Berita

Mantan Ketua Umum PP Muhammadiyah, Buya Syafii Maarif/Net

Publika

Buya Syafii

SELASA, 31 MEI 2022 | 14:28 WIB | OLEH: ZAINAL BINTANG

PROFESOR Ahmad Syafii Maarif (87) yang akrab dipanggil Buya Syafii telah berpulang ke Rakhmatullah hari Jumat (27 Mei 2022) pada ujung bulan Syawal di Yogyakarta.

Innalillahi Wainna Ilaihi Rajiun. Namun, amanat suluh kehidupan yang telah diwariskannya tidak ikut berpulang: “kemuliaan sikap moral” yang ditinggalkannya itu adalah sebuah lembaran hidup keseharian yang dilewatinya dengan nyaman dan bersahaja. Serta bahagia. Sekelebat wajah penyair Chairil Anwar melintas bersama potongan puisi “Nisan” (1942): “Bukan kematian benar menusuk kalbu. keridhaanmu menerima segala tiba…..”

Almarhum Buya, demikian nama panggilan penghormatan sehari-hari, sejak beberapa puluhan tahun yang lalu, direkatkan dengan takzim atas dirinya oleh masyarakat luas. Lintas agama, lintas suku, lintas golongan dan lintas ras. Ekspresi keterpesonaan masyarakat yang hormat dan takjub  melihat keikhlasan dan kepasrahan almarhum  menapaki kehidupan sepanjang hayat dengan kesederhanaan sejati.


Pilihan hidup yang memuliakan itu, dijalani secara alami dan mengalir tanpa beban. Dibuktikannya melalui pengabdian kesehariannya kepada bangsa ini. Tidak dibalut dan dibungkus kemewahan. Tanpa mobil mewah. Tanpa rumah mewah. Tanpa perlu harus hidup di Jakarta, markas di mana sejumlah kemewahan artifisial berkelindan dalam lahan medan politik yang penuh dengan gimmick dan intrik.

Salah satu penghormaan terakhir kepada almarhum yang sangat berharga datang dari harian Kompas, Sabtu (28/05/2022). Seluruh halaman satunya (front page) penuh menyajikan Obituari kolosal, dengan menampilkan foto almarhum berwajah tegas tanpa senyum, menggenggam gulungan kertas putih. Dipadu latar belakang warna hitam pekat (tanda duka mendalam). Menyajikan karya fotografi yang impresif. Kombinasi hitam putih kontras. Tapi penuh pesan.  

Tim wartawan Kompas menurunkan tulisan berjudul “Nyala Abadi Suluh Bangsa” dengan didahului lead  singkat padat. “Berpulangnya Ahmad Syafii Maarif pada Jumat (27/05/2022) merupakan kehilangan besar bagi bangsa Indonesia. Kesahajaan dan ketekunan dalam menjaga keberagaman menjadi teladan abadi”. Biasanya Obituari hanya disajikan media sebagai sebuah artikel untuk mengenang seseorang terpandang yang meninggal dunia.

Di hari yang sama pada halaman 2, Budiman Tanuredjo,Wapinum harian Kompas menurunkan tulisan ”Muazin Bangsa yang Selalu Gelisah”. Judul ini merujuk tulisan Alois A. Nugroho dalam buku “Muazin Bangsa dari Makkah Darat” (2015). “Muazin dalam artian sang pengingat yang selalu berseru-seru menyuarakan kebaikan. Berseru bukan untuk kepentingan pribadi melainkan untuk kepentingan bangsanya. Muazin bangsa ini pantas dilekatkan kepada sosok seperti Nurcholis Majid dan KH Abdurrahman Wahid. Keduanya sudah berpulang”.

Lebih lanjut Budiman menulis, “Muazin bangsa kian berkurang. Saat ngobrol dengan Ketua Umum Partai Nasdem Surya Paloh di Nasdem Tower bersama sejumlah pemimpin redaksi Rabu, 25 Mei 2022, saya ungkapkan kegelisahan saya tentang kian berkurangnya “muazin” bangsa. Saya sampaikan kepada Surya Paloh, apakah tidak mungkin seorang ketua umum partai politik melepaskan baju ketua partai untuk menjadi muazin bangsa, seperti Buya Safei. Transformasi dari politisi menjadi negarawan sejati”.

Tidak ada jawaban Surya Paloh. Apakah dia setuju atau tidak setuju. Pertanyaan Budiman menyimpan arti mendalam bahwa kalau politisi itu,  bukan negarawan. Dunia politik yang dikelola secara ugal-ugalaan menyebarkan racun politik. Perlahan tapi pasti. Menggerus apa yang paling berharga bagi kehidupan pada diri pribadi dan pada sebuah bangsa: Dignity. Harga diri. Tentang kemuliaan, harkat dan martabat. Diri pribadi dan bangsa saat-saat ini terasa sedang terancam kehilangan pegangan. Sejatinya harga diri dan martabat yang terakumulasi di dalam frasa “kemuliaan” adalah mercusuar. Pemandu ketersesatan dari godaan setan-setan yang dirajam.

Melalui jalan sunyi dan kesederhanaan yang ditempuh Buya, justru daripadanya kemuliaan sejati itu tumbuh. Datang. Dan bersemi dengan kodratnya yang alamiah. Buya menebar dan menguncupkannya dari kesederhanaan dan kerendahan hatinya. Berani tampil berani mengalahkan dirinya. Menaklukkan semangat dunia yang menggoda bagaikan setan berjubah malaikat.  

Bersepeda pulang dan pergi ketika hendak mengajar di kampus di Yogya, untuk mendidik mahasiswa menjadi insan berbudi sebagai koridor kemuliaan itu. Buya sanggup antri berjam-jam di stasiun kereta api, ketika bertugas ke Jakarta dan atau kembali Yogya. Menuai semua itu dengan menyisiri dan menyusuri pinggir-pinggir kehidupan. Sesuatu yang berbanding terbalik dan berbeda dengan tingkah pola sebagian petinggi negeri di era ini yang terjebak angin puting beliung nafsu duniawi. Memaksakan diri mengejar hasrat yang sangat fisik. Meninggalkan yang sifatnya lebih nurani.

Kepergian Buya dirasakan meninggalkan negeri ini sedang dalam cengkeraman kegelapan moralitas. Namun pada saat yang sama, kepergiannya itu seperti memancarkan kesadaran moralitas lain yang hilang itu. Menyentakkan kilatan cahaya. Menerabas kegelapan duniawi yang penuh intrik, tipu muslihat dan kiat-kiat destruktif.

Melalui kekuatan tersembunyi yang dimiliki itulah, yang mendorong sikap kritisnya mengecam kebijakan yang bertentangan dengan etika dan kepantasan. Gejala pahit getir di era ini, seolah berlangsung “pembantaian” etika dan moralitas justru diperagakan dengan suka cita petinggi negeri. Seyogyanya kewenangan dan kemewahan dari negara dipergunakan sebesar-besar kemakmuran rakyat. Tragisnya, kini bermutasi menjadi wirid kolektif, untuk sebesar-besar kemakmuran keluarga.

Buya tidak gentar mengutuk semua tindakan buruk dan destruktif yang dilakukan petinggi negeri di semua tingkatan  yang menjadi parasit bangsa. Mengingkari sumpahnya sebagai penjaga marwah bangsa. Atau sebagai muazin itu. Dari mana Buya mendapatkan sumber keberanian? Ternyata ada pada sifat bersahaja dan kesederhanaan. Dengan langkah pasti memilih hidup di jalan sunyi dan bersahaja.

Sepeda motor tua dan mobil tuanya menjadi sumber keberanian dan sikap kritis. Menolak menjadi budak nafsu untuk memaksakan perolehan materi melalui cara-cara yang tidak menghormati etika dan moral serta melanggar hukum.

Chairil Anwar seutuhnya hadir melalui puisi “Nisan” (untuk nenekanda): “bukan kematian benar menusuk kalbu, keridhaanmu menerima segala tiba. tak kutahu setinggi itu di atas debu, dan duka maha tuan tak bertahta”.

Penulis adalah wartawan senior dan pemerhati masalah sosial budaya

Populer

Polisi Gunakan Senjata Baru OTT, 21 Kepsek Diamankan

Senin, 21 September 2026 | 03:25

Djaka Budhi Diuntungkan Berkat Menkeu Baru Suahasil Nazara

Minggu, 20 September 2026 | 14:18

Syukur Mandar Dicopot, Gerakan Oposisi Tegaskan Organisasi Bukan Milik Pribadi

Minggu, 20 September 2026 | 18:58

Serahkan Bukti Dugaan Politik Uang Muktamar ke-35 NU, KPK NU Desak KPK Usut Nusron Wahid

Jumat, 25 September 2026 | 14:51

Ahmad Dedi Dikabarkan Jadi Tersangka Baru Kasus Suap Bea Cukai

Senin, 21 September 2026 | 13:33

Desakan Pecat Nusron Mencuat, Ahmad Doli Memungkinkan jadi Pengganti

Minggu, 20 September 2026 | 05:26

Prabowo Diminta Tindak Tegas Kelompok yang Masih Persoalkan Hasil Pilpres 2024

Selasa, 22 September 2026 | 23:16

UPDATE

Gudang yang Terbakar di Cikarang Milik PT Emudah Fulfillmen, Penyedia Jasa Logistik E-Commerce

Sabtu, 26 September 2026 | 16:18

Mahkamah Agung Diminta Periksa Dugaan Kejanggalan Perkara Harta Bersama

Sabtu, 26 September 2026 | 15:28

SBY: Guruh Soekarnoputra Telah Melakukan Banyak Hal untuk Negeri Ini

Sabtu, 26 September 2026 | 15:03

Dulu Dipandang Sebelah Mata, Kini Dunia Barat Mulai Melirik Halal Indonesia

Sabtu, 26 September 2026 | 14:50

Sinyal Damai AS-Iran Bikin Harga Minyak Terpukul

Sabtu, 26 September 2026 | 14:26

Surya Paloh Kenang Guruh sebagai Budayawan dan Seniman

Sabtu, 26 September 2026 | 14:05

Palet Plastik dan Barang Marketplace Ludes dalam Kebakaran di Cikarang

Sabtu, 26 September 2026 | 13:50

Bitcoin Turun Tipis di Bawah 84.000 Dolar AS

Sabtu, 26 September 2026 | 13:33

Surya Paloh Ungkap Alasan Guruh Soekarnoputra Pilih Fokus ke Seni Ketimbang Pimpin PDI

Sabtu, 26 September 2026 | 13:10

Kapolri Pimpin Kenaikan Pangkat 50 Pati dan 4 PNS Polri

Sabtu, 26 September 2026 | 12:35

Selengkapnya