Berita

Pakar Kebijakan Publik, Achmad Nur Hidayat/Net

Publika

Berantas Mafia Minyak Goreng Sampai ke Akar-akarnya

KAMIS, 21 APRIL 2022 | 16:40 WIB | OLEH: ACHMAD NUR HIDAYAT

KEBERHASILAN Kejaksaan Agung dalam membongkar kasus korupsi pemberian fasilitas ekspor CPO (Crude Palm Oil) patut diapresiasi.

Kasus yang melibatkan Direktur Jenderal Perdagangan Luar Negeri (Daglu) berinisial IWW, Komisaris PT Wilmar Nabati Indonesia berinisial MPT, General Affairs PT Musim Mas berinisial PT dan Senior Manager Corporate Affairs  Permata Hijau Group (PHG) berinisial SMA telah menimbulkan kegaduhan yang cukup besar dan membuat masyarakat menderita.

Jaksa Agung dalam hal ini harus diapresiasi karena telah bertindak cepat sesuai dengan tuntutan masyarakat dan kita membutuhkan pola kerja seperti ini. Tidak seperti kemarin seolah-olah tuli, buta dan bisu atas apa yang sedang terjadi di masyarakat.


Tentunya dari 4 tersangka ini harus dapat dikembangkan lagi kepada siapa pun yang terlibat. Publik mempertanyakan Dirjen Perdagangan Luar Negeri yang seharusnya menjalankan apa yang menjadi ketentuan tentang DMO dan DPO. Dan ternyata, Dirjen ini ada main mata dengan mafia.

Menteri Perdagangan dalam hal ini harus juga diapresiasi, pastinya ada kontribusi dalam memecahkan kasus ini. Tetapi seharusnya lebih berani sejak awal sehingga tidak menunggu terlalu lama.

Jika memang anak buahnya terlibat dalam kasus ini, maka harus diberikan sanksi tegas dengan memberhentikannya secara tidak hormat.

Akan tetapi penahanan atau tindakan hukum terhadap personel-personel ini tentu tidak cukup karena tentunya kasus ini melibatkan perusahaan-perusahaan tersebut sebagai pihak yang mengekspor barang.

Jika benar ada keterlibat di level perusahaan, maka harus dikenakan hukuman seberat-beratnya untuk memberikan efek jera dengan mencabut izin usahanya, tidak hanya mencabut izin ekspornya.

Dengan kejadian ini terkonfirmasi bahwa memang ada mafia yang bermain dalam kelangkaan minyak goreng ini. Kejaksaan Agung dan Kementerian Perdagangan harus saling berkerja sama untuk memberantas mafia minyak goreng sampai ke pemain dan pemilik besarnya.

Jangan sampai hanya berhenti di level CEO dan Dirjen. Harus dikembangkan sampai ke level owner dan tokoh di balik layar dari geng oligarki minyak tersebut.

Persoalan yang lebih penting dilakukan pemerintah adalah dengan segera bertindak cepat menurunkan harga minyak goreng di level konsumen. Apakah membongkar rantai jaringan oligarki minyak goreng dapat menurunkan harga?

Jika tidak, sebaiknya pemerintah menempuh dua jalur, satu jalur hukum dan satu jalur membangun suplai minyak goreng yang berlimpah dan terjangkau.

Dari kejadian ini, maka keberadaan BUMN yang menangani CPO khususnya untuk produksi minyak goreng sudah sangat penting didirikan. Dengan demikian, negara selain mempunyai stok untuk bisa mengendalikan harga, juga mempunyai sektor potensial untuk menambah pendapatan negara.

Untuk itu minyak goreng ini harus secara khusus bisa dimasukkan ke dalam komoditas yang dikelola oleh Badan Pangan Nasional.

Dalam kondisi pasar dikuasai oligarki, maka diperlukan goverment intervention. Jika tidak dilakukan, maka pemain-pemain minyak goreng ini sedikit mereka punya peluang memainkan harga, untuk memainkan harga setinggi-tingginya, apalagi demand dari masyarakat sangat tinggi.

Negara harus mengintervensi, dalam hal ini ujung tombaknya adalah Menteri Perdangan yang harus berani dengan tegas mengatakan kepada para oligarki bahwa negara di atas anda, dan anda harus mengikuti aturan negara.

Jika tidak, ancam dengan pencabutan izin usaha.

Pakar Kebijakan Publik dan Ketua Pusat Studi Ekonomi Politik LKEB UPN Veteran Jakarta

Populer

Kematian Penjaga Rumah Febrie Harus Diusut Tuntas

Senin, 27 Juli 2026 | 19:53

Jubir IKN Troy Pantouw Sempat Telepon Keluarga Sehari Sebelum Ditemukan Meninggal

Minggu, 26 Juli 2026 | 20:58

Putusan Eksepsi Dokter Tifa Berujung Antiklimaks

Minggu, 02 Agustus 2026 | 05:20

Oknum Brimob Jadi Tersangka, KPK Pastikan Sanksi Pidana hingga Etik Menanti

Jumat, 31 Juli 2026 | 13:44

15 Jeriken Bensin yang Menenggelamkan Jabatan Ayah

Senin, 27 Juli 2026 | 01:03

Dana Nasabah Rp2,58 Miliar Raib, BCA Digugat ke PN Jakpus

Selasa, 28 Juli 2026 | 16:02

KPK Konstruksikan Dugaan Fee Rp3,5 Miliar dari Waskita untuk Eks Ketum HIPMI

Minggu, 02 Agustus 2026 | 14:18

UPDATE

Tak Sekadar Acara Formal. Mubes BMK 1957 Hadirkan City Tour di Semarang

Senin, 03 Agustus 2026 | 12:23

BPS Catat Inflasi 2,88 Persen pada Juli 2026, Ini Biang Keroknya

Senin, 03 Agustus 2026 | 12:22

Fahira Idris Desak Pemprov DKI Perkuat Antisipasi Puncak Kemarau

Senin, 03 Agustus 2026 | 12:09

Usulan RUU LGSP MUI Jadi Ujian Keseriusan DPR dan Pemerintah

Senin, 03 Agustus 2026 | 12:06

Provokasi Bangkrut dari ‘De Volkskrant’

Senin, 03 Agustus 2026 | 12:02

Dewas Soroti Ratusan Pemberitahuan Pro Justitia KPK Terlambat Disampaikan

Senin, 03 Agustus 2026 | 11:58

Ponpes Tambakberas Libatkan Santri Jadi Relawan Muktamar NU

Senin, 03 Agustus 2026 | 11:49

Prabowo Akan Terima Kunjungan PM Thailand di Istana Merdeka Sore Ini

Senin, 03 Agustus 2026 | 11:46

Indonesia Catat Deflasi 0,14 Persen di Juli 2026, Dipicu Harga Pangan

Senin, 03 Agustus 2026 | 11:45

Tiga Masalah Utama Pemicu Turunnya Kepuasan terhadap Prabowo

Senin, 03 Agustus 2026 | 11:21

Selengkapnya