Berita

Duta Besar Rusia untuk AS, Anatoly Antonov/Net

Dunia

Antonov: Washington Rela Habiskan Miliaran Dolar Agar Perang Ukraina-Rusia Tetap Berlanjut

RABU, 10 AGUSTUS 2022 | 09:45 WIB | LAPORAN: RENI ERINA

Penyelesaian damai konflik Rusia dan Ukraina bukan sesuatu yang diinginkan Amerika Serikat. Duta Besar Rusia untuk AS, Anatoly Antonov bahkan mengatakan Pemerintahan Joe Biden tidak tertarik untuk memulihkan perdamaian di negara itu.

Komentar Antonov keluar tak lama setelah Gedung Putih mengumumkan paket bantuan militer tambahan senilai 1 miliar dolar AS untuk Kiev.

"Alokasi tambahan 1 miliar dolar untuk bantuan militer kepada pemerintah Ukraina membuktikan bahwa Amerika Serikat tidak menginginkan perdamaian, dan bahkan tidak akan berkontribusi pada penyelesaian krisis,"  kata Antonov, seperti dikutip dari RT, Rabu (10/8).


Duta Besar itu juga mengecam penjelasan pemerintahan Biden bahwa pengiriman senjata tambahan akan memperkuat posisi Ukraina dalam setiap negosiasi di masa depan dengan Rusia.

"Tidak jelas bagaimana seseorang dapat berbicara tentang dialog (perdamaian) dalam kondisi (terus menerus dipasok senjata), ketika satu-satunya tujuan Amerika Serikat adalah untuk memperpanjang konflik sebanyak mungkin," ujarnya.

Antonov mengklaim bahwa dengan menambahkan bahwa pasokan lebih banyak senjata ke Kiev hanya akan memperpanjang penderitaan rezim Ukraina.

Dia juga memperingatkan bahwa AS sendiri menjadi semakin ditarik ke dalam konflik, mendekati garis berbahaya dalam konfrontasi dengan Federasi Rusia.

Diplomat itu kemudian menuduh apa yang ia sebut sebagai "militan Zelensky" menggunakan senjata Barat yang mereka terima untuk melakukan serangan mematikan di daerah pemukiman kota Donbass setiap hari.

Alih-alih menghabiskan miliaran dolar untuk Ukraina, Antonov menyarankan agar dana tersebut digunakan untuk membantu ekonomi dan sosial Amerika Latin, Afrika dan Asia, yang sangat terpukul oleh pandemi Covid-19.

Pernyataan Antonov datang tak lama setelah Pentagon pada hari Senin meluncurkan paket bantuan militer terbesar untuk Kiev sejak konflik Rusia-Ukraina pecah pada akhir Februari.

Populer

Jaksa Belum Yakin Hasil Forensik Ijazah Jokowi

Rabu, 06 Mei 2026 | 18:31

Abu Janda Cs Jangan Sampai Lolos

Minggu, 10 Mei 2026 | 02:00

Sikap Dudung Pasang Badan Bela Seskab Teddy Berlebihan

Rabu, 06 Mei 2026 | 03:39

Profil Achmad Syahri Assidiqi: Legislator Gerindra 'Gamer' Anak Eks DPR RI

Selasa, 12 Mei 2026 | 20:12

Wali Murid Sekolah Islam Terpadu di Tangerang Korban Investasi Bodong Lapor Polisi

Minggu, 10 Mei 2026 | 02:13

Nama Dirjen Bea Cukai Djaka Budi Utama Terseret di Dakwaan Bos Blueray Cargo

Rabu, 06 Mei 2026 | 17:16

PSI Ketar-ketir Lawan Jusuf Kalla

Jumat, 08 Mei 2026 | 06:47

UPDATE

Legislator Gerindra Dipanggil Majelis Kehormatan Usai Viral Main Game saat Rapat

Jumat, 15 Mei 2026 | 12:19

Emas Antam Ambruk, Satu Gram Dibanderol Rp2,81 Juta

Jumat, 15 Mei 2026 | 12:10

Di Forum BRICS, Sugiono Kenang Empat TNI Gugur dalam Misi Perdamaian Lebanon

Jumat, 15 Mei 2026 | 12:02

Pengamat: Kombinasi Sentimen Global Bikin Rupiah Tersungkur

Jumat, 15 Mei 2026 | 11:29

Jakarta Masih Ibu Kota Kabar Baik untuk Masa Depan Indonesia

Jumat, 15 Mei 2026 | 11:23

ARUKKI Surati Ketua KPK, Minta Dirjen Bea Cukai Djaka Budi Diperiksa

Jumat, 15 Mei 2026 | 11:16

Jemaah Haji Lansia dan Sakit Tetap Raih Pahala Meski Beribadah di Hotel

Jumat, 15 Mei 2026 | 11:09

Resmi Masuk RI! Ini Spesifikasi dan Harga MacBook Neo, Laptop Termurah Apple

Jumat, 15 Mei 2026 | 11:03

PKB Gagas Reformasi Perlindungan Santri Lewat Temu Nasional Ponpes

Jumat, 15 Mei 2026 | 11:01

Di Balik Pelemahan Rupiah, Ada Tekanan Besar pada Ekonomi Domestik

Jumat, 15 Mei 2026 | 10:51

Selengkapnya