Berita

Anggota Komisi VI DPR RI Rudi Hartono Bangun/Net

Politik

Legislator Nasdem: Larangan Ekspor CPO Ibarat Mau Nangkap Tiga Ekor Tikus, tapi Satu Lumbung Padi Dibakar

SENIN, 25 APRIL 2022 | 21:05 WIB | LAPORAN: DIKI TRIANTO

Kebijakan Presiden Jokowi melarang ekspor crude palm oil (CPO) dan minyak goreng nampaknya tak berjalan mulus. Walaupun tujuannya menjaga kestabilan minyak goreng dalam negeri, namun larangan itu berdampak negatif pada petani sawit.

Salah satu kerugian petani itu, kata anggota Komisi VI DPR RI Rudi Hartono Bangun, adalah turunnya harga jual tandan buah segar (TBS) milik petani.

“Hari ini harga tanda buah segar (TBS) milik petani sawit sudah anjlok Rp. 1.000, akibat kebijakan larangan ekspor,” kata Rudi Hartono Bangun kepada wartawan, Senin (25/4).


Pasalnya, kata Rudi, setelah kebijakan itu diumumkan, pabrik CPO tidak mau menerima TBS dari petani terlalu banyak. Karena kapasitas tanki penyimpanan pabrik terbatas di saat simpanan TBS dari kebun masih ada.

Sementara, lanjut legislator Partai Nasdem ini, petani sawit tidak memiliki tanki penyimpanan jika harus mengolah sendiri.

“Jadi posisi petani sawit ini serba salah, dijual harganya turun, tidak dijual barang jadi busuk,” katanya.

Legislator dari Dapil Sumatera Utara III ini, mengaku mendapatkan aduan dari para petani sawit terkait nasibnya ke depan. Karena kebijakan larangan ekspor ini berimbas pada kehidupan keluarganya.

“Ada jutaan petani sawit yang hidup hanya dari perkebunan kelapa sawit,” tuturnya.

Untuk itu, Rudi mendesak pemerintah, ketimbang melarang ekspor CPO lebih baik menghukum dan menjatuhkan sanksi keras kepada perusahaan-perusahaan CPO nakal.

“Saya mendukung penangkapan yang dilakukan Kejaksaan Agung. Bahkan kalau perlu mengganti semua jajaran Kementerian Perdagangan, termasuk menterinya. Ibaratnya, kita mau menangkap 3 ekor tikus, tapi satu lumbug padi malah kita bakar,” tandasnya.

Populer

Kalahkan Hary Tanoe, Jusuf Hamka akan Kembalikan TPI ke Tutut Soeharto

Sabtu, 25 April 2026 | 15:43

Usai Rumah Digeledah, Noor Aflah Diperiksa KPK

Senin, 20 April 2026 | 14:11

Drone Emprit Temukan Manipulasi Konteks dalam Penyebaran Video Ceramah JK

Sabtu, 25 April 2026 | 02:37

Patroli AS di Selat Malaka Langgar Kedaulatan RI

Sabtu, 25 April 2026 | 05:15

Jusuf Hamka Sujud Syukur Menang Gugatan Lawan Hary Tanoe

Kamis, 23 April 2026 | 12:34

Purbaya Kecewa Banyak Pegawai Kemenkeu Tak Jalankan Tugas: Digeser Baru Nangis

Kamis, 23 April 2026 | 01:30

Saksi yang Diseret Khalid Basalamah Soal Uang Rp8,4 Miliar Mangkir dari Panggilan KPK

Minggu, 26 April 2026 | 11:05

UPDATE

Industri Sawit Terintegrasi Disiapkan PTPN di Sei Mangkei

Kamis, 30 April 2026 | 22:15

Gubernur NTB Tolak Cabut Laporan Aktivis Kemanusiaan

Kamis, 30 April 2026 | 21:41

APBN Tekor Rp240,1 T, Kemenkeu Tiadakan Konferensi Pers

Kamis, 30 April 2026 | 21:37

DPR Soroti Peran Strategis Proyek Danantara bagi Industri dan Lapangan Kerja

Kamis, 30 April 2026 | 20:41

Sejarah Hari Pendidikan Nasional 2 Mei, Asal Usul dan Peran Ki Hadjar Dewantara

Kamis, 30 April 2026 | 20:21

Mitigasi Dampak Perubahan Iklim, PLN-UNOPS Dorong Utilisasi EBT Nasional

Kamis, 30 April 2026 | 20:16

Apa Itu Sinkhole yang Muncul Kebun Warga Gunungkidul Yogyakarta?

Kamis, 30 April 2026 | 19:46

Sejarah Outsourcing dari Zaman Kolonial hingga Jadi Tuntutan di Hari Buruh 2026

Kamis, 30 April 2026 | 19:32

Kebijakan Energi RI Terjebak Pola Pikir Jangka Pendek Menahun

Kamis, 30 April 2026 | 19:27

Komisaris PT Loco Montrado Dicecar KPK soal Pengembalian Kerugian Negara Rp100 Miliar

Kamis, 30 April 2026 | 19:25

Selengkapnya