Berita

Dubes Rusia untuk Indonesia, Lyudmila Vorobieva dengan CEO RMOL Network, Teguh Santosa, pada acara RMOL World View, Rabu (30/3). /RMOL

Dunia

Buka-Bukaan Soal Referendum Krimea 2014 Bersama Dubes Rusia, Lyudmilla Vorobieva

RABU, 30 MARET 2022 | 18:33 WIB | LAPORAN: SULTHAN NABIL HERDIATMOKO

Referandum Krimea tahun 2014 menjadi salah satu isu panas yang kembali dibahas di tengah invasi Rusia yang sedang berlangsung di Ukraina. Menurut Duta Besar Federasi Rusia untuk Indonesia, Lyudmila Vorobieva, kemenangan kelompok masyarakat Krimea yang ingin memisahkan diri dari Ukraina, sebesar 97 persen, adalah fakta yang tak terbantahkan.

Namun, masih ada yang curiga bahwa kemenangan kelompok anti-Ukraina itu atas campur tangan Rusia. Atau setidaknya karena penduduk asli Kriema yang dikenal sebagai Tatar Krimea, telah lama meninggalkan tanah kelahiran mereka itu, dan Krimea telah diisi oleh orang Rusia.

Atas kecurigaan ini, Dubes Lyudmila Vorobieva menggeleng-gelengkan kepala sambil tersenyum kecut.


“Saya bahkan  tidak tahu harus bagaimana memberikan respon mengenai hal tersebut. Itu adalah salah satu distorsi sejarah yang paling buruk yang pernah saya dengar. Krimea adalah bagian dari Rusia di abad ke-18. Penduduk asli Krimea adalah suku Tatar, di saat itu mereka juga merupakan bagian dari Rusia,” ujar Lyudmilla, berbicara dalam acara RMOL World View, di Kopi Timur, Jakarta, Rabu (30/3).
Lyudmila menjelaskan, untuk waktu yang sangat lama, etnis Tatar dan etnis Rusia hidup bertetanggaan, dan tentunya populasi etnis Rusia juga makin bertambah. Di tahun 2014, etnis Tatar dan Rusia di Krimea justru merasa terancam oleh pendekatan berbau Nazi yang dilakukan pemerintah Ukraina.

"Inilah yang mendorong mayoritas masyarakat Krimea ingin melepaskan diri dari Ukraina," ujar  Dubes Lyudmila kepada CEO RMOL Network, Teguh Santosa, yang memandu talkshow.
“Mereka (etnis Tatar dan Rusia) merasa terancam dengan kehadiran kelompok Nazi itu. Mereka (Ukraina) membunuh etnis Tatar dan Rusia karena mereka tidak menganggap mereka layaknya seperti manusia. Itu adalah inti dari ideologi mereka, yakni ras unggul Ukraina, dan ras resesif Rusia dan Tatar,” tegas Lyudmilla.

Dubes Lyudmilla, menambahkan kelompok Nazi semakin kuat dan sampai-sampai Presiden Victor Yanucoivich dikudeta oleh kelompok yang mendapatkan dukungan dari Barat .

“Sejak itu pemerintahan yang Russianphobic berkuasa di Ukraina. Tidak hanya dalam hal anti-Rusia (sebagai negara), tapi juga dalam anti-rusia terhadap populasi mereka sendiri. Anda harus paham, kami sangat dekat (dengan orang Ukraina), orang mereka juga paham bahasa Rusia. Kami adalah saudara, secara praktis kami satu bangsa. 40 persen populasi ukraina berpikir bahwa mereka adalah orang rusia, etnis rusia. Berbahasa Rusia pula,” tambah Lyudmila.

Mengenai bahasa Rusia di Krimea, Lyudmila yang lahir di Ukraina mengatakan, di jaman tersebut orang-orang di jalanan bisa dibantai jika berbicara menggunakan bahasa Rusia.

“Bukan hanya kekerasan terhadap budaya, namun juga kekerasan fisik. Orang Krimea bisa diserang jika menggunakan bahasa Rusia disaat itu,” ujarnya.

Tersiksa dari tindakan represif tersebut, akhirnya Rusia mencoba untuk imensponsori perdamaian. Namun Ukraina malah mengrimkan pasukan militernya. Akhirnya, Rusia juga mengirimkkan pasukan untuk menjaga warga Krimea yang berbahasa Rusia.

Kejadian ini akhirnya berujung pada referendum Krimea, di mana Krimea resmi menjadi bagian dari Federasi Rusia. Sejak itu pasukan Rusia aktif menjaga Krimea beserta warganya, ujar Lyudmila.

“Tidak lama dari Referendum Krimea, Donetsk dan Luhansk juga mendeklarasikan sebagai negara independen. Namun kami tidak menyetujuinya. Sejak itu mereka berusaha untuk mempertahankan dirinya, yang disebut sebagai Civil War 2014,” pungkas Lyudmila.

Akhirnya kini Rusia telah mengakui status Donetsk dan Luhansk sebagai negara independen.


Populer

Polisi Gunakan Senjata Baru OTT, 21 Kepsek Diamankan

Senin, 21 September 2026 | 03:25

Djaka Budhi Diuntungkan Berkat Menkeu Baru Suahasil Nazara

Minggu, 20 September 2026 | 14:18

Syukur Mandar Dicopot, Gerakan Oposisi Tegaskan Organisasi Bukan Milik Pribadi

Minggu, 20 September 2026 | 18:58

Serahkan Bukti Dugaan Politik Uang Muktamar ke-35 NU, KPK NU Desak KPK Usut Nusron Wahid

Jumat, 25 September 2026 | 14:51

TNI Tegaskan Lahan Teuku Umar No. 2 Aset Negara

Jumat, 25 September 2026 | 22:39

Ahmad Dedi Dikabarkan Jadi Tersangka Baru Kasus Suap Bea Cukai

Senin, 21 September 2026 | 13:33

Gugatan Denny Indrayana Sia-sia, cuma Bikin Gaduh

Sabtu, 26 September 2026 | 02:36

UPDATE

Tertekan Lonjakan Minyak, Harga Emas Dunia Anjlok ke Level 4.254 Dolar AS

Senin, 28 September 2026 | 08:30

Iran Siap Hadapi "Perang Kiamat" dengan AS

Senin, 28 September 2026 | 08:12

Jalan Terbuka Bagi Dividen BEI: Proses Demutualisasi Masuki Tahap Pengkajian Saham

Senin, 28 September 2026 | 07:52

Halal Jangan Berhenti di Sertifikat

Senin, 28 September 2026 | 07:38

IAMI Lahir di Jakarta, Nasaruddin Umar Jadi Presiden Pertama

Senin, 28 September 2026 | 07:07

APH Harus Turun Tangan Tertibkan Tarif Parkir Tak Wajar

Senin, 28 September 2026 | 07:05

Kejagung Didesak Bongkar Mata Rantai Uang Chromebook

Senin, 28 September 2026 | 06:47

Pagar Nusa Kukuhkan 25 Kader Pasukan Inti di Taiwan

Senin, 28 September 2026 | 06:42

Indonesia Ikut Ajang WSC 2026 di Shanghai, Ini Manfaatnya

Senin, 28 September 2026 | 06:20

Ekosistem Logistik di Kawasan Timur Masih Penuh Tantangan

Senin, 28 September 2026 | 05:54

Selengkapnya