Berita

Achmad Nur Hidayat/Net

Publika

Awas Inflasi, Indonesia Terancam Krisis Sosial Politik

KAMIS, 12 MEI 2022 | 21:00 WIB | OLEH: ACHMAD NUR HIDAYAT

SANKSI ekonomi yang diberikan oleh Barat kepada Rusia telah menyebabkan inflasi global yang cukup berat. Dan diikuti oleh negara-negara G7 yang juga memberikan Sanksi terhadap Rusia. Pertanyaannya bagaimana Sanksi ekonomi itu terhadap ekonomi Rusia?

Menurut Penelitian yang dilakukan oleh Bloomberg memperkirakan PDB Rusia mengalami penyusutan 12 persem. Sementara menteri keuangan Rusia menyatakan bahwa penyusutan PDB yang dialami Rusia sekitar 8 persen.

Menurut Kepala Ekonom dari grup Moscow mengatakan bahwa sanksi ekonomi yang diberikan oleh negara-negara barat terhadap Rusia yang meliputi embargo minyak, setop impor gas dari Rusia dan perginya perusahaan-perusahaan asing dari Rusia sebenarnya merugikan negara-negara Barat sendiri.


Hal ini sangat beralasan karena yang terjadi saat Barat memberhentikan impor gas dari Rusia membuat harga gas di Uni Eropa menjadi naik. Ini terjadi karena sebelumnya Rusia menjadi pemasok sekitar 30 persen gas ke Uni Eropa.

Terutama terkait dengan minyak bumi, Rusia menjadi pemasok sekitar 25-35 persen minyak dunia sehingga saat minyak dari Rusia hilang di pasaran membuat harga minyak dunia menjadi naik. Hal ini menyebabkan negara-negara di seluruh dunia terutama negara-negara net importir minyak mengalami kenaikan harga yang signifikan.

Konflik yang terjadi antara Rusia dan Ukraina ini membawa inflasi yang cukup terasa di Indonesia. BBM naik secara signifikan mulai dari pertamax, dan pertalite menyusul kemudian.

Hal ini tentu menimbulkan dampak berantai kenaikan harga berbagai komoditas. Inflasi ini menjadi tantangan bagi ekonomi Indonesia kedepan. Dan Inflasi ini meningkatkan resiko terjadinya kontraksi ekonomi.

Dari hal tersebut maka harapan pertumbuhan ekonomi Indonesia hingga 5,3 persen itu akan sulit tercapai. Kemungkinan besar dengan kondisi seperti ini Indonesia berpeluang mengalami pertumbuhan ekonomi hanya dikisaran 4,5 persen dengan asumsi harga minyak di atas 100 dolar.

Jika Sanksi ekonomi terhadap Rusia lebih ketat lagi hinga harga minyak mentah mencapai 200 dolar per barel maka dipastikan banyak negara-negara yang kolap. Di angka ini APBN sudah tidak bisa membendungnya dengan subsidi.

Jika negara tidak siap menghadapi dampak inflasi ini maka dikhawatirkan akan terjadi social unrest seperti yang terjadi di Srilanka.

Yang bisa dilakukan oleh pemerintah Indonesia adalah melakukan Smart Priority APBN. Mengalokasikan APBN untuk infrastruktur, termasuk IKN itu bukan prioritas.

Smart Priority yang dimaksud adalah bagaimana negara menyiapkan dana untuk perlindungan sosial secara memadai. Negara menghitung berapa jumlah orang miskin yang akan meningkat dari inflasi ini. Peningkatan jumlah orang miskin ini harus di atasi dengan perlindungan sosial.

Manakala dana yang seharusnya untuk masyarakat malah disalurkan untuk infrastruktur maka ini adalah letak kesalahannya karena angka kemiskinan akan semakin meningkat.

Dari hal tersebut tentunya Pemerintah harus siap dengan tantangan ekonomi kedepan. Jika tidak maka Indonesia terancam krisis sosial yang berlanjut kepada krisis politik/kepemimpinan.

Penulis adalah Pakar Kebijakan Publik Narasi Institute

Populer

Dosen Unikama Kecewa, Lima Bulan Kampus Dikuasai Kelompok Tak Dikenal

Jumat, 30 Januari 2026 | 02:25

Enam Pengusaha Muda Berebut Kursi Ketum HIPMI, Siapa Saja?

Kamis, 22 Januari 2026 | 13:37

Rakyat Lampung Syukuran HGU Sugar Group Companies Diduga Korupsi Rp14,5 Triliun Dicabut

Kamis, 22 Januari 2026 | 18:16

Kasus Hogi Minaya Dihentikan, Komisi Hukum DPR: Tak Penuhi Unsur Pidana

Rabu, 28 Januari 2026 | 17:07

Hologram di Ijazah UGM Jadi Kuncian Mati, Jokowi Nyerah Saja!

Senin, 26 Januari 2026 | 00:29

Wanita di Medan Terima Vonis 2 Tahun Usai Gunakan Data Orang Lain untuk Pengajuan Kredit

Jumat, 30 Januari 2026 | 16:50

Jokowi Butuh Perawatan Kesehatan Super Intensif

Jumat, 30 Januari 2026 | 00:41

UPDATE

PUI: Pernyataan Kapolri Bukan Ancaman Demokrasi

Minggu, 01 Februari 2026 | 23:52

BI Harus Selaras Jalankan Kebijakan Kontrol DHE SDA Sesuai UUD 1945

Minggu, 01 Februari 2026 | 23:34

HMI Sumut Desak Petugas Selidiki Aktivitas Gudang Gas Oplosan

Minggu, 01 Februari 2026 | 23:26

Presiden Prabowo Diminta Bereskan Dalang IHSG Anjlok

Minggu, 01 Februari 2026 | 23:16

Isak Tangis Keluarga Iringi Pemakaman Praka Hamid Korban Longsor Cisarua

Minggu, 01 Februari 2026 | 22:54

PLN Perkuat Pengamanan Jaringan Transmisi Bireuen-Takengon

Minggu, 01 Februari 2026 | 22:53

TSC Kopassus Cup 2026 Mengasah Skill dan Mental Petembak

Minggu, 01 Februari 2026 | 22:23

RUU Paket Politik Menguap karena Himpitan Kepentingan Politik

Minggu, 01 Februari 2026 | 21:45

Kuba Tuding AS Lakukan Pemerasan Global Demi Cekik Pasokan Minyak

Minggu, 01 Februari 2026 | 21:44

Unjuk Ketangkasan Menembak

Minggu, 01 Februari 2026 | 21:20

Selengkapnya