Berita

Ilustrasi/Net

Dunia

Kemlu: Laporan Perdagangan Manusia AS Tidak Transparan dan Tanpa Parameter yang Jelas

KAMIS, 21 JULI 2022 | 16:35 WIB | LAPORAN: HANI FATUNNISA

Kementerian Luar Negeri RI buka suara perihal laporan perdagangan manusia yang baru-baru ini dirilis oleh Departemen Luar Negeri Amerika Serikat (AS).

Dalam laporan "Trafficking in Persons Report July 2022" yang dirilis oleh Deplu AS, peringkat Indonesia diturunkan dari Tier 2 menjadi Tier 2 Watch List.

Deplu AS menyebut investigasi kejahatan perdagangan manusia di Indonesia dan hukumannya telah menurun.


"Koordinasi antara satuan tugas anti-perdagangan manusia nasional dan mitranya di tingkat provinsi dan lokal tidak cukup untuk menerjemahkan kebijakan pemerintah pusat ke dalam implementasi nasional," kata Deplu AS.

Menanggapi hal tersebut, Direktur Jenderal Informasi dan Diplomasi Publik Kemlu RI, Teuku Faizasyah mengatakan pihaknya tidak memiliki kepentingan untuk mengomentari laporan tersebut karena tidak jelasnya parameter yang digunakan.

"Sebenarnya tidak ada urgensi untuk menanggapi secara khusus laporan ini," ucap Teuku dalam press briefing mingguan secara virtual pada Kamis (21/7).

"Laposan sejenis ini adalah laporan tanpa parameter yang jelas, dan proses penyusunannya pun tidak transparan," tambah dia.

Teuku menegaskan, Indonesia memiliki komitmen dalam memerangi perdagangan manusia. Bahkan sejak 2002, Indonesia bersama Australia menginisiasi Bali Process, yang merupakan satu-satunya konsultasi kawasan untuk membahas isu perdagangan manusia dan kejahatan terkait.

Lebih lanjut, ia menekankan, di tengah situasi global yang penuh tantangan saat ini, kerjasama untuk memperkuat solidaritas perlu dilakukan.

"Akan lebih berbahaya jika laporan-laporan ini dilatarbelakangi semangat rivalitas antar kekuatan besar," imbaunya.

Populer

Dicurigai Ada Peran Mossad di Balik Pengalihan Tahanan Yaqut

Senin, 23 Maret 2026 | 01:38

Kehadiran Anies di Cikeas Jadi Masalah Serius

Jumat, 27 Maret 2026 | 02:08

Mengapa Kapal Pertamina Tidak Bisa Lewat Selat Hormuz?

Sabtu, 28 Maret 2026 | 02:59

SBY Menolak Silaturahmi Lebaran Anies?

Jumat, 27 Maret 2026 | 03:43

Nasib Hendrik, SPPG Ditutup, 150 Karyawan Diberhentikan

Jumat, 27 Maret 2026 | 06:07

Dubai Menuju Kota Hantu

Selasa, 31 Maret 2026 | 13:51

Permohonan Pengosongan Rumah Anak Zulhas Diajukan ke PN Jaktim

Rabu, 01 April 2026 | 18:05

UPDATE

Austria Tolak Wilayah Udaranya Dipakai AS untuk Serang Iran

Jumat, 03 April 2026 | 00:15

Memutus Mata Rantai Rabun Jauh Birokrasi

Kamis, 02 April 2026 | 23:50

PHE Tampilkan Inovasi Hulu Migas di Ajang Offshore Internasional

Kamis, 02 April 2026 | 23:21

Spirit ‘Kurban’ Prajurit UNIFIL

Kamis, 02 April 2026 | 22:57

Pencarian Berakhir Duka, Achmad Ragil Ditemukan Meninggal di Sungai Way Abung

Kamis, 02 April 2026 | 22:39

Robert Priantono Dicecar KPK soal Pungutan Tambang Kukar

Kamis, 02 April 2026 | 22:01

China Ajak Dunia Bersatu Dukung Inisiatif Perdamaian di Wilayah Teluk

Kamis, 02 April 2026 | 21:42

DPR: BPS Bukan Sekadar Pengumpul Data, tapi Penentu Arah Pembangunan

Kamis, 02 April 2026 | 21:31

78 Pejabat Pemkot Surabaya Dirotasi, Ada Apa?

Kamis, 02 April 2026 | 21:18

OJK Siap Luncurkan ETF Emas Akhir April 2026

Kamis, 02 April 2026 | 21:08

Selengkapnya