar hitam atas komentarnya itu, Waters malah tertawa. Ia mengaku daftar hitan itu tidak berpengaruh apa-apa terhadapnya dan ia sama sekali tidak peduli.

"Itulah pekerjaan para propagandis. Mereka disuruh duduk dan menulis omong kosong tentang saya ini karena itu bagian dari pekerjaan mereka," katanya.

Beberapa negara Barat mengeluarkan larangan visa bagi semua warga Rusia sebagai hukuman atas invasi mereka.

Ide itu pertama kali dicetuskan oleh Presiden Ukraina Vladimir Zelensky. Dalam wawancaranya dengan Washington Post, Zelensky mengatakan bahwa negara-negara Barat harus melarang semua warga Rusia memasuki wilayah mereka. Ini agar warga Rusia paham bahwa rezim yang mereka pilih telah melakukan kejahatan. Mereka yang menentang invasi dan langkah rezim Putin, tidak melakukan apa-apa melainkan pergi meninggalkan Rusia ke negara-negara lain.

Menteri Luar Negeri Ukraina Dmitry Kuleba juga telah mendesak negara-negara UE dan G7 untuk berhenti mengeluarkan visa untuk warga Rusia. Seruan ini didukung oleh politisi individu di Uni Eropa, khususnya di negara-negara Baltik.

Populer

10 Jalan Febrie Adriansyah Menuju Bebas

Minggu, 19 Juli 2026 | 05:24

Selembar Ijazah Keliling Republik

Rabu, 22 Juli 2026 | 12:00

Hotman Paris Harus Minta Maaf

Minggu, 19 Juli 2026 | 17:02

Hotman Paris Tegaskan Tuduhan Keterlibatan Febrie dalam Kasus Asabri Salah Total

Sabtu, 18 Juli 2026 | 02:58

Permainan Kejagung Terlalu Kasar soal Penghentian Pengumpulan Data Program MBG

Rabu, 15 Juli 2026 | 05:14

Penetapan Tersangka Tetap Sah Meski Belum Diperiksa

Sabtu, 18 Juli 2026 | 12:35

Ahli Waris Laporkan Dugaan Aset Tak Wajar Mantan Pejabat Negara ke KPK

Rabu, 22 Juli 2026 | 16:58

UPDATE

Jaksa Agung Resmi Lantik Kuntadi sebagai Pengganti Febrie

Jumat, 24 Juli 2026 | 12:25

Wasekjen AMPI: Hasil Rapat Pleno IX Cacat Hukum dan Tak Punya Legitimasi

Jumat, 24 Juli 2026 | 12:23

Danantara Mulai Bentuk Perusahaan Manajemen Aset Raksasa

Jumat, 24 Juli 2026 | 12:15

Samsung Galaxy Z Fold 8 Hadirkan Desain Tipis dan Performa Tangguh

Jumat, 24 Juli 2026 | 11:55

Indonesia Kecam Serangan terhadap Kapal Komersial di Laut Merah

Jumat, 24 Juli 2026 | 11:34

Perbaikan SDN Kebayoran Lama Selatan 09 Jadi PR Bersama

Jumat, 24 Juli 2026 | 11:32

Panda Bond RI Laris, Pemerintah Raup Rp18,5 Triliun

Jumat, 24 Juli 2026 | 11:27

Kemunculan Kabinet Bayangan Konsekuensi dari Demokrasi

Jumat, 24 Juli 2026 | 11:04

Iran: Trump akan Hadapi Konsekuensi jika Serangan AS Berlanjut

Jumat, 24 Juli 2026 | 11:04

Dude Harlino Kembalikan Honor Rp5,25 Miliar dari PT DSI, Sebut Bentuk Kepedulian untuk Korban

Jumat, 24 Juli 2026 | 10:50

Selengkapnya