Berita

Duta Besar Rusia untuk Kerjasama Arktik, Nikolai Korchunov/Net

Dunia

Rusia: Aktivitas NATO di Kutub Utara Bisa Picu Bentrokan

SENIN, 18 APRIL 2022 | 10:16 WIB | LAPORAN: SULTHAN NABIL HERDIATMOKO

Aktivitas militer anggota NATO non-Arktik di wilayah utara dikhawatirkan dapat memicu konflik baru, dengan risiko bentrokan dengan Rusia.

Begitu yang dikatakan oleh Duta Besar Rusia untuk Kerjasama Arktik, Nikolai Korchunov, seperti dikutip dari TASS, Minggu (17/4).

Korchunov menuturkan, internasionalisasi kegiatan militer NATO di kawasan utara, di mana negara-negara non-Arktik mereka ikut terlibat, dapat menimbulkan kekhawatiran bagi keamanan di kawasan.


Bahkan menimbulkan risiko bentrokan yang tidak disengaja dengan pasukan aliansi barat di Kutub Utara.

"Ini meningkatkan risiko yang tidak disengaja. Selain dari risiko keamanan, itu juga dapat menyebabkan kerusakan serius pada ekosistem Arktik yang kini sudah rapuh," ujarnya.

Korchunov melanjutkan, jika Swedia dan Finlandia bergabung dengan NATO, itu juga akan merusak tatanan keamanan dan kepercayaan di kawasan Arktik.

“Tentu saja, ekspansi NATO dengan mengorbankan negara-negara non-blok tersebut tidak akan berkontribusi pada tatanan keamanan dan rasa saling percaya di kawasan Kutub Utara,” terangnya.

Diplomat itu mengatakan diskusi terkait masuk atau tidaknya kedua negara itu kedalam NATO masih sedang berlangsung di Stockholm dan Helsinki.

“Saya ingin mengatakan, bahwa komitmen jangka panjang Stockholm dan Helsinki terhadap kebijakan non-blok dengan aliansi militer telah menjadi faktor penting dalam stabilitas dan keamanan di kawasan Eropa Utara dan di benua Eropa secara keseluruhan," kata Korchunov.

Menurut laporan The Times, Helsinki dan Stockholm diperkirakan akan mengajukan keanggotaan pada awal musim panas.

Pada Kamis (14/4), Wakil Ketua Dewan Keamanan Rusia, Dmitri Medvedev mengatakan Rusia akan memperkuat perbatasan baratnya jika Swedia dan Finlandia bergabung dengan NATO.

“(Kalau mereka bergabung dengan NATO) tidak akan ada lagi pembicaraan tentang status non-nuklir untuk kawasan Baltik," ujar Medvedev.

Populer

MA Koreksi Kerugian Negara Kasus Korupsi Timah, Bukan Rp300 Triliun

Sabtu, 08 Agustus 2026 | 22:36

Putusan Eksepsi Dokter Tifa Berujung Antiklimaks

Minggu, 02 Agustus 2026 | 05:20

Giliran Kepemimpinan TNI Kembali Diberikan kepada Matra Laut

Sabtu, 08 Agustus 2026 | 06:27

Oknum Brimob Jadi Tersangka, KPK Pastikan Sanksi Pidana hingga Etik Menanti

Jumat, 31 Juli 2026 | 13:44

KPK Konstruksikan Dugaan Fee Rp3,5 Miliar dari Waskita untuk Eks Ketum HIPMI

Minggu, 02 Agustus 2026 | 14:18

Kerumunan Massa saat Jokowi ke NTT Direkayasa

Senin, 03 Agustus 2026 | 13:39

Wewenang Ditjen Bea Cukai Sudah Melampaui Namanya

Minggu, 02 Agustus 2026 | 02:12

UPDATE

Haji Isam Temui Seskab Teddy, Bahas Investasi Pertambangan hingga Hilirisasi

Senin, 10 Agustus 2026 | 14:17

Kolombia Ubah Sikap, Kini Akui Kedaulatan Maroko atas Sahara

Senin, 10 Agustus 2026 | 14:02

KPK Periksa 2 ASN Pemkot Bengkulu dalam Pengembangan Kasus Suap Rejang Lebong

Senin, 10 Agustus 2026 | 14:01

Jelang Sidang Tahunan MPR, Pemerintah Matangkan Persiapan Pidato Kenegaraan Prabowo

Senin, 10 Agustus 2026 | 13:56

Bitcoin Menguat Berkat Derasnya Aliran Dana ETF

Senin, 10 Agustus 2026 | 13:49

Keamanan Data Pajak Jadi Prioritas Usai Kebakaran Bapenda

Senin, 10 Agustus 2026 | 13:45

Destry Damayanti Resmi Jadi Calon Tunggal Gubernur BI

Senin, 10 Agustus 2026 | 13:36

Kejagung Periksa 16 Saksi di Kasus BGN, 10 di Antaranya Direktur Perusahaan

Senin, 10 Agustus 2026 | 13:32

Greenland Tolak Aktivitas Perusahaan AS di Tengah Ancaman Aneksasi Trump

Senin, 10 Agustus 2026 | 13:27

Gibran Jadi Presiden Solusi atau Petaka?

Senin, 10 Agustus 2026 | 13:26

Selengkapnya