Berita

Fasilitas minyak mentah cadangan AS di Texas /Net

Dunia

AS Rencanakan Pasok 180 Juta Barel Minyak Cadangannya untuk Turunkan Harga Minyak Dunia

KAMIS, 31 MARET 2022 | 23:13 WIB | LAPORAN: SULTHAN NABIL HERDIATMOKO

Amerika Serikat kini sedang mempertimbangkan untuk melepaskan 180 juta barel minyak selama beberapa bulan dari Cadangan Minyak Strategis (SPR).

Dikatakan oleh pejabat Gedung Putih pada Rabu (30/3), Gedung Putih bertujuan untuk menurunkan harga minyak dunia yang semakin tidak stabil sejak putusnya jalur minyak Rusia ke negara Barat.

Pelepasan minyak direncanakan untuk memasok 1 juta barel per hari selama enam bulan.


Negara-negara anggota dari Badan Energi Internasional (IEA) akan bertemu pada Jumat (1/4), untuk memutuskan mekanisme pemasokan minyak SPR AS itu.

Jurubicara Menteri Energi Selandia Baru, Megan Woods mengatakan, IEA dan AS bertujuan untuk menenangkan harga minyak mentah yang meningkat di tengah konflik Rusia-Ukraina.

"Jumlah potensi pembebasan kolektif belum diputuskan," ujarnya, dikutip dari Reuters.

"Pertemuan itu akan menetapkan volume total, dan alokasi per negara akan mengikuti," tambah Megan.

Meskipun tidak jelas apakah penarikan SPR itu akan menjadi bagian dari pasokan global, kabar tersebut mendorong harga minyak dunia turun lebih dari 6 dolar AS per barel, menurut data Reuters, per Kamis (31/3).

SPR AS saat ini berjumlah 568 juta barel, yakni jumlah terendah sejak Mei 2002.

Harga minyak telah melonjak sejak Rusia menginvasi Ukraina pada akhir Februari dan AS serta sekutunya menanggapi dengan sanksi berat terhadap Rusia, yakni negara pengekspor minyak mentah No.2 di dunia.

Rusia menyumbang sekitar 14 persen dari total pasokan minyak mentah dunia. Rusia mengekspor 4 hingga 5 juta barel per hari.

Menurut analisa IEA, Sanksi dan keengganan untuk membeli minyak Rusia dapat menghilangkan sekitar 3 juta barel per hari (bph) dari pasar global mulai April ini.

Akibat sanksi tersebut, kini patokan minyak mentah berjangka Brent menjadi sekitar 139 dolar AS per barel, tertinggi sejak 2008.

Tidak jelas apakah penarikan 180 juta barel SPR ini akan terdiri dari pertukaran dari cadangan yang harus diganti oleh perusahaan minyak di kemudian hari, penjualan langsung, atau kombinasi keduanya.

Gedung Putih juga tidak mengomentari terkait detil dari penarikan SPR itu.

Populer

Dicurigai Ada Peran Mossad di Balik Pengalihan Tahanan Yaqut

Senin, 23 Maret 2026 | 01:38

Kehadiran Anies di Cikeas Jadi Masalah Serius

Jumat, 27 Maret 2026 | 02:08

TNI Tegas dalam Kasus Andrie Yunus, Beda dengan Polri

Sabtu, 21 Maret 2026 | 05:03

SBY Menolak Silaturahmi Lebaran Anies?

Jumat, 27 Maret 2026 | 03:43

Polisi Diminta Profesional Tangani Kasus VCS Bupati Lima Puluh Kota

Jumat, 20 Maret 2026 | 00:50

Pertemuan Megawati-Prabowo Menjungkirbalikkan Banyak Prediksi

Sabtu, 21 Maret 2026 | 04:12

Kubu Jokowi Bergerak Senyap untuk Jatuhkan Prabowo

Rabu, 25 Maret 2026 | 06:15

UPDATE

KPK Catat 94 Ribu Pejabat Belum Lapor LHKPN

Minggu, 29 Maret 2026 | 10:20

Implementasi PP Tunas Jangan Sekadar Formalitas

Minggu, 29 Maret 2026 | 10:13

Gelombang Aksi “No Kings” Meledak di Seluruh AS, Tuntut Trump Lengser

Minggu, 29 Maret 2026 | 09:25

87 Persen Penyelenggara Negara Sudah Lapor LHKPN

Minggu, 29 Maret 2026 | 09:22

Kejagung Bongkar Praktik Tambang Ilegal Samin Tan

Minggu, 29 Maret 2026 | 09:01

Pramono Upayakan Tak Ada PHK di Tengah Wacana Pembatasan Belanja Pegawai

Minggu, 29 Maret 2026 | 08:46

Pemerintah Wajibkan Platform Digital Patuhi PP Tunas Tanpa Kompromi

Minggu, 29 Maret 2026 | 08:32

Kemenhaj Optimistis Operasional Haji 2026 Sesuai Rencana

Minggu, 29 Maret 2026 | 08:10

WFH Jumat Bisa Ciptakan Life Balance dan Tetap Produktif

Minggu, 29 Maret 2026 | 07:30

Pemprov DKI Dukung Program Presiden soal Hunian Layak Warga Rel

Minggu, 29 Maret 2026 | 07:15

Selengkapnya