Berita

Suasana pandemi Covid-19 di Islamabad /Net

Dunia

Ikut India, Pakistan Bantah Data Kematian Covid-19 WHO Terbaru Bahwa 8 Kali Lipat dari Perhitungan Pemerintah

MINGGU, 08 MEI 2022 | 15:21 WIB | LAPORAN: SULTHAN NABIL HERDIATMOKO

Pekan ini, Organisasi Kesehatan Dunia (WHO) telah melaporkan bahwa angka kematian Covid-19 yang termuat oleh database Our World in Data itu tidak sedikitpun mendekati nilai aktualnya.
Dikatakan bahwa angka aslinya adalah sekitar 15 juta, dan menyatakan negara Asia Tenggara merupakan salah satu kontributor terbesarnya.
Namun, India telah membantah angka tersebut, kini Pakistan juga ikut menolaknya.

"Kami (pihak berwenang) telah mengumpulkan data secara manual tentang kematian Covid, itu bisa memiliki perbedaan beberapa ratus tetapi tidak bisa ratusan ribu. Ini sama sekali tidak berdasar," kata  Menteri Kesehatan Pakistan Abdul Qadir Patel kepada Samaa News, Minggu (8/5)..


Dalam laporan baru-baru ini, WHO memperkirakan ada 260.000 kematian akibat COVID-19 di Pakistan delapan kali lipat dari angka resmi. Catatan resmi menyatakan Pakistan memiliki 30.369 kematian COVID-19 dengan lebih dari 1,5 juta infeksi.

Menurut laporan itu, hampir 15 juta orang terbunuh baik oleh virus corona atau oleh dampaknya pada sistem kesehatan yang kewalahan dalam dua tahun terakhir di seluruh dunia, lebih dari dua kali lipat jumlah kematian resmi 6 juta.

Patel mengatakan pemerintah telah menjelaskan proses perhitungan kepada WHO dalam sebuah catatan yang menolak angka badan kesehatan dunia itu.

Patel mengatakan metodologi pengumpulan data dipertanyakan, menambahkan bahwa pihak berwenang di Pakistan mengumpulkan angka-angka dari rumah sakit, dewan serikat pekerja, dan kuburan.

Dia menduga terjadi beberapa kesalahan dalam perangkat lunak pengumpulan data yang digunakan oleh WHO yang telah menunjukkan angka rata-rata berlebihan itu.

Menanggapi laporan WHO, kemenkes Pakistan mengatakan ada mekanisme pelaporan di mana setiap kematian terkait Covid-19 dilaporkan di tingkat kabupaten, yang kemudian dikumpulkan di tingkat provinsi oleh sistem perawatan kesehatan masing-masing, dan akhirnya, jumlah kumulatif adalah dibagikan di tingkat nasional yang dilaporkan melalui saluran resmi.

“Audit kematian yang dilakukan oleh NCOC (Pusat Komando dan Kontrol Nasional) melihat itu (data kuburan kota-kota besar) secara kritis,” ujar Patel.

Jumlah kematian di Pakistan dapat diverifikasi dan diterima secara global. Berbagai pemeriksaan dan keseimbangan pada sistem pelaporan ada dan kematian tambahan yang dilaporkan di kuburan bertepatan dengan gelombang Covid-19 yang melanda Pakistan, simpulnya.

Sementara itu, mantan asisten khusus perdana menteri kesehatan, Faisal Sultan mengatakan data WHO tentang kematian akibat Covid-19 di Pakistan tidak dapat diandalkan.

Dia membela laporan kematian pemerintah, mengatakan bahwa studi tentang jumlah pemakaman kuburan di kota-kota besar tidak mengungkapkan sejumlah besar korban pandemi yang tak terhitung jumlahnya.

Faisal menyebut angka tersebut “sangat sensitif” karena akan mencerminkan penanganan krisis oleh otoritas di seluruh dunia.

"Catatan kematian virus corona kami akurat tetapi tidak mungkin untuk memiliki jumlah kematian yang benar 100 persen akurat, bisa saja 10-30 persen lebih besar, tetapi untuk mengatakan itu delapan kali lebih benar-benar tidak dapat dipercaya," pungkasnya.

Populer

Seminar Petisi Ahli Diramaikan Pensiunan Jenderal hingga Akademisi Hukum

Selasa, 07 April 2026 | 05:19

KPK Panggil Boediono dalam Kasus Suap Pajak KPP Madya Jakarta Utara

Selasa, 07 April 2026 | 12:34

Bos Rokok HS dan Pengusaha Lain Diduga Beri Uang ke Pejabat Bea Cukai

Selasa, 07 April 2026 | 11:04

Bayang-Bayang LDII

Rabu, 08 April 2026 | 05:43

Giliran Sekda Kota Madiun Dipanggil KPK dalam Kasus Pemerasan Maidi

Senin, 13 April 2026 | 14:18

Karyawan dan Konsultan Pajak Hasnur Group Dipanggil KPK Terkait Kasus Restitusi Pajak

Kamis, 09 April 2026 | 12:18

Pengamat Endus Isu Pemakzulan Presiden Didesain Wapres

Kamis, 16 April 2026 | 00:32

UPDATE

Tanpa Laboratorium Kuat, RI Hanya Jadi Pasar Teknologi Asing

Sabtu, 18 April 2026 | 00:13

Megawati-Dubes Jerman Bahas Geopolitik dan Antisipasi Krisis Global

Sabtu, 18 April 2026 | 00:01

Mahasiswa ITB Goyang Erika

Jumat, 17 April 2026 | 23:39

Kereta Api Bakal Hadir di Tanah Papua

Jumat, 17 April 2026 | 23:21

Industri Kosmetik dan Logistik Wajib Halal Oktober 2026

Jumat, 17 April 2026 | 23:01

Revisi UU Pemilu Rawan jadi Bancakan Parpol

Jumat, 17 April 2026 | 22:36

Pesan Prabowo di Dharma Santi 2026: Jaga Harmoni, Perkuat Persaudaraan

Jumat, 17 April 2026 | 22:14

Menkop: Prabowo Tegaskan Negara Hadir Atur Ekonomi Lewat Kopdes

Jumat, 17 April 2026 | 21:45

Dewas Didesak Gelar Perkara Laporan terhadap Jubir KPK

Jumat, 17 April 2026 | 21:35

YLBHI Diminta Kembali ke Khitah Bela Masyarakat Marginal

Jumat, 17 April 2026 | 21:20

Selengkapnya