Berita

Direktur Asia Maritime Transparency Initiative, Center for Strategic and International Studies (CSIS), Gregory B. Poling dalam kuliah umum bertajuk "Charting the Uncharted Ocean: Navigating the Future of Maritime Security in the South China Sea" yang digelar oleh The Habibie Center pada Selasa, 9 Agustus 2022/Repro

Dunia

Pengamat: Meski Kadang Berlebihan, Intervensi AS di Laut China Selatan Penting untuk Membendung China

SELASA, 09 AGUSTUS 2022 | 19:21 WIB | LAPORAN: HANI FATUNNISA

Kehadiran Amerika Serikat (AS) dalam konflik Laut China Selatan tetap sangat diperlukan untuk membendung kekuatan besar China yang berupaya mengintimidasi negara di sekitarnya dan mengakuisisi wilayah tersebut.

Begitu yang dikatakan oleh Direktur Asia Maritime Transparency Initiative, Center for Strategic and International Studies (CSIS), Gregory B. Poling dalam kuliah umum bertajuk "Charting the Uncharted Ocean: Navigating the Future of Maritime Security in the South China Sea" yang digelar oleh The Habibie Center pada Selasa (9/8).

“Amerika sebaiknya tetap ada di Laut China Selatan. Agar dapat mengimbangi kekuatan Tiongkok dan mendukung mitra kerjasamanya di wilayah yang disengketakan,” kata Poling.


Merujuk pada bukunya berjudul "On Danger Ground America Century in The South Cina Sea", Poling mengatakan AS telah lama terlibat dalam persoalan Laut China Selatan karena identitasnya sebagai negara perdagangan laut internasional.

Menurut Poling, AS juga memiliki tanggung jawab untuk mendukung dan menjaga negara-negara sekutunya, seperti Filipina dan Vietnam agar tidak diserang negara lain atas keterlibatan mereka pada sengketa Laut China Selatan.

Walaupun banyak pihak menganggap intervensi AS dalam konflik Laut China Selatan telah berlebihan dan melanggar kedaulatan negara ASEAN, tetapi Poling menilai tindakan Washington itu tidak akan memicu Perang Dunia Ketiga.

Sebaliknya, ia justru menyoroti banyaknya negara yang terganggu oleh manuver China di Laut China Selatan, namun justru cenderung diam dan tidak melakukan apa-apa.

“Penyebabnya bisa banyak hal. Salah satunya adalah sanksi ekonomi dan pemutusan hubungan kerjasama oleh China yang menjadi pertimbangan besar bagi sebuah negara,” jelas Poling.

Lebih lanjut, Poling mendorong agar masyarakat dan akademisi untuk terus menyuarakan isu Laut China Selatan sebagai bentuk desakan kepada pemerintah agar berani memperjuangkan kepentingan negara di kawasan.

Populer

Dicurigai Ada Peran Mossad di Balik Pengalihan Tahanan Yaqut

Senin, 23 Maret 2026 | 01:38

Kehadiran Anies di Cikeas Jadi Masalah Serius

Jumat, 27 Maret 2026 | 02:08

Mengapa Kapal Pertamina Tidak Bisa Lewat Selat Hormuz?

Sabtu, 28 Maret 2026 | 02:59

SBY Menolak Silaturahmi Lebaran Anies?

Jumat, 27 Maret 2026 | 03:43

Nasib Hendrik, SPPG Ditutup, 150 Karyawan Diberhentikan

Jumat, 27 Maret 2026 | 06:07

KPK Klaim Status Tahanan Rumah Yaqut Sesuai UU

Jumat, 27 Maret 2026 | 12:26

Kubu Jokowi Bergerak Senyap untuk Jatuhkan Prabowo

Rabu, 25 Maret 2026 | 06:15

UPDATE

Austria Tolak Wilayah Udaranya Dipakai AS untuk Serang Iran

Jumat, 03 April 2026 | 00:15

Memutus Mata Rantai Rabun Jauh Birokrasi

Kamis, 02 April 2026 | 23:50

PHE Tampilkan Inovasi Hulu Migas di Ajang Offshore Internasional

Kamis, 02 April 2026 | 23:21

Spirit ‘Kurban’ Prajurit UNIFIL

Kamis, 02 April 2026 | 22:57

Pencarian Berakhir Duka, Achmad Ragil Ditemukan Meninggal di Sungai Way Abung

Kamis, 02 April 2026 | 22:39

Robert Priantono Dicecar KPK soal Pungutan Tambang Kukar

Kamis, 02 April 2026 | 22:01

China Ajak Dunia Bersatu Dukung Inisiatif Perdamaian di Wilayah Teluk

Kamis, 02 April 2026 | 21:42

DPR: BPS Bukan Sekadar Pengumpul Data, tapi Penentu Arah Pembangunan

Kamis, 02 April 2026 | 21:31

78 Pejabat Pemkot Surabaya Dirotasi, Ada Apa?

Kamis, 02 April 2026 | 21:18

OJK Siap Luncurkan ETF Emas Akhir April 2026

Kamis, 02 April 2026 | 21:08

Selengkapnya