Berita

Foto saat Presiden Ukraina Volodymyr Zelensky mengajukan permohonan resmi untuk bergabung dengan Uni EropaMetro

Dunia

Ukraina Resmi Mengajukan Diri untuk Gabung Uni Eropa, Minta Jalur Cepat demi Lawan Rusia

SELASA, 01 MARET 2022 | 01:44 WIB | LAPORAN: AMELIA FITRIANI

Di tengah ketegangan yang meningkat di Ukraina, usai Rusia melancarkan aksi militer, Presiden Ukraina Volodymyr Zelensky mengajukan permohonan agar Ukraina bergabung dengan Uni Eropa (UE).

Dia meminta agar ada "jalur cepat" untuk bisa bergabung dengan UE, demi membantu membantu negaranya melawan pasukan Rusia dengan memperkuat hubungannya dengan Barat.

Sebuah gambar yang diunggah di media sosial menunjukkan Zelensky menandatangani aplikasi resmi di meja dengan barikade dalam ruangan di belakangnya.


"Presiden Volodymyr Zelenskytelah menandatangani aplikasi untuk keanggotaan Ukraina di Uni Eropa. Ini adalah momen bersejarah," begitu cuitan yang dipublikasikan di kantor kepresidenan Ukraina.

Sementara itu, dikabarkan media Inggris Metro pada Senin (28/2), Zelensky sebelumnya mengungkapkan bahwa dia telah meminta UE untuk aksesi segera melalui prosedur khusus baru.

“Tujuan kami adalah untuk bersama dengan semua orang Eropa dan, yang paling penting, berada pada pijakan yang sama,” katanya di saluran Telegramnya.

"Saya yakin itu adil. Saya yakin itu mungkin," sambungnya.

Dia juga mengkonfirmasi bahwa dirinya telah berbicara dengan para pemimpin UE tentang prospek bergabung.

Langkah terbaru Ukraina itu dilakukan tidak lama setelah Presiden Komisi Eropa Ursula von der Leyen mengatakan bahwa UE ingin Ukraina bergabung, pada akhir pekan kemarin.

"Mereka (Ukraina) adalah salah satu dari kami dan kami ingin mereka masuk," katanya.

Tetapi meskipun mendukung Ukraina untuk keanggotaan UE, dia tidak memberikan indikasi bahwa itu akan menjadi aksesi cepat yang diminta oleh para politisinya.

Belum jelas seperti apa prosedur khusus dalam praktiknya dan apakah para pemimpin Eropa akan menyetujui opsi jalur cepat tersebut untuk Ukraina.

Keputusan untuk menambahkan negara baru ke UE terletak pada negara-negara anggota yang sudah mapan, yang tidak selalu setuju dengan pandangan Komisi.

Populer

Permohonan Pengosongan Rumah Anak Zulhas Diajukan ke PN Jaktim

Rabu, 01 April 2026 | 18:05

Kehadiran Anies di Cikeas Jadi Masalah Serius

Jumat, 27 Maret 2026 | 02:08

Mengapa Kapal Pertamina Tidak Bisa Lewat Selat Hormuz?

Sabtu, 28 Maret 2026 | 02:59

SBY Menolak Silaturahmi Lebaran Anies?

Jumat, 27 Maret 2026 | 03:43

Nasib Hendrik, SPPG Ditutup, 150 Karyawan Diberhentikan

Jumat, 27 Maret 2026 | 06:07

Dubai Menuju Kota Hantu

Selasa, 31 Maret 2026 | 13:51

KPK Klaim Status Tahanan Rumah Yaqut Sesuai UU

Jumat, 27 Maret 2026 | 12:26

UPDATE

Menteri Ekraf: Kreativitas Tak Bisa Dihargai Nol atau Dipatok

Jumat, 03 April 2026 | 20:06

Pelaku Penembakan Rombongan Tito Karnavian Diringkus

Jumat, 03 April 2026 | 19:59

Harga Plastik Dalam Negeri Meroket, Ini Kronologinya

Jumat, 03 April 2026 | 19:42

Kapolda Riau Perketat Penanganan Karhutla Hadapi Ancaman Super El Nino

Jumat, 03 April 2026 | 19:18

Upacara Penghormatan UNIFIL untuk Tiga Prajurit TNI di Lebanon

Jumat, 03 April 2026 | 19:01

Labirin Informasi pada Perang Simbolik

Jumat, 03 April 2026 | 18:52

KPK Siapkan Pemeriksaan Ono Surono Usai Penggeledahan

Jumat, 03 April 2026 | 18:35

BNPB: Tidak Ada Tambahan Korban Gempa Magnitudo 7,6 Sulut dan Malut

Jumat, 03 April 2026 | 18:31

Resiliensi Bangsa: Dari Mosi Integral 1950 hingga Geopolitik Kontemporer 2026

Jumat, 03 April 2026 | 18:03

FWP Polda Metro Hibur Anak Yatim ke Wahana Bermain

Jumat, 03 April 2026 | 17:45

Selengkapnya