Berita

Diagram survei kepuasan publik terhadap kinerja pemerintah/Net

Publika

Tentang Fantasi Kepuasan

SENIN, 07 MARET 2022 | 12:50 WIB | OLEH: YUDHI HERTANTO

GADUH! Bukan politik namanya kalau tidak penuh dengan kegaduhan. Titik mulanya diawali dengan hasil survei tentang kepuasan publik.

Hasil pengukuran jajak pendapat itu, memperlihatkan hasil yang tinggi. Sebagian bertanya akan validitas hasil tersebut, terlebih dalam situasi pandemi.

Pada kondisi di mana publik berhadapan dengan berbagai kelangkaan barang, serta kenaikan harga kebutuhan konsumsi. Satu hal yang tidak dapat dipungkiri, bila survei merupakan metode ilmiah untuk melakukan kuantifikasi atas berbagai tema. Secara alamiah, survei mengandung pula eror di dalamnya.


Sebuah survei memiliki potensi kesalahan, bahkan dimulai dari tahap awal yakni penentuan sampel, lalu terakumulasi di dalam eror pengolahan data, hingga bias kesimpulan. Keseluruhan kesalahan tersebut bisa terjadi, baik secara tidak sengaja, maupun dipengaruhi berbagai faktor lain.

Kita sejenak tinggalkan perdebatan mengenai survei, untuk kemudian melihat lebih dalam terkait apa yang dimaknai sebagai kondisi rasa puas publik. Bahwa kepuasan dalam kalkulasi rasio, adalah perbandingan antara hal yang dikehendaki, dikomparasikan pada apa yang diterima.

Dengan begitu, keinginan untuk hidup sejahtera harus diimbangi dengan kenyataan yang serupa, barulah puas dan kepuasan itu muncul sebagai sebuah ekspresi.

Bagaimana dengan kisruh Wadas? Atau keluh kesah emak-emak berburu minyak goreng, ditengah harga tempe dan daging yang naik?

Di sisi lain, para pengambil kebijakan berbicara dalam bahasa pembungkus yang seolah mendamaikan situasi. Kesenjangan permintaan dan pasokanlah yang menyebabkan terjadinya kelangkaan barang. Koreksi harga merupakan konsekuensi, akibat dari eskalasi harga komoditi. Bersilat kata.

Katakanlah kepuasan memang terjadi, sebagaimana kesimpulan survei, tetapi publik memiliki sensitivitas sosial yang dapat melihat, melalui apa yang terjadi dalam keseharian kehidupan bahkan berdasarkan muatan pemberitaan media. Hari-hari ini jauh dari kepuasan, tengok respon publik atas kebijakan JHT?

Dampak Bias Kesimpulan

Jika angka kepuasan itu demikian tinggi, berdasarkan hasil survei. hal tersebut mudah saja menjadi sarana untuk mengambil celah dalam pentas politik. Survei memang menjadi alat bagi pertarungan opini dan kepentingan. Dalam bahasa pemasaran produk, kalau sudah puas, buat apa cari yang lain?

Temuan lembaga survei lalu diolah menjadi perangkat informasi yang mendukung bagi upaya mempertahankan status quo. Pandemi menjadi alasan, penundaan waktu pemilihan dikumandangkan, setelah sebelumnya diusulkan penambahan periode masa kekuasaan. Berbagai jalan ditempuh.

Hakikat politik pada akhirnya tentang kursi kekuasaan. Padahal sejatinya, pemilik kekuasaan tertinggi adalah publik itu sendiri, dengan begitu politik seharusnya dan tidak lain menjadi upaya bagi pemenuhan kepentingan publik, dibandingkan artikulasi hasrat dan ambisi elite dan oligarki.

Dengan itu, kita semakin dapat memahami bilamana hasil survei dan bias kesimpulan dapat menjadi pembuka langkah untuk kepentingan yang bersifat destruktif. Demokrasi pasca reformasi menempatkan limitasi waktu kekuasaan.

Tetapi di situ pula ironi demokrasi, ketika kekuasaan di berbagai jalur sudah padu pada kepentingan yang sama, maka publik hanyalah menjadi catatan pinggir penyerta.

Lalu apakah bagaimana dengan soal kepuasan di hasil survei tadi? Kita perlu bertanya pada diri sendiri, sudahkah kepuasan bersama itu mewujud?

Sebagaimana konstitusi menyebut tentang kemerdekaan yang menjadi pintu gerbang bagi kesejahteraan, kemakmuran dan keadilan. Jangan-jangan kepuasan semu terjadi.

Populer

Polisi Gunakan Senjata Baru OTT, 21 Kepsek Diamankan

Senin, 21 September 2026 | 03:25

Serahkan Bukti Dugaan Politik Uang Muktamar ke-35 NU, KPK NU Desak KPK Usut Nusron Wahid

Jumat, 25 September 2026 | 14:51

TNI Tegaskan Lahan Teuku Umar No. 2 Aset Negara

Jumat, 25 September 2026 | 22:39

Ahmad Dedi Dikabarkan Jadi Tersangka Baru Kasus Suap Bea Cukai

Senin, 21 September 2026 | 13:33

KPK Dalami Dugaan Aliran Rp3,5 Miliar ke Eks Ketum HIPMI

Minggu, 27 September 2026 | 11:44

Gugatan Denny Indrayana Sia-sia, cuma Bikin Gaduh

Sabtu, 26 September 2026 | 02:36

Silfester Langsung Dicopot dari Jabatan Komisaris Independen Anak Usaha Pelindo

Kamis, 24 September 2026 | 20:07

UPDATE

Jenderal Dedi Langsung Tancap Gas Siapkan Struktur Organisasi BRAN

Jumat, 02 Oktober 2026 | 01:43

Insentif SPPG Dipangkas, Wamenkeu Senang MBG Terus Lakukan Reformasi

Jumat, 02 Oktober 2026 | 01:15

Putra Pandeglang jadi Kapolri, Sejarah Baru bagi Banten!

Jumat, 02 Oktober 2026 | 00:43

Dana Kopdes Rp37 Triliun Sudah di Himbara, Tapi Masih Dikunci Kemenkeu

Jumat, 02 Oktober 2026 | 00:20

Bupati Gowa Tidak Ditahan Usai Diperiksa sebagai Tersangka, Ini Sebabnya

Kamis, 01 Oktober 2026 | 23:18

Muhadjir Effendy Menyesal Tak Bisa Maksimal Dongkrak Kesejahteraan Guru

Kamis, 01 Oktober 2026 | 22:33

Kasus Alpriado Osmond Diputus PN Tangerang, Hak Asuh Anak Dimenangkan Ibu

Kamis, 01 Oktober 2026 | 22:06

Saatnya Mahasiswa Kritisi Sistem Dominasi "Fraksi" di Parlemen

Kamis, 01 Oktober 2026 | 21:42

Pertamina Patra Niaga Salurkan LPG 3 Kg ke 958 Kopdes Merah Putih

Kamis, 01 Oktober 2026 | 21:31

Asesmen jadi Fondasi Pembinaan Warga Binaan Lapas Cianjur

Kamis, 01 Oktober 2026 | 21:03

Selengkapnya