Berita

Peta wilayah Pulau Pasifik Selatan dengan negara-negara peserta yang termasuk di dalamnya/Net

Dunia

Negara-negara Quad Perlu Bekerja Sama untuk Melawan Terobosan China di Pasifik Selatan

RABU, 08 JUNI 2022 | 11:03 WIB | LAPORAN: RENI ERINA

Pasifik Selatan menjadi daya tarik yang luar biasa, dengan Australia yang secara tradisional nampak mendominasi wilayah tersebut dan Prancis yang terus mempertahankan kendali atas beberapa wilayah -seperti Kaledonia Baru- dan merupakan pemain penting dalam geopolitik regional. Belum lagi Amerika Serikat yang memiliki kepentingan yang cukup besar dalam urusan strategis kawasan ini.

Sekarang, China sedang melakukan upaya untuk mendapatkan pijakan di Pasifik Selatan. Ini yang memaksa Australia dan AS untuk mengambil langkah. Sementara, beberapa negara kawasan nampaknya mulai tergoda ooleh China, maka, di sinilah  politik kekuatan besar semakin tajam di Pasifik Selatan.

Pengamat strategis yang berbasis di Delhi, Sankalp Gurjar, mengatakan dalam artikelnya yang dimuat di Indian Narrative baru-baru ini, bahwa ada tiga perkembangan terakhir yang memperlihatkan persaingan strategis yang semakin intensif.


Pertama, diawali dengan Kepulauan Solomon yang telah menandatangani perjanjian dengan China. Draf kesepakatan yang bocor itu menunjukkan bahwa China telah diberikan peran penting dalam hal-hal terkait keamanan di Kepulauan Solomon. Lebih penting lagi, meningkatnya kehadiran di Kepulauan Solomon akan memfasilitasi peran China yang lebih besar di Pasifik Selatan.

Banyak yang memahami bahwa Pasifik Selatan telah lama menjadi titik fokus persaingan untuk pengakuan antara China dan Taiwan. Perlahan tapi pasti, di sini China berhasil membujuk beberapa negara kawasan untuk mengalihkan pengakuan. Kepulauan Solomon telah mengalihkan pengakuan dari Taiwan ke China pada 2019. Tidak mengherankan jika peningkatan serangan China di kawasan ini diduga telah dirancang untuk tidak hanya memperluas pengaruhnya sendiri tetapi juga melemahkan kehadiran Taiwan.

Kedua, pada minggu terakhir bulan Mei, AS bersama tiga mitra Quad yaitu India, Jepang, Australia, dan sembilan negara lainnya (termasuk tujuh dari ASEAN) meluncurkan Indo-Pacific Economic Framework (IPEF).

IPEF penting karena strategi Indo-Pasifik dari empat negara Quad tidak memiliki dimensi ekonomi. Faktanya, AS telah menarik diri dari Trans-Pacific Partnership sedangkan India menolak untuk bergabung dengan Regional Comprehensive Economic Partnership (RCEP).

IPEF menandakan kesediaan negara-negara ini untuk bekerja sama dalam membentuk masa depan ekonomi kawasan juga. Fiji, salah satu negara Pasifik Selatan yang penting, telah bergabung sebagai anggota ke-14. Bagi China, bergabungnya Fiji ke IPEF merupakan sinyal strategis.

Yang ketiga, Menteri Luar Negeri China Wang Yipada pekan lalu mengunjungi kawasan Pasifik Selatan. Selama kunjungan, ia berusaha membujuk negara-negara Kepulauan Pasifik Selatan untuk menandatangani perjanjian baru. Kesepakatan itu akan memperluas kehadiran dan pengaruh China di kawasan itu, terutama dalam domain pertahanan dan keamanan. Belum semua negara kepulauan menyatakan keikutsertaannya. Negara Federasi Mikronesia, Papua Nugini, dan Samoa, adalahyang termasuk menolak, bahkan prihatin dengan proposal China itu.

Perkembangan-perkembangan ini mendapat perhatian yang cukup besar di kalangan strategis di kawasan Indo-Pasifik. Pemerintah Australia telah ditekan untuk bertindak karena meningkatnya tantangan China.

Langkah China memperluas kehadirannya di Pasifik Selatan, menurut banyak analis, bisa diartikan sebagai tanggapan langsung terhadap pakta trilateral AUKUS, yang terdiri dari Australia, Inggris Raya, dan AS.

AUKUS akan membantu Australia untuk memperoleh kapal selam bertenaga nuklir. Ini memerlukan hubungan pertahanan jangka panjang yang telah mengikat ketiga negara secara erat. Namun, hubungan China-Australia telah memburuk sebelum penandatanganan AUKUS.

Sankalp Gurjar mengatakan, untuk saat ini, upaya China belum berhasil karena kurangnya konsensus di antara negara-negara Pasifik Selatan.

China telah merilis kertas posisi. Juru bicara kementerian luar negeri China mengatakan bahwa China akan terus menjaga komunikasi yang erat dengan pihak-pihak terkait, memberikan permainan penuh pada Pertemuan Menteri Luar Negeri China-PICs (Negara-negara Kepulauan Pasifik), dan membangun komunitas yang lebih dekat untuk masa depan bersama antara China dan PICs.

"Jelas bahwa China akan terus melakukan upaya untuk memperluas kehadirannya dan membujuk negara-negara Pasifik Selatan untuk menyetujui proposal China," ujar Gurjar.

Yang mengejutkan, beberapa negara di Pasifik Selatan bersedia mempertimbangkan proposal China. Mungkin, seperti negara-negara kepulauan di Samudra Hindia, negara-negara Pasifik Selatan juga memainkan satu pemain utama melawan yang lain untuk mendapatkan keuntungan maksimal. Kehadiran China yang berkembang telah mengingatkan Australia dan AS untuk memberikan perhatian yang lebih besar ke kawasan tersebut.

Pernyataan bersama yang dirilis setelah KTT Tokyo Quad bulan lalu berisi paragraf yang menguraikan pendekatan negara-negara Quad terhadap negara-negara Kepulauan Pasifik.

“Kami akan lebih memperkuat kerja sama kami dengan negara-negara Kepulauan Pasifik, untuk meningkatkan kesejahteraan ekonomi mereka, memperkuat infrastruktur kesehatan dan ketahanan lingkungan, untuk meningkatkan keamanan maritim mereka dan mempertahankan perikanan mereka, untuk menyediakan infrastruktur yang berkelanjutan, untuk meningkatkan pendidikan peluang, dan untuk memitigasi dan beradaptasi dengan dampak perubahan iklim, yang merupakan tantangan serius bagi kawasan ini,” isi dari pernyataan tersebut.

"Negara-negara Quad berkomitmen untuk bekerja sama memenuhi kebutuhan mitra Pulau Pasifik. Kami menegaskan kembali dukungan kami untuk persatuan Forum Kepulauan Pasifik dan untuk kerangka kerja keamanan regional Pasifik,” lanjut pernyataan itu.

Jelas, bahwa untuk menahan kekuatan China yang semakin berkembang, negara-negara Quad perlu bekerja sama, baik secara individu meupun secara kolektif, di Pasifik Selatan.

Populer

Mantan Jubir KPK Tessa Mahardhika Lolos Tiga Besar Calon Direktur Penyelidikan KPK

Rabu, 24 Desember 2025 | 07:26

Kejagung Copot Kajari Kabupaten Tangerang Afrillyanna Purba, Diganti Fajar Gurindro

Kamis, 25 Desember 2025 | 21:48

Sarjan Diduga Terima Proyek Ratusan Miliar dari Bupati Bekasi Sebelum Ade Kuswara

Jumat, 26 Desember 2025 | 14:06

Mantan Wamenaker Noel Ebenezer Rayakan Natal Bersama Istri di Rutan KPK

Kamis, 25 Desember 2025 | 15:01

8 Jenderal TNI AD Pensiun Jelang Pergantian Tahun 2026, Ini Daftarnya

Rabu, 24 Desember 2025 | 21:17

Camat Madiun Minta Maaf Usai Bubarkan Bedah Buku ‘Reset Indonesia’

Selasa, 23 Desember 2025 | 04:16

Adik Kakak di Bekasi Ketiban Rezeki OTT KPK

Senin, 22 Desember 2025 | 17:57

UPDATE

Menhub Perketat Izin Berlayar di Labuan Bajo demi Keamanan Wisata Nataru

Kamis, 01 Januari 2026 | 08:15

Nasib Kenaikan Gaji PNS 2026 Ditentukan Hasil Evaluasi Ekonomi Kuartal I

Kamis, 01 Januari 2026 | 07:58

Cahaya Solidaritas di Langit Sydney: Menyongsong 2026 dalam Dekapan Duka dan Harapan

Kamis, 01 Januari 2026 | 07:40

Refleksi Pasar Ekuitas Eropa 2025: Tahun Kebangkitan Menuju Rekor

Kamis, 01 Januari 2026 | 07:13

Bursa Taiwan Cetak Rekor Tertinggi Sepanjang Sejarah Berkat Lonjakan AI

Kamis, 01 Januari 2026 | 07:02

3.846 Petugas Bersihkan Sampah Tahun Baru

Kamis, 01 Januari 2026 | 06:58

Mustahil KPK Berani Sentuh Jokowi dan Keluarganya

Kamis, 01 Januari 2026 | 06:22

Rakyat Sulit Maafkan Kebohongan Jokowi selama 10 Tahun

Kamis, 01 Januari 2026 | 06:03

Pilkada Lewat DPRD Abaikan Nyawa Demokrasi

Kamis, 01 Januari 2026 | 05:45

Korupsi Era Jokowi Berlangsung Terang Benderang

Kamis, 01 Januari 2026 | 05:21

Selengkapnya