Berita

Ketua KPK RI Filri Bahuri/Net

Publika

Catatan Firli Bahuri: Saya Ingin Tampak Apa Adanya

SENIN, 14 MARET 2022 | 09:13 WIB | OLEH: H. FIRLI BAHURI

SELAMAT malam kawan-kawan. Menemani akhir pekan para sahabat, saya ingin membuat catatan yang ringan tetapi sangat terkait dengan hal-hal yang saya alami setiap hari dalam tugas. Ada soal perasaan saja sih.

Saya ingin garisbawahi soal konsekuensi tugas itu karena catatan ini bisa menggambarkan perbedaan saya dengan orang lain.

Intinya saya ingin nampak apa adanya. Saya tidak suka sok istimewa karena saya  ini hanya anak kampung yang miskin pada dasarnya.


Saya tidak mau berlebihan karena saya sadari seorang aparat penegak hukum dan penegak keadilan harus berlaku adil sejak niat dan pikiran. Dan saya anggap pengistimewaan diri adalah awal dari tindakan tidak adil.

Itu prinsip yang saya ingin tegakkan dalam tugas saya sehari-hari. Karena itu saya ingin menanggapi berbagai isu tentang saya secara adil dengan menimbang seluruh situasi yang meliputinya.

Pertama, tentang orang-orang yang menilai saya. Di satu sisi ada yang mendukung, di sisi lain ada yang tidak mendukung; ada yang suka, ada yang tidak suka; ada yang cinta dan ada yang benci.

Saya menganggap itu semua wajar karena dalam seluruh tugas saya sekarang penuh dengan expose dan pemberitaan.

Saya pernah bertugas dalam peran-peran yang lebih berat tetapi saya tidak dikenal oleh masyarakat karena dalam tugas tersebut tidak mewajibkan saya untuk dikenal apalagi populer.

Tapi sekarang saya tidak bisa menghindari popularitas karena setiap hari saya memimpin lembaga yang sangat populer. Maka nama saya, baik sebagai pribadi maupun sebagai pemimpin lembaga, ikut terseret popularitas. Adalah tidak wajar apabila kita menghindari fakta ini.

Kedua, saya ingin mengomentari secara adil misalnya adanya kelompok atau orang atau siapa saja yang menilai dan memantau tindak perilaku saya sebagai pribadi dan sebagai pimpinan lembaga.

Suatu yang saya syukuri sekarang adalah karena saya memimpin untuk pertama kalinya KPK setelah UU-nya direvisi. Kini, KPK menjadi lembaga negara dalam rumpun eksekutif dan dalam pelaksanaan tugas dan wewenangnya tidak terpengaruh kekuasaan manapun, walaupun dengan pengawasan yang sangat ketat.

Sejak awal kami berkeyakinan bahwa semakin diawasi, kita tidak semakin buruk. Justru kita semakin baik karena dengan pengawasan kita menjadi terdorong untuk menyerahkan yang terbaik yang sanggup kita lakukan dalam pengawasan dan batas- batas yang ada.

Jika kita tidak diawasi boleh jadi kita hanya menerima tepuk tangan dan pujian, padahal kita sedang melakukan kesalahan, yang kesalahan itu akan menjadi beban mereka mereka yang datang setelah kita.

Maka, mental diawasi ini sangat baik bagi saya dan juga bagi seluruh pegawai KPK.  Kami bisa saja membela diri atas kritik dengan mengatakan adanya serangan balik dari koruptor, tapi itu sikap yang tidak ksatria!

Memang ada orang yang karena merasa sudah melakukan hal yang benar lalu merasa tidak ingin diawasi. Ini bertentangan dengan prinsip check and balances dalam demokrasi kita.

Ketiga, belakangan ada yang mempersoalkan munculnya semacam dukungan politik kepada saya berupa spanduk,  media sosial, pernyataan emak-emak di kampung dan lain lain.

Sekali lagi saya justru memandang bahwa itulah akibat dari hal hal yang saya sampaikan di awal.

Saya tidak punya hubungan dengan orang orang yang mengenal saya dari jarak jauh; ada yang membenci ada yang menyayangi. Semuanya sudah di luar kendali saya.

Keempat, maka apapun yang saya lakukan menjadi cenderung sangat dinilai dan dikritisi.

Saya mengajak seluruh anak bangsa untuk terlibat dalam upaya membangun budaya antikorupsi, menghindari perilaku koruptif. Semua dilakukan untuk membersihkan NKRI dari praktik praktik korupsi. Semua menjadi ramai sekali lagi karena saya tidak bisa menghindar menjadi pribadi yang disorot dengan mata yang lebih tajam dari hari ke hari.

Bahkan istri saya pun, ikut disorot. Beliau yang mencintai seni dan musik itu, karena rasa bangganya menjadi bagian dari kerja pemberantasan korupsi di KPK lalu menciptakan lagu yang merupakan hak setiap warga negara untuk mencipta. Juga memperoleh kritik.

Dan lagu itu telah didaftarkan tahun lalu di Direktorat Hak Cipta Kemenkumham. Lalu pencipta lagu itu menyumbangkannya  kepada lembaga tempat saya bekerja dan lembaga menerima lagu itu dengan sebuah ucapan terima kasih.

Saya terima kritik ini, termasuk kritik kepada pencipta lagu itu dan tentu saya tidak akan menghindar apabila itu semua demi kebaikan bangsa dan negara saya akan teruskan.

Saya ingin tetap menjadi manusia biasa, menjadi Patriot bangsa yang bekerja untuk Indonesia Raya.

Makanya saya menulis Firli Bahuri untuk Indonesia. Saya singkat FBI pun menjadi sorotan. Padahal saya sampaikan itu semua untuk mengingatkan diri saya bahwa saya dalam pengabdian kepada Indonesia Raya.

Saya memimpin sebuah lembaga yang saya harus jaga reputasi dan kehormatannya, tetapi saya tidak ingin yang bekerja di lembaga itu menjadi manusia yang berbeda. Kita adalah manusia biasa yang berusaha menegakkan hukum dan etika dalam tugas kita sebagai manusia biasa, sebagai warga dan sebagai hamba Tuhan Yang Maha Kuasa.

Saya tidak ingin menjadi manusia yang kaku, yang membenci pergaulan hanya karena pada dasarnya tidak memahami arti dari kehormatan dan jiwa besar.

Saya percaya Indonesia dapat menjadi negara yang bersih dari korupsi bukan karena pencitraan tapi karena tegaknya sistem hukum dan keadilan di semua lini kehidupan kita.

Demikian catatan ringan saya mendampingi sahabat menjalani akhir pekan yang ber bahagia. Terima kasih atas perhatiannya. Merdeka!

Penulis adalah Ketua Komisi Pemberantasan Korupsi (KPK) RI.

Populer

Menko Yusril: Mundur dari Jabatan, Tak Gugurkan Tanggung Jawab Hukum Mashudi

Jumat, 02 Oktober 2026 | 19:13

Firli Bahuri Sandang Gelar Doktor Hukum, Raih Gelar Summa Cumlaude

Sabtu, 03 Oktober 2026 | 16:33

KPK Dalami Dugaan Aliran Rp3,5 Miliar ke Eks Ketum HIPMI

Minggu, 27 September 2026 | 11:44

Legislator PAN Minta Menteri Imipas Tangguhkan Pengunduran Diri Dirjenpas Mashudi

Jumat, 02 Oktober 2026 | 17:36

Gugatan Denny Indrayana Sia-sia, cuma Bikin Gaduh

Sabtu, 26 September 2026 | 02:36

Gaji 26 Wantimpres Prabowo Tembus Rp1,9 Miliar Tiap Bulan, Belum Termasuk Fasilitas

Sabtu, 03 Oktober 2026 | 19:06

Jenderal Dedi Langsung Tancap Gas Siapkan Struktur Organisasi BRAN

Jumat, 02 Oktober 2026 | 01:43

UPDATE

Ini Pesan Denny Indrayana Jelang Putusan MK

Selasa, 06 Oktober 2026 | 16:23

IHSG Melesat 1,21 Persen, Rupiah Jauhi Rp18.000 per Dolar AS

Selasa, 06 Oktober 2026 | 16:12

Menhaj Godok Kunjungan Wisata Jemaah Haji dan Umrah ke Yordania

Selasa, 06 Oktober 2026 | 16:11

Prabowo Hadiri Penyerahan Uang Sitaan Negara Rp13,2 Triliun di Kejagung

Selasa, 06 Oktober 2026 | 16:09

Penempatan Manajer Sesuai Karakter Wilayah Jadi Kunci Keberhasilan Kopdes

Selasa, 06 Oktober 2026 | 16:04

Komisi III DPR Dukung Perombakan Pejabat Polri untuk Regenerasi

Selasa, 06 Oktober 2026 | 15:58

Komoditas Pangan Jadi Penyumbang Utama Inflasi di Jakarta

Selasa, 06 Oktober 2026 | 15:50

Ferry Juliantono Dorong Kolaborasi Kampus dan Pemda Kembangkan Koperasi

Selasa, 06 Oktober 2026 | 15:44

KPK Ingatkan Nusron Wahid soal Kewajiban Hadiri Panggilan Penyidik

Selasa, 06 Oktober 2026 | 15:40

Penampakan Tumpukan Uang Sitaan Negara Rp13,2 Triliun di Kejagung

Selasa, 06 Oktober 2026 | 15:39

Selengkapnya