Sri Lanka akan meminta China untuk membantunya keluar dari kekacauan ekonominya.
Duta Besar Sri Lanka untuk China, Palitha Kohona, mengatakan bahwa Presiden baru Sri Lanka, Ranil Wickremesinghe, akan berkunjung ke China untuk membahas hal tersebut, termasuk mendiskusikan kerja sama dalam berbagai hal seperti perdagangan, investasi dan pariwisata.
Wickremesinghe tidak asing dengan China. Pada 2016, dia mengunjungi Beijing dan bertemu dengan Presiden China Xi Jinping. Ada foto yang menunjukkan bagaimana ia nampak akrab berjabat tangan dengan pemimpin China itu.
Kohona mengatakan dia mengharapkan tidak ada perubahan mendasar dalam kebijakan pemerintah baru terhadap China.
Saat ini, China mungkin sedang dalam keadaan sulit untuk bertindak cepat untuk membantu Sri Lanka. Sebagai kreditur global utama, China juga terkait dengan banyak negara yang juga sama-sama sedang mengalami masalah keuangan.
“Mungkin jika hanya Sri Lanka, maka pengambilan keputusan akan jauh lebih mudah,†kata Kohona.
Sri Lanka telah melakukan pembicaraan dengan China untuk paket bantuan senilai 4 miliar dolar AS untuk membantunya keluar dari krisis ekonomi, seperti dilaporkan
Asia Finansial, Senin (25/7).
Negara kepulauan berpenduduk 22 juta orang itu telah kehabisan cadangan devisa dan pengunjuk rasa yang marah karena kekurangan bahan bakar, makanan dan obat-obatan menggulingkan keluarga penguasa Rajapaksa.
Bantuan itu terdiri dari pinjaman sebesar 1 miliar dolar AS untuk membayar kembali jumlah utang China yang jatuh tempo tahun ini.
Ia juga meminta batas kredit 1,5 miliar dolar AS untuk membayar impor China.
Kohona mengatakan impor ini terutama merupakan input yang dibutuhkan oleh industri garmen yang menguntungkan negaranya seperti kancing dan ritsleting.
Dalam sebuah wawancara dengan Reuters di kedutaan Sri Lanka di Beijing, Kohona mengatakan Kolombo ingin China meminta perusahaannya untuk membeli lebih banyak teh hitam Sri Lanka, safir, rempah-rempah dan pakaian dan membuat aturan impor China lebih transparan dan lebih mudah dinavigasi.
Dia mengatakan Beijing juga dapat membantu dengan menuangkan investasi lebih lanjut ke proyek pelabuhan besar yang didukung China di Kolombo dan Hambantota. Rencana investasi besar China itu belum terwujud karena terhalang pandemi Covid-19.
Selain itu, Sri Lanka ingin melihat lebih banyak turis Tiongkok, yang jumlahnya menurun drastis beberapa tahun belakangan ini.
Sri Lanka juga berharap dapat membujuk China untuk mengaktifkan pertukaran mata uang bilateral senilai 1,5 miliar dolar AS.
Kohona mengatakan diskusi tentang bantuan keuangan dengan China masih berlangsung tetapi tidak ada tanggal untuk pertemuan berikutnya yang telah ditetapkan.
Selain bantuan keuangan, Sri Lanka juga berharap China dapat membantunya membeli bahan bakar, pupuk, dan pasokan lain yang sangat dibutuhkan.