Berita

Ilustrasi/Net

Publika

Membicarakan Potensi Krisis Pangan

RABU, 20 JULI 2022 | 11:20 WIB | OLEH: DR. IR. SUGIYONO, MSI

MASALAH krisis pangan tidak sama persis dengan masalah laju inflasi tinggi yang bersumber dari pangan. Laju inflasi tinggi pada bulan Juni tahun 2022, yang bersumber dari sayur-mayur bukanlah berasal dari produksi sayur-mayur yang menurun, melainkan produksi sayur-mayur meningkat, namun harga jual eceran sayur-mayur masih naik.

Persoalan justru berasal dari tekanan kenaikan upah tenaga kerja dan kenaikan harga eceran pupuk terhadap kenaikan harga sayur-mayur, sekalipun pemerintah telah berusaha menata upah menggunakan instrumen upah minimum dan subsidi harga pupuk.

Yang bermasalah adalah ketersediaan pupuk bersubsidi dibandingkan pupuk non subsidi. Harga pupuk non subsidi terpengaruh oleh kenaikan indeks harga gas alam tingkat dunia, yang merupakan bahan baku untuk memproduksi pupuk urea.


Harga pupuk non subsidi naik, meskipun pemerintah telah membuat harga acuan penjualan gas alam ke pabrik yang memproduksi pupuk.

Kemudian upah tenaga kerja terdorong naik oleh kenaikan harga BBM nonsubsidi. Kenaikan bukan berasal dari pembentuk biaya variabel dari proses produksi, melainkan oleh faktor psikologis dari kenaikan harga BBM nonsubsidi kepada biaya overhead dari produksi barang dan jasa. Namun, semestinya hal itu tidak meningkatkan harga jual dan harga beli konsumsi barang dan jasa.

Akan tetapi harga eceran dari makanan, minuman, dan tembakau tetap naik dan menjadi sumber inflasi tertinggi pada sektor pangan. Hal itu mendorong upah tenaga kerja juga naik.

Sekalipun masalah krisis harga sayur-mayur dapat diatasi, apabila rumah tangga menanam sayur-mayur sendiri menggunakan metoda hidroponik di perkotaan dan di lahan kebun pekarangan untuk rumah tangga di perdesaan, namun gagasan swasembada tingkat ekonomi rumah tangga yang seperti tidak terhindar dari kritik.

Misalnya, ketika harga telurdan daging ayam ras naik, kemudian rumah tangga di perkotaan mengalami kesulitan untuk beternak ayam ras dalam halaman pekarangan mereka, yang langka memiliki lahan pekarangan dibandingkan menanam sayur-mayur secara hidroponik.

Berdasarkan data neraca pangan dari Organisasi Pangan Dunia, sekalipun tahun 2019, namun itu informasi yang tersedia. Potensi krisis pangan ditemukan pada komoditas yang kandungan impornya besar, seperti gandum, cassava, gula, kacang kedelai, jagung, kacang tanah, daging sapi, ikan pelagis, dan spices.

Di samping itu komoditas pangan yang berorientasi ekspor juga terbukti pernah menimbulkan krisis ketersediaan dan tingginya harga jual produk hilirisasi pangan, seperti produk dari minyak sawit, palm kernel oil, dan kelapa termasuk kopra.

Untuk itu strategi diversifikasi konsumsi pangan, mengurangi tingkat selera dalam mengkonsumsi pangan, inovasi produktivitas tinggi, dan penataan regulasi perdagangan menjadi benteng penentu daya tahan perekonomian dalam menghadapi krisis pangan.

Peneliti Indef dan Pengajar Universitas Mercu Buana

Populer

KPK Harus Jemput Paksa Bos Rokok HS M Suryo

Minggu, 05 April 2026 | 09:04

Seminar Petisi Ahli Diramaikan Pensiunan Jenderal hingga Akademisi Hukum

Selasa, 07 April 2026 | 05:19

4.661 PPPK di Pemkab Jepara Terancam PHK

Senin, 06 April 2026 | 05:31

KPK Panggil Boediono dalam Kasus Suap Pajak KPP Madya Jakarta Utara

Selasa, 07 April 2026 | 12:34

Bos Rokok HS dan Pengusaha Lain Diduga Beri Uang ke Pejabat Bea Cukai

Selasa, 07 April 2026 | 11:04

Bayang-Bayang LDII

Rabu, 08 April 2026 | 05:43

Giliran Sekda Kota Madiun Dipanggil KPK dalam Kasus Pemerasan Maidi

Senin, 13 April 2026 | 14:18

UPDATE

Naming Rights Halte untuk Parpol Dinilai Politisasi Ruang Publik

Rabu, 15 April 2026 | 12:19

Iran Taksir Kerugian Akibat Serangan AS-Israel Capai Rp4.300 Triliun

Rabu, 15 April 2026 | 12:13

Prima Sebut Wacana PDIP Gaji Guru Rp5 Juta Ekspektasi Semu

Rabu, 15 April 2026 | 12:12

Kasus Pelecehan di FHUI Jadi Ujian Integritas Kampus

Rabu, 15 April 2026 | 12:06

Temui Dubes UEA, Waka MPR Pacu Investasi dan Transisi Energi

Rabu, 15 April 2026 | 11:52

IPC TPK Sukses Kelola 850 Ribu TEUs di Awal 2026

Rabu, 15 April 2026 | 11:41

Diduga Dianiaya Senior, Anggota Samapta Polda Kepri Tewas

Rabu, 15 April 2026 | 11:34

Auditor BPKP Ungkap Kerugian Pengadaan Chromebook Terjadi Selama 3 Tahun

Rabu, 15 April 2026 | 11:32

Soal Kasus Bea Cukai, Faizal Assegaf Ungkap Kronologi Hubungan dengan Rizal

Rabu, 15 April 2026 | 11:21

Zelensky Sindir AS Kehilangan Fokus ke Ukraina Akibat Perang Iran

Rabu, 15 April 2026 | 11:03

Selengkapnya