Berita

Rektor UIN Sunan Kalijaga, Yogyakarta, Al Makin/RMOL

Publika

Pancasila Masa Depan

JUMAT, 03 JUNI 2022 | 14:18 WIB | OLEH: AL MAKIN

PERINGATAN hari lahir Pancasila pada 1 Juni 2022 kali ini lebih meriah, dibanding dengan tahun-tahun sebelumnya. Tulisan-tulisan tentang Pancasila banyak beredar dari opini media dan dibagikan grup-grup percakapan.

Status media sosial juga meramaikannya. Antusiasme publik terhadap Pancasila cukup meningkat. Dalam menghadapi Pemilu serentak 2024 yang bertambah dekat, dengan berbagai opsi politik, pilihan sosial, dan sentimen keagamaan yang mengejutkan, Pancasila diharapkan berdaya sebagai alat pemersatu, bukan hanya legitimasi persaingan atau pembagian kekuasaan.

Pancasila diharapkan betul-betul mandraguna meredam gejolak dan kericuhan di era demokrasi bebas. Pancasila adalah pemersatu dan pendamai kita yang berbeda.


Ada dua tema yang menjadi perbincangan utama selama beberapa hari lalu. Pertama, banyak dari para komentator berusaha mengembalikan Pancasila pada sejarah awalnya. Tulisan ini banyak dilakukan oleh para intelektual, seniman, dan mereka yang sudah melewati beberapa zaman. Para penulis ini berusaha untuk mengembalikan asal muasal sejarah Pancasila ketika saat-saat para pendiri bangsa merumuskan ini.

Jenis refleksi kedua menyuarakan kritik terhadap jurang yang menganga antara konsep dan praktek Pancasila. Ini merupakan keprihatinan agar Pancasila tidak hanya sebatas wacana, teori, dan bahan perbincangan elit dan rakyat. Pancasila hendaknya dipraktekkan dalam kehidupan nyata.

Pancasila tidak hanya menjadi materi diskusi, kampanye, atau perdebatan sambil lalu, tetapi Pancasila hendaknya menjadi laku dan sikap bersama.

Pemerintah dan masyarakat tidak hanya membincang Pancasila, tetapi melaksanakannya. Pancasila nyata ada dalam tindakan dan sikap, di hati dan laku, bukan hanya pada usulan demi usulan.

Gagasan pengembalian Pancasila kepada sejarah dan pangkalnya masih tetap perlu. Menggali asal muasal dan merayakan masa lalu sudah menjadi watak manusia. Manusia selalu merindukan masa lalu yang lebih jernih, romantis, dan murni. Membangun masa depan harus berlandaskan masa lalu. Bangsa Indonesia membutuhkan sejarah lahirnya Pancasila.

Tetapi harus diingat bahwa masa lalu adalah ciptaan dan karya dari masa kini. Masa lalu yang ada dalam bayangan kita itu adalah ciptaan kita sendiri. Bagaimana masa lalu itu dirangkai dan dibangun itu tergantung orang-orang masa kini.

Orang sekaranglah yang menciptakan sejarah. Pemahaman tentang asal muasal dan lahirnya Pancasila adalah usaha dari orang-orang yang saat ini masih hidup.

Orang-orang saat inilah yang menciptakan sejarah Pancasila dan sejarah-sejarah lainnya. Sejarah ditulis oleh orang yang masih berdaya, bukan orang yang telah tiada. Kembali ke masa lalu hendaknya juga dilakukan dengan secara sadar dan wajar.

Kembali menggali Pancasila masa lalu tidak harus menenggelamkan kita kembali pada romantisme sejarah. Sejarah adalah barang ciptaan kita. Janganlah terlalu membayangkan masa lalu sangat ideal dan jauh lebih bersih dan murni dari masa kini.

Sejarah itu dibuat, bukan lahir tanpa konteks masa kini. Contohnya adalah bagaimana Pancasila di era Orde Baru betul-betul dibentuk oleh pemerintah saat itu. Masa itu, penafsiran sejarah Pancasila banyak menghilangkan sisi-sisi yang tidak sama dengan kepentingan rezim itu. Masa reformasi sepertinya hendak mengoreksi sejarah Pancasila yang direkayasa di era Orde Baru.

Perdebatan beberapa tulisan tentang peran para tokoh bangsa dalam melahirkan Pancasila sudah lama dilakukan. Perdebatan peran Sukarno, Yamin, Supomo, atau para tokoh lain tidak perlu lagi diperuncing siapa yang paling dominan dan siapa yang harus dikurangi.

Sejarah adalah bagaimana kita menghargai mereka. Sejarah adalah pantulan diri kita dan bagaimana kita memahami diri sendiri lewat figur-figur mereka.

Sejarah berguna untuk mengingatkan kita, idealism kita terhadap mereka. Keaslian dan kembali ke masa lalu adalah romantisme. Masa sekarang adalah kenyataan. Masa depan mari kita ciptakan.

Wacana tentang sikap dan laku memang perlu dan itu juga berhubungan dengan masa lalu. Jika kita terus memperbincangkan Pancasila masa lalu, maka Pancasila hanya sebagtas dokumen sejarah dan romantisme bagaimana indahnya melahirkan konsep Pancasila.

Yang kita perlukan saat ini adalah masa sekarang dan masa depan. Pancasila yang mudah difahami oleh generasi masa kini, atau lebih sering disebut genarasi milenial. Pancasila versi milenial adalah Pancasila yang bisa dilakukan sehari-hari.

Kita membutuhkan kembali ke masa lalu, tetapi Pancasila masa depan jauh lebih penting dan nyata. Pemaknaan sejarah Pancasila harus lebih kreatif dan kita lakukan dengan sadar.

Tidak bermaksud memanipulasi tetapi bagaimana memberi versi sejarah Pancasila yang lebih akomodatif, bukan mengurangi peran-peran yang dilakuan.

Jika perlu menambah peran kelompok-kelompok yang berkontribusi dan layak untuk dimunculkan. Pancasila masa depan harus lebih banyak memberi peran kepada semua kelompok, baik yang ada sekarang atau yang akan muncul di masa depan.

Indonesia bertambah beragam di era demokrasi bebas dan persaingan global ini, tafsir terhadap Pancasila harus lebih terbuka.

Penulis adalah Rektor UIN Sunan Kalijaga Yogyakarta

Populer

Camat Madiun Minta Maaf Usai Bubarkan Bedah Buku ‘Reset Indonesia’

Selasa, 23 Desember 2025 | 04:16

Adik Kakak di Bekasi Ketiban Rezeki OTT KPK

Senin, 22 Desember 2025 | 17:57

Ketika Kebenaran Nasib Buruh Migran Dianggap Ancaman

Sabtu, 20 Desember 2025 | 12:33

OTT KPK juga Tangkap Haji Kunang Ayah Bupati Bekasi

Jumat, 19 Desember 2025 | 03:10

Uang yang Diamankan dari Rumah Pribadi SF Hariyanto Diduga Hasil Pemerasan

Rabu, 17 Desember 2025 | 08:37

Kajari Bekasi Eddy Sumarman yang Dikaitkan OTT KPK Tak Punya Rumah dan Kendaraan

Sabtu, 20 Desember 2025 | 14:07

Terlibat TPPU, Gus Yazid Ditangkap dan Ditahan Kejati Jawa Tengah

Rabu, 24 Desember 2025 | 14:13

UPDATE

Kepala Daerah Dipilih DPRD Bikin Lemah Legitimasi Kepemimpinan

Jumat, 26 Desember 2025 | 01:59

Jalan Terjal Distribusi BBM

Jumat, 26 Desember 2025 | 01:39

Usulan Tanam Sawit Skala Besar di Papua Abaikan Hak Masyarakat Adat

Jumat, 26 Desember 2025 | 01:16

Peraih Adhyaksa Award 2025 Didapuk jadi Kajari Tanah Datar

Jumat, 26 Desember 2025 | 00:55

Pengesahan RUU Pengelolaan Perubahan Iklim Sangat Mendesak

Jumat, 26 Desember 2025 | 00:36

Konser Jazz Natal Dibatalkan Gegara Pemasangan Nama Trump

Jumat, 26 Desember 2025 | 00:16

ALFI Sulselbar Protes Penerbitan KBLI 2025 yang Sulitkan Pengusaha JPT

Kamis, 25 Desember 2025 | 23:58

Pengendali Pertahanan Laut di Tarakan Kini Diemban Peraih Adhi Makayasa

Kamis, 25 Desember 2025 | 23:32

Teknologi Arsinum BRIN Bantu Kebutuhan Air Bersih Korban Bencana

Kamis, 25 Desember 2025 | 23:15

35 Kajari Dimutasi, 17 Kajari hanya Pindah Wilayah

Kamis, 25 Desember 2025 | 22:52

Selengkapnya