Berita

Dewan Pakar Masyarakat Ilmu Pemerintahan Indonesia (MIPI), Prof Nurliah Nurdin/Repro

Politik

Jokowi Biarkan Wacana Pemilu Ditunda Terus Bergulir, Pakar: Itu Mencederai Demokrasi!

RABU, 09 MARET 2022 | 12:03 WIB | LAPORAN: FAISAL ARISTAMA

Pernyataan Presiden Jokowi yang membolehkan adanya usulan penundan Pemilu 2024 justru dinilai mencederai demokrasi. Pasalnya, jika usulan yang disampaikan oleh beberapa petinggi partai politik itu dibiarkan, bisa mempengaruhi keputusan politik.

Begitu disampaikan Dewan Pakar Masyarakat Ilmu Pemerintahan Indonesia (MIPI), Prof Nurliah Nurdin, saat menjadi narasumber dalam webinar bertajuk "Telaah Kritis Usul Perpanjangan Masa Jabatan Presiden dan Wakil Presiden", Rabu (9/3).

"The problems, memang dari berbagai sumber ya kita membaca juga, konstitusi mengatakan hanya dua periode. Pertanyaannya, bisakah diubah? Bisa," kata Nurliah.


Nurliah lantas mengurai kenapa wacana penundan Pemilu bisa membuka peluang perpanjangan masa jabatan Presiden Joko Widodo (Jokowi). Menurutnya, kini Indonesia dalam posisi pemerintahan yang unified government.

Di negara dengan sistem presidensial ini, unified government adalah suatu pemerintahan di mana bendera eksekutif dan bendera legislatif itu sama. Sehingga, majority-nya sama.

"Jadi, pendukung di eksekutif itu ya juga sama benderanya dengan pendukung di legislatif, dengan kata lain oposisi lemah, maka bisa (mengubah konstitusi)," urai Direktur Politeknik STIA LAN Jakarta ini.  

Hal itu, lanjut Nurliah, sangat bisa buktikan dengan banyaknya UU yang disahkan oleh DPR bersama pemerintah tanpa melalui melalui perdebatan yang panjang di parlemen.

"Tahun 2020 lahir UU yang sangat penting Omnibus Law, Minerba, atau IKN. Itu kan tidak banyak perdebatan. Jadi, oposisinya tidak begitu banyak tampak membicarakan itu, karena memang oposisinya lemah," sesalnya.

Atas dasar itu, Nurliah menyebut pernyataan Presiden Jokowi yang membiarkan wacana penundaan Pemilu 2024 sama saja memberikan kesempatan kepada para pejabat politik bagi eksekutif maupun legislatif di tingkat nasional maupun tingkat lokal untuk menambah durasi kekuasaannya tanpa melalui proses Pemilu.

"Kita mengatakan ini berdemokrasi? Ini sudah mencederai sendiri demokrasi," tegasnya.

Turut hadir dalam webinar tersebut antara lain Sekretaris Umum PP Muhammadiyah, Prof Abdul Mu'ti, dan Direktur Eksekutif Lingkar Madani (LIMA) Indonesia, Ray Rangkuti. 

Populer

Ketika Jenderal Memimpin yang Bukan Bidangnya

Kamis, 04 Juni 2026 | 00:15

Nama Raffi Ahmad Muncul di Sidang Blueray Cargo, Pengacara Minta Pemeriksaan Menyeluruh

Minggu, 07 Juni 2026 | 21:11

Tiga Pensiunan Jenderal Nyungsep Gegara Tersandung Kasus

Jumat, 05 Juni 2026 | 03:16

Jaksa KPK Ungkap Dirjen Bea Cukai Djaka Budi Utama Terima Rp3 M per Bulan

Jumat, 12 Juni 2026 | 18:11

Langsung Terbang ke Jakarta, Maukah Chatib Basri Ganti Purbaya?

Jumat, 05 Juni 2026 | 06:58

Ironis! Terima Penghargaan Negara tapi Terjerat Korupsi

Jumat, 05 Juni 2026 | 01:00

OTT Lanjutan KPK Tangkap 5 Pegawai BPK

Rabu, 10 Juni 2026 | 17:09

UPDATE

KPU akan Berulang Tahun ke-73 di November Tahun Ini

Minggu, 14 Juni 2026 | 12:22

Nasib Atlet Setelah Lampu Stadion Padam

Minggu, 14 Juni 2026 | 11:33

Trump: Perjanjian Damai dengan Iran akan Diteken Hari Ini

Minggu, 14 Juni 2026 | 11:33

Pemuda 24 Tahun Jadi Tersangka Usai Bawa Botol Diduga Bom Molotov ke Aksi DPR

Minggu, 14 Juni 2026 | 11:25

Ekonom Ungkap Akar Munculnya Narasi "Sell Indonesia"

Minggu, 14 Juni 2026 | 10:41

KPK Bongkar Korupsi "Sempurna" di Muara Enim

Minggu, 14 Juni 2026 | 10:39

Panggung Atraksi Wushu di Sekolah Rakyat Manado Pukau Mensos

Minggu, 14 Juni 2026 | 10:01

Daya Beli Masyarakat Terancam Jika BBM Subsidi Ikut Naik

Minggu, 14 Juni 2026 | 09:51

KPK Amankan Dokumen saat Geledah Kantor Hingga Rumah Dinas Bupati Muara Enim

Minggu, 14 Juni 2026 | 09:44

Menhan Jepang Persembahkan Model Kapal Perang "Makasa" ke Prabowo di Kertanegara

Minggu, 14 Juni 2026 | 09:31

Selengkapnya