Berita

Ketua Majelis Jaringan Aktivis Pro Demokrasi (ProDEM) Iwan Sumule/Ist

Politik

Pidato Politik 24 Tahun Reformasi, Ketum ProDEM: Reformasi Diselewengkan, Oligarki Merampok Demokrasi

JUMAT, 20 MEI 2022 | 06:35 WIB | OLEH: WIDIAN VEBRIYANTO

Perjuangan aktivis, pemuda, dan mahasiswa yang tidak kenal henti di era Orde Baru (Orba) akhirnya membuahkan hasil pada tahun 1998. Rezim Orba runtuh dengan ditandai lengsernya Soeharto yang memimpin Indonesia lebih dari 3 dekade.

Reformasi layaknya sebuah masa pencerahan bagi bangsa Indonesia. Sebab, kehidupan berdemokrasi menjadi lebih baik dan masyarakat bisa lantang bersuara usai lepas dari kungkungan rezim.

Memperingati 24 tahun era reformasi, sebuah pidato politik disuarakan Ketua Majelis Jaringan Aktivis Pro Demokrasi (ProDEM) Iwan Sumule untuk menyadarkan kembali makna dan tujuan utama dari perjuangan 1998.


Iwan Sumule merupakan bagian dari aktivis 1998 yang hingga kini bersama ProDEM konsisten menjaga demokrasi tetap terjaga di negeri ini. Berikut petikan lengkap pidato Ketum ProDEM Iwan Sumule menyambut 24 tahun reformasi:

Assalamualaikum wr. wb.
Shalom
Salam Kebajikan
Om Swastiastu
Namo Buddhaya

Segala puji bagi Tuhan Yang Maha Esa atas segala nikmat yang kita terima

Yang saya banggakan,
Saudara-saudara pejuang demokrasi, rekan-rekan aktivis, mahasiswa, seniman, buruh, tani, jurnalis, TNI, Polri, dan seluruh rakyat Indonesia.

Saat ini, kita memasuki tahun ke-24 reformasi. Mei 1998, adalah momentum perubahan yang merupakan titik kulminasi dari serangkaian perjuangan yang dilakukan para pejuang pro demokrasi di era Soeharto. Buahnya, Soeharto berhenti sebagai Presiden RI.

Bagi kita yang merasakan bagaimana sesaknya napas kebebasan di era otoritarian Orde Baru, tentu merasakan nikmatnya napas demokrasi yang lega pasca tumbangnya rezim Orde Baru.

Keran demokrasi telah dibuka dan kebebasan dirayakan setelah sebelumnya dibuat mampet oleh kekuasaan yang berkarat dan menyumbat suara rakyat.

Reformasi, menjadi momen yang melepaskan cekikan kekuasaan otoriter pada leher demokrasi. Reformasi datang seperti Ratu Adil yang didambakan sekian purnama.

Namun demikian, ketika orang-orang euforia, kegirangan dengan kebabasan yang diperoleh, orang-orang mulai mengalami kebingungan di tengah kebebasan. Disorientasi.

Saudara-saudara pejuang demokrasi, rekan-rekan aktivis, mahasiswa, seniman, buruh, tani, jurnalis, TNI, Polri, dan seluruh rakyat Indonesia.

Saat-saat di mana reformasi kehilangan arah ini, menjadi momen bagus yang dimanfaatkan oleh mereka yang berwatak jahat untuk menyelewengkan reformasi. Mereka membuat reformasi mengalami degradasi makna.

Reformasi bukan lagi menjadi mantra sakti melawan rejim Tirani seperti sediakala. Di tangan para penyeleweng, reformasi menjadi sekadar label dagangan politik segelintir kalangan yang mengklaim memiliki saham pada perubahan nasib bangsa.

Sementara di sisi lain, demokrasi yang konon dielu-elukan sebagai sistem ideal yang menjanjikan kesetaraan, dibajak oleh sekawanan oligarki. Dan sungguh ironis ketika kita harus menyaksikan para penyeleweng reformasi menyelundupkan makna demokrasi di pasar gelap politik. Turut ambil posisi menjadi sekrup dari sistem oligarki.

Jika demokrasi liberal yang ada mensyaratkan banyak uang untuk dapat mengakses kesetaraan hak dalam berbagai aspek, maka mustahil bagi rakyat banyak untuk bisa mengambil bagian dalam demokrasi tersebut.

Dengan besaran uang dalam jumlah tertentu sebagai syarat untuk mengakses kesamaan hak, maka demokrasi yang ada hanya dapat diakses oleh mereka yang punya uang sebagai modal membeli tiket kesetaraan.

Hal ini berarti, demokrasi hanya milik segelintir kalangan yang punya uang. Demokrasi yang sesungguhnya milik seluruh rakyat, dirampok oleh para oligarki dan berubah menjadi sistem oligarki.

Saudara-saudara pejuang demokrasi, rekan-rekan aktivis, mahasiswa, seniman, buruh, tani, jurnalis, TNI, Polri, dan seluruh rakyat Indonesia.

Menyikapi kondisi demikian, saya mengajak siapapun yang merasa memiliki saham dalam perubahan nasib bangsa pasca reformasi, untuk menyadari kebobrokan keadaan ini serta turut andil mengungkap penyelewangan reformasi.

Saya juga berharap agar para pejuang pro demokrasi bersama segenap rakyat menyadari bahwa demokrasi telah dirampok dan rakyat kecil tak memiliki akses untuk menikmati kesetaraan dan kesejahteraan.

Demokrasi yang diperjuangkan saat reformasi dengan darah dan jiwa, tak boleh lagi hanya sampai di dalam pagar istana dan rumah kaum berpunya, tetapi demokrasi harus hadir dalam setiap kehidupan dan sampai ke piring-piring rakyat.

Saatnya, kita kembali bersama selamatkan Indonesia dan luruskan jalan reformasi yang telah diselewengkan dan demokrasi yang telah dirampok oligarki.

Salam Juang Demokrasi,
Ketua Majelis Jaringan Aktivis ProDemokrasi (ProDEM)
Iwan Sumule.

Populer

Menko Yusril: Mundur dari Jabatan, Tak Gugurkan Tanggung Jawab Hukum Mashudi

Jumat, 02 Oktober 2026 | 19:13

Firli Bahuri Sandang Gelar Doktor Hukum, Raih Gelar Summa Cumlaude

Sabtu, 03 Oktober 2026 | 16:33

KPK Dalami Dugaan Aliran Rp3,5 Miliar ke Eks Ketum HIPMI

Minggu, 27 September 2026 | 11:44

Legislator PAN Minta Menteri Imipas Tangguhkan Pengunduran Diri Dirjenpas Mashudi

Jumat, 02 Oktober 2026 | 17:36

Gugatan Denny Indrayana Sia-sia, cuma Bikin Gaduh

Sabtu, 26 September 2026 | 02:36

Gaji 26 Wantimpres Prabowo Tembus Rp1,9 Miliar Tiap Bulan, Belum Termasuk Fasilitas

Sabtu, 03 Oktober 2026 | 19:06

Jenderal Dedi Langsung Tancap Gas Siapkan Struktur Organisasi BRAN

Jumat, 02 Oktober 2026 | 01:43

UPDATE

Ijazah Gibran Jadi Bom Waktu

Rabu, 07 Oktober 2026 | 02:03

Danantara Gelontorkan Rp4,4 Triliun untuk Masuk Bisnis Migas AS

Rabu, 07 Oktober 2026 | 01:31

PIP dan KIP Kuliah Tak Boleh Lagi Salah Sasaran

Rabu, 07 Oktober 2026 | 01:21

Jangan Korbankan Konektivitas Antar Pulau Gegara Kebijakan Panik

Rabu, 07 Oktober 2026 | 01:09

Inilah Beda FIFA ASEAN Cup dan Piala AFF

Rabu, 07 Oktober 2026 | 00:34

Ahmad Doli Soroti Dugaan Bullying Bocah SD di Pemalang: Mukanya Lucu-lucu, tapi Berstatus Pembunuh

Rabu, 07 Oktober 2026 | 00:21

Gibran Tak Punya Ijazah SMA, Said Didu: Pemakzulan Bisa Lewat Proses Politik

Rabu, 07 Oktober 2026 | 00:04

Danantara Penetrasi ke Ekosistem Aviasi Timur Tengah

Selasa, 06 Oktober 2026 | 23:43

34 JPU Disiapkan Hadapi Sidang TPPU Febrie Adriansyah

Selasa, 06 Oktober 2026 | 23:20

Juara Setelah 35 Tahun Menunggu

Selasa, 06 Oktober 2026 | 23:01

Selengkapnya