Ukraina telah melakukan perekrutan tentara dengan sewenang-wenang. New York Times dalam laporannya baru-baru ini mengungkapkan bahwa banyak tentara yang dipaksa untuk bertugas dalam perang melawan Rusia, yang pada akhirnya mempengaruhi moral pasukan itu.
Tentara yang tidak bersedia ditugas dalam perang, dengan terpaksa mengikuti aturan tersebut. Pada akhirnya berpengaruh terhadap loyalitas dan persatuan di antara pasukan, kata laporan tersebut.
"Ada tanda-tanda, lima bulan yang melelahkan dalam perang, bahwa rasa persatuan mulai memudar di dalam militer Ukraina," isi surat kabar itu pada Senin (25/7), seperti dikutip dari RT, Selasa (26/7).
Beberapa tentara tidak senang bahwa mereka dipaksa melakukan "layanan yang lama dan sulit", sementara banyak lainnya berhasil menghindari tugas itu.
Salah seorang tentara mengatakan, personil yang terbatas membuat mereka sulit menghindari tugas berat itu.
“Tidak ada yang bisa menggantikan kami. Ada terlalu sedikit orang. Ini sangat sulit bagi para pria, secara psikologis,†katanya, tanpa bersedia menyebutkan nama. Ia telah turun ke medan perang sejak invasi Rusia dimulai di Ukraina.
Para tentara juga mempertanyakan birokrasi yang rumit, di mana ada tentara yang bersedia ditugaskan dalam perang melawan Rusia tetapi gagal diikutkan dengan alasan tidak memenuhi prosedur, sementara beberapa yang menolak malah dipaksa untuk menerima tugas itu.
Surat kabar menyinggung kembali peristiwa pada Juni, di mana polisi Kiev telah menggerebek dua klub malam di ibukota karena melanggar jam malam, dan di antara tamu ada banyak tentara yang seharusnya bertugas.
Beberapa komandan Ukraina telah mengeluh bahwa memanggil orang-orang yang tidak mau melayani menurunkan moral di antara mereka yang secara sukarela.
Valery Markus, sersan senior dari Batalyon Angkatan Bersenjata ke-47, merasa sangat kecewa dengan perekrutan Ukraina yang kacau. Menurutnya, perekrutan yang kurang terlatih dan tidak termotivasi akan membahayakan nyawa pasukan lain. Dia juga mengingat kasus alkoholisme dan masalah mengganggu lainnya di antara tentara yang baru tiba.
Pemerintah Ukraina, yang telah melarang semua pria berusia antara 18 dan 60 tahun untuk meninggalkan negara itu, telah melakukan perekrutan besar-besaran di tengah konflik dengan Rusia.
Pihak berwenang mengklaim bahwa hanya mereka yang bersedia untuk bergabung dengan militer yang dipanggil, tetapi saksi melaporkan bahwa banyak yang dipaksa untuk bergabung.
New York Times menyebut sistem itu bak permainan 'kucing dan tikus' antara perekrut dan orang-orang yang berusaha menghindari.
Media Rusia, RT melaporkan, Kiev telah mengirim orang ke garis depan tanpa pemeriksaan medis yang layak dan hanya memberi mereka beberapa hari pelatihan dasar. Jajaran militer Ukraina bukan saja diisi oleh mereka yang 'terpaksa' bergabung, tetapi juga dengan narapidana yang dibebaskan dari penjara.