Berita

Kapal tanker minyak Ust Luga disaat berlabuh ke pelabuhan Slagen Exxon Mobil, Norwegia dihalang oleh aktivis Greenpeace, Senin (25/4) /Net

Dunia

Protes Perang Ukraina, Greenpeace Halangi Kapal Minyak Exxon Mobil Berlabuh di Norwegia

SENIN, 25 APRIL 2022 | 21:51 WIB | LAPORAN: SULTHAN NABIL HERDIATMOKO

Organisasi Lingkungan Internasional, Greenpeace dan Extinction Rebellion memblokir sebuah kapal tanker dari mengirimkan minyak Rusia ke Norwegia, merantai salah satu kapal mereka ke kapal raksasa itu sebagai protes terhadap perang di Ukraina.

Kapal tanker Ust Luga berlabuh di luar terminal minyak Slagen Exxon Mobil sekitar 70 km selatan ibukota Oslo, menurut pelacak kapal Marine Traffic, Senin (25/4).

Greenpeace dalam sebuah pernyataan di hari yang sama mengatakan, aktivis di perahu karet merah mengepungi rantai jangkar kapal tanker Ust Luga, mereka berusaha untuk mencegah pembongkaran kargo yang diperkirakan membawa 95.000 ton minyak Rusia.


Polisi setempat telah menangkap beberapa demonstran, seusai protes itu dilakukan.

"Minyak tidak hanya menjadi akar dari krisis iklim, tetapi juga perang dan konflik (perang Rusia-Ukraina). Saya terkejut bahwa Norwegia beroperasi sebagai pelabuhan bebas untuk minyak Rusia, yang kami tahu membiayai perang Putin," ujar kepala Greenpeace Norwegia Frode Pleym, dikutip oleh Reuters, Senin (25/4).

Kelompok tersebut meminta pemerintah Norwegia untuk melarang impor bahan bakar fosil Rusia dan mengatakan bahwa Esso Norwegia Exxon Mobil harus membatalkan kontrak untuk impor minyak dari Rusia atas invasi ke Ukraina.

Namun menurut Jurubicara Exxon ke Reuters, Esso Norwegia telah setuju untuk membeli minyak sebelum konflik dimulai dan tidak memiliki rencana untuk pembelian lebih lanjut dari Rusia.

"Esso Norwegia sepenuhnya mematuhi semua sanksi Norwegia dan kami mendukung upaya internasional terkoordinasi untuk mengakhiri serangan Rusia yang tidak beralasan," ujar jubir Esso dalam sebuah pernyataan email.

Menurut jubir itu, Muatan kapal tanker tersebut digunakan dalam proses pencampuran minyak gas laut untuk industri perkapalan.

Populer

Dicurigai Ada Peran Mossad di Balik Pengalihan Tahanan Yaqut

Senin, 23 Maret 2026 | 01:38

Kehadiran Anies di Cikeas Jadi Masalah Serius

Jumat, 27 Maret 2026 | 02:08

TNI Tegas dalam Kasus Andrie Yunus, Beda dengan Polri

Sabtu, 21 Maret 2026 | 05:03

SBY Menolak Silaturahmi Lebaran Anies?

Jumat, 27 Maret 2026 | 03:43

Polisi Diminta Profesional Tangani Kasus VCS Bupati Lima Puluh Kota

Jumat, 20 Maret 2026 | 00:50

Pertemuan Megawati-Prabowo Menjungkirbalikkan Banyak Prediksi

Sabtu, 21 Maret 2026 | 04:12

Kubu Jokowi Bergerak Senyap untuk Jatuhkan Prabowo

Rabu, 25 Maret 2026 | 06:15

UPDATE

Pasar Jaya Minta Maaf soal Gunungan Sampah di Pasar Induk Kramat Jati

Minggu, 29 Maret 2026 | 00:01

BRIN Gandeng UAG University Kolaborasi Perkuat Talenta Peneliti Indonesia

Sabtu, 28 Maret 2026 | 23:40

Masyarakat Apresiasi Bazar dan Hiburan Rakyat di Monas

Sabtu, 28 Maret 2026 | 23:30

Menata Ulang Skema Konsesi Bandara

Sabtu, 28 Maret 2026 | 23:00

Tak Bisa Asal Gugat, Sengketa Partai Harus Selesai di Internal Dulu

Sabtu, 28 Maret 2026 | 22:41

Peradilan Militer Punya Legitimasi dan Tak Bisa Dipisahkan dari Sistem

Sabtu, 28 Maret 2026 | 22:21

Pasar Murah di Monas, Pemerintah Salurkan Ratusan Ribu Paket Sembako

Sabtu, 28 Maret 2026 | 22:05

Juara Hafalan Al-Quran di Lybia, Pratu Nawawi Terima Kenaikan Pangkat

Sabtu, 28 Maret 2026 | 21:41

Rudal Israel Hantam Mobil Pers, Fatima Ftouni Jurnalis Al Mayadeen Gugur

Sabtu, 28 Maret 2026 | 21:37

DPR Optimistis Diplomasi Pemerintah Amankan Kapal Pertamina di Selat Hormuz

Sabtu, 28 Maret 2026 | 21:17

Selengkapnya