Berita

Ilustrasi/Net

Dunia

Monkeypox di India: Kasus Pertama Penularan Lokal dari Manusia ke Manusia

SENIN, 25 JULI 2022 | 08:58 WIB | LAPORAN: RENI ERINA

India memfokuskan perhatiannya kepada kasus cacar monyet yang terus meningkat. Pada Minggu (24/7), Pemerintah Pusat mengadakan pertemuan peninjauan tingkat tinggi, setelah negara itu mencatat kasus cacar monyet keempat, setelah tiga kasus lainnya dilaporkan di Kerala.

Kasus baru terjadi pada seorang pria berusia 34 tahun dari Delhi, yang tidak memiliki riwayat perjalanan internasional. Saat ini, pria itu dirawat di Rumah Sakit Umum Daerah di Delhi, setelah dia menunjukkan gejala cacar monyet.

Ini berarti menandai kasus pertama penularan lokal dari manusia ke manusia di India, hanya berselang satu hari setelah Organisasi Kesehatan Dunia (WHO) menyatakan wabah itu sebagai darurat kesehatan global.


Pejabat Kementerian Kesehatan mengatakan kontak dekat dari kasus tersebut telah diidentifikasi. Sembilan kontak, termasuk anggota keluarga pasien, telah dikarantina dan masih terus dalam pengawasan walaupun tidak menunjukkan gejala.

"Tinjauan tingkat tinggi atas situasi tersebut sedang dalam pembahasan oleh Direktorat Jenderal Ilmu Kesehatan pada Minggu sore," kata kementerian, seperti dikutip dari Indian Today.

Kementerian Kesehatan sejak pekan lalu melakukan meninjau prosedur penyaringan pelancong internasional yang tiba di India setelah kasus virus dilaporkan. Petugas Kesehatan Bandara dan Pelabuhan ditugaskan juga memastikan pemeriksaan ketat terhadap semua pelancong internasional untuk meminimalkan risiko kasus cacar monyet.

Selain India, satu kasus telah terdeteksi di Thailand. Pusat Pengendalian Penyakit Nasional (NCDC)  melakukan penyelidikan epidemiologis terperinci terhadap kasus-kasus tersebut.

Cacar monyet bukanlah penyakit baru seperti Covid-19. Infeksi cacar monyet pertama pada manusia diidentifikasi pada tahun 1970 di Republik Demokratik Kongo pada seorang anak laki-laki berusia sembilan bulan.

Sebagian besar infeksi awalnya disebabkan oleh interaksi manusia dan hewan di pedesaan, daerah hutan hujan di lembah Kongo. Sebelum wabah 2022, peningkatan kasus dilaporkan dari Afrika Tengah dan Barat. Wabah pertama di luar Afrika terjadi pada tahun 2003, ketika Amerika Serikat melihat lebih dari 70 kasus.

Sebenarnya, monkeypox adalah infeksi virus yang bisa sembuh dengan sendirinya, dengan gejala yang berlangsung 2-4 minggu. Rasio kasus fatalitas berkisar antara 0 dan 11 persen. Gejala yang paling umum termasuk demam, sakit kepala, nyeri otot, nyeri punggung, energi rendah, dan pembengkakan kelenjar getah bening, bersama dengan ruam yang berlangsung selama 2-3 minggu.

Meskipun ringan, tetapi penyakit ini bisa menyebabkan komplikasi dan kematian pada anak-anak dan mereka yang memiliki sistem kekebalan yang lemah. Komplikasi termasuk pneumonia, infeksi kulit sekunder, sepsis, ensefalitis dan infeksi pada kornea.


Lalu mengapa saat ini terjadi lonjakan?

Infeksi cacar monyet ditularkan melalui kontak langsung lewat darah, cairan tubuh, atau luka pada hewan yang terinfeksi. Penularan dari manusia ke manusia dapat terjadi baik melalui sekresi pernapasan yang besar atau kontak dengan lesi orang yang terinfeksi atau benda yang terkontaminasi.

Ekta Gupta, profesor virologi di Institute of Liver and Biliary Diseases mengatakan, penularan cacar monyet tidak seperti influenza atau Covid-19.

“Ini tidak menular seperti Covid-19, jadi tidak mungkin menyebabkan wabah seperti itu juga. Namun, penyebaran baru-baru ini dapat dikaitkan dengan penurunan kekebalan kelompok dari vaksinasi cacar. Itu selalu diharapkan bahwa kekebalan vaksin akan turun, tetapi kami tidak mengantisipasi bahwa strain hewan akan mengambil alih,” kata Gupta.

Dia menekankan perlunya menyelidiki apakah pandemi Covid mungkin berdampak pada sistem kekebalan dengan cara yang mungkin membuat orang lebih rentan terhadap infeksi lain.

Selama bertahun-tahun, rantai penularan - jumlah infeksi dari orang ke orang yang berurutan - telah meningkat dari enam menjadi sembilan.

Rosamund Lewis, ahli utama cacar monyet WHO, telah menyerukan penelitian untuk melihat apakah ada perubahan pada virus, atau apakah ini terjadi karena penurunan jumlah orang yang diimunisasi terhadap cacar.

Populer

Jaksa Belum Yakin Hasil Forensik Ijazah Jokowi

Rabu, 06 Mei 2026 | 18:31

Abu Janda Cs Jangan Sampai Lolos

Minggu, 10 Mei 2026 | 02:00

Profil Achmad Syahri Assidiqi: Legislator Gerindra 'Gamer' Anak Eks DPR RI

Selasa, 12 Mei 2026 | 20:12

Sikap Dudung Pasang Badan Bela Seskab Teddy Berlebihan

Rabu, 06 Mei 2026 | 03:39

Wali Murid Sekolah Islam Terpadu di Tangerang Korban Investasi Bodong Lapor Polisi

Minggu, 10 Mei 2026 | 02:13

Nama Dirjen Bea Cukai Djaka Budi Utama Terseret di Dakwaan Bos Blueray Cargo

Rabu, 06 Mei 2026 | 17:16

PSI Ketar-ketir Lawan Jusuf Kalla

Jumat, 08 Mei 2026 | 06:47

UPDATE

Ironi, Kasat Narkoba Polres Kukar Ditangkap Kasus Narkoba

Jumat, 15 Mei 2026 | 22:14

SOKSI Bangkitkan Program P2KB, Perkuat Kaderisasi dan Konsolidasi Golkar

Jumat, 15 Mei 2026 | 21:55

Konsultasi Bilateral di Moskow, RI-Rusia Soroti Konflik Timur Tengah

Jumat, 15 Mei 2026 | 21:50

Proyek Coretax DJP Digugat Buntut Aroma Monopoli

Jumat, 15 Mei 2026 | 21:47

Masalah Etik dan Suap, Menteri PU Panggil Pulang ASN dari Luar Negeri

Jumat, 15 Mei 2026 | 21:33

Ini Tips Menghitung Komponen Pembayaran Listrik

Jumat, 15 Mei 2026 | 21:02

Nakba dan Perubahan Politik Regional di Timur Tengah

Jumat, 15 Mei 2026 | 20:57

Mantan Kepala Bakamla Ingatkan Kesiapan Finansial Negara Memodernisasi Alutsista

Jumat, 15 Mei 2026 | 20:37

Menko Airlangga Bertemu PM Belarus, Ini yang Dibahas

Jumat, 15 Mei 2026 | 20:36

Pakar: Ibu Kota Negara RI di Jakarta Konstitusional

Jumat, 15 Mei 2026 | 20:09

Selengkapnya